Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
0
Posted by Unknown in
So? Udah ketemu cewek yang oke belum, Ren?” Tanyanya tiba-tiba, mengganti topik pembicaraan.
“Hmm, belum.”
“Mau aku kenalin ke temenku nggak?” Kali ini dia bertanya sambil cengar-cengir.
Ah, mulai lagi deh. “Boleh. Ada yang oke?”
“Eh, temenku oke semua tauk. Tapiii, kurusan lho, lebih kurus dari aku.”
“Hah? Nggak mau ah.”
“Hmm.. kalau yang agak chubby? Cantik loh.”
“Enggg.. Nggak deh. Yang kaya kamu aja ada nggak?”
“Kalo yang kaya aku ya nggak ada. Aku kan nggak ada duanya.” Aku hanya bisa memandangnya sambil tersenyum dan mengangguk, sementara dia tertawa.
Dia melirik jam tangannya, kemudian mulai memasukkan novel bacaannya ke dalam tas, “Aku tinggal dulu ya, Ren. Mau pergi sama Amin. Daah..” Dia berlalu begitu saja. Aku, lagi-lagi, hanya bisa tersenyum.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

EmonAlisa

Posted by Black Sakura in

Awalnya mungkin kita tidak pernah menyadari betapa banyak kekurangan kita sebelum seseorang atau mungkin banyak orang mengingatkan kita betapa kita banyak memiliki kekurangan. Hal itu pula yang dialami oleh Emon. Pada awalnya dia sangatlah percaya diri akan apapun yang dimilikinya. Bukannya saya ingin bilang kalau percaya diri buruk sih, saya cuma ingin menyampaikan bahwa kepercayaan diri pun harus diimbangi dengan kesadaran akan kenyataan hidup. Kenyataan bahwa anda memang bokek, misalnya. Atau kenyataan bahwa anda tidak cukup ganteng untuk melamar menjadi foto model. Terkadang orang yang terlampau percaya diri membawanya pada ‘kebutaan’ akan ketidaksempurnaan diri begitu pula sebaliknya, terlalu rendah diri pun akan menimbulkan ‘kebutaan’ akan kemampuan diri sehingga kita pun lupa untuk bersyukur. Di mana-mana memang keseimbanganlah yang paling baik.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Ceritaku di Minggu Sore

Posted by Faril Lukman in
"Goooolll!!!"
Penonton di tribun bersorak ramai menyambut gol dari tendangan bebas yang baru saja terjadi, termasuk aku yg berada di bangku kedua dari depan..
"Wow, gol yang hebat." terdengar suara wanita di sebelah kananku.
"Tentu saja, dia anakku." kataku bangga tanpa menoleh tanpa melirik.
"Benarkah?"
"Iya. Si kapten dengan nomor punggung 10 adalah anak pertamaku." jelasku.
"Wow. Jika anaknya sehebat dan setangguh itu, pasti ayahnya juga."
"Tentu. Aku seorang pekerja keras, anakku meniru sifatku itu."
"Bekerja di mana Anda?" tanyanya tak serius dan terdengar asal-asalan.
"Aku bekerja di perpustakaan. Perpustakaan milikku sendiri. Dan aku juga pengarang buku."
"Wow, pasti Anda sibuk sekali. Buku apa saja yang Anda tulis?"
"Sudah banyak novel yg kubuat dan terjual laris di dunia. Bahkan jadi best-seller. Sering ke luar negeri untuk acara bedah buku"
"Wow, pasti Anda sukses banget. Sesibuk itu tapi masih sempat menonton pertandingan bola anak Anda ya."
"Tentu saja, anak itu sangat penting. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan anak."
"Wow, Anda sangat bijak. Lalu, di mana istri Anda?"
Aku semakin penasaran dengan raut wajah wanita yang daritadi banyak bertanya padaku: apa mungkin dia tertarik padaku. Kutengok ke kanan, seorang wanita beralis tebal duduk dengan anggun di sampingku. Cantik, menurut pandanganku. Merasa diperhatikan dan pertanyaannya belum kujawab, dia menoleh ke arahku. Dia seperti menunggu jawabanku.
"Kamu terlalu banyak bertanya, sayang." jawabku sekenanya.
"Dan kamu terlalu banyak mengkhayal, sayang." bisiknya.
"Hahaha, apa kamu nggak suka punya..... "
Goooolll. Pertanyaanku dipotong suara tribun menyambut gol yang barusan tercipta.
"Wow, anak kita benar-benar hebat. Dia mencetak gol lagi," teriaknya.
Gol tadi menyudahi pertandingan bola antar-SD. Penonton pun beringsut meninggalkan bangku mereka. Aku segera menggandeng gadis di sebelah kananku tadi untuk mengajaknya pulang. Sesampai di gerbang, aku menghentikan langkah kami.
"Tidak menunggu anak kita?" tanyaku mengingatkannya. Dia hanya tersenyum.
"Jangan mengkhayal lagi deh."
"Ibuuuu...."
Kami menoleh bebarengan, si kapten tim berlari ke arah kami. Kaget, aku saling pandang dengannya dan menyunggingkan senyum. Mata kami teralih lagi ke arah si bocah kecil yg makin dekat berlari ke arah kami. Tiba-tiba, dia menerobos di tengah kami dan masuk ke pelukan ibunya yang ada di belakang kami.
"Semoga anak-kita-nanti seperti dia." bisiknya.
"Semoga." jawabku.
"Semoga kamu juga punya perpustakaan sendiri." bisiknya lagi.
"Iya, semoga. Dan semoga kita juga segera menikah." ujarku.
Kami saling senyum dan mengerti, lalu berjalan menjauhi stadion bola yang sering kudatangi untuk menonton pertandingan anak-anak.

Semoga.


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

Salah

Posted by Unknown in
Salah.
Aku salah.
Aku mencintai orang yang salah, disaat yang salah.

“halo?”
“halo, selamat siang. Benar ini A-offset?” jawab suara di seberang.
“benar”
“begini mas, saya mau bikin undangan. Saya tahu nomer mas dari teman.”
“ohh, baik, silakan langsung datang saja untuk milih desain.”
“oke, mas. Besok saya datang. Terima kasih ya.”

Begitulah awal kami berkenalan. Aku membuka usaha percetakan undangan. Dan dia datang untuk memesan undangan. Undangan pernikahan.

Dia wanita biasa. Tidak terlalu cantik, namun berkesan. Parasnya cukup manis, cara berpakaian dan pembawaannya sopan, sedikit ceriwis tapi menyenangkan.

Menyenangkan. Satu alasan itu yang membuatku jatuh hati padanya.
Aku bukan orang yang mudah jatuh hati. Dan tidak berniat jatuh hati sebenarnya. Tapi sungguh yang kurasakan terhadapnya benar-benar di luar kuasaku.

Satu bulan intens bertemu dengannya (dan terkadang dengan calon suaminya) membuatku gila. Aku mencintai wanita yang tak bisa kumiliki. Cih, betapa beruntung pria yang akan mempersuntingnya.
Kuharap selesai urusan pesanan undangannya, kami tak perlu bertemu lagi. Agar aku bisa melupakannya sambil melanjutkan hidupku.

“mas Adi, bisa minta waktu sebentar?”
“ya, ada apa?”
“ini mas, mau ngasih undangan.”
“…”
“terima kasih atas bantuannya bikin undangan, bagus banget. Kami ngundang mas sebagai ucapan terima kasih. Mas datang ya.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Aku tak begitu memperhatikan apa yang dia ucapankan selanjutnya. Yang bisa kurasakan hanya ngilu di dada.


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

Dan Iblis pun Menggugat

Posted by Faril Lukman in ,
Apa yang kau tahu tentang aku? Aku adalah kekasih-Nya yang terdekat, yang selalu memuji-Nya selama ribuan tahun, yang paling utama di antara mahkluk yang lain, yang memiliki tempat lebih tinggi dari Jibril, yang memiliki wajah paling rupawan di antara yang lain, sayapku adalah karunia terindah.

Meringkuk di dekat aliran sungai dengan tabir gelap menyelimutinya. Di atas rumput yang menghitam sejauh lingkar satu meter di sekitarnya; hijau rimbun di luar garis satu meter. Semua tanaman yang diinjaknya akan mati dan menghitam seperti tak rela disentuh oleh kulitnya. Kulit yang membusuk dan penuh aura dengki, penuh dengan kebencian yang dipendamnya sendiri.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6

Tempe Bars

Posted by Black Sakura in
When everyone is sleeping tightly, he, Munir, a tempe maker is preparing for a long journey: walking for about two hours to reach where he could get pennies. His feet are the only vehicle he could afford and rely on. Therefore, the only thing that he can compromise is time. He manages to start earlier to make sure he gets his place empty when he arrived there, in Peterongan Market.

His slippers are getting thinner and thinner every day because they must fight against the hard concrete of the pavement. His shoulders look strong lifting two big boxes full of bars of tempe. As he gets in at his lapak, a simple place on the pavement around the market, he begins to arrange his tempe on the floor. A hundred bars of tempe are ready to sell. They looked pale yet hard, ready be a breakfast menu.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

9

Moment on A Train

Posted by Unknown in
KRL pukul 20:30.
Jalur 1.
Gerbong 5.
Pintu pertama sebelah kiri.

Aku hapal mati formula itu.
Formula yang bisa membawaku kepadamu.
Kau selalu sudah berdiri di sana, sendirian.
Dan aku selalu berdiri agak jauh darimu, tapi masih berada pada jarak pandang.
Jarak nyaman untukku bisa memandangimu, tanpa takut kau akan menyadarinya dan merasa jengah.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Pelangiku Satu Warna

Posted by Faril Lukman in ,
"Kak, kog pelangi itu warna-warni ya?"
"Kalau cuma satu warna kan keliatan jelek. Kalau banyak warna gini kan keliatan lebih indah. Indah nggak pelangi itu?"
"Indah banget, kak. Warna-warni."

Penggalan canda dengan sepupuku yang masih 5 tahun semakin lekat di pikiranku. Apalagi di sini duduk sendiri di kursi paling ujung teras cafe. Ya, teras cafe dengan suasana ruang teras rumah tinggal, dengan kolam kecilnya, dengan tanaman merambatnya, dengan lantai marmer yang terkesan kuno, dengan rajutan bambu yang membayang, dengan jendela kayu tanpa cat, dengan gemericik air santunkan suasana. Tempat yang akhir-akhir ini selalu kukunjungi setiap Rabu sore sepulang lelah mencari uang. Rabu yang selalu sepi tak seperti hari lain. Rabu yang pengunjungnya hanya beberapa orang saja. Kenapa aku memilih Rabu yang sepi untuk ke cafe ini? Karena aku memang suka suasana sepi begini, lebih tenang untuk merenung, lebih senyap untuk berpikir, dan tentu saja sajian yang dipesan lebih cepat tiba di meja.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

3

Salam Untuk Calon Ibu

Posted by Faril Lukman in ,
Janin adalah salah satu anugerah Tuhan yang hanya akan diberikan kepada wanita. Anugerah yang seharusnya menjadi indah, tapi dianggap sebagian wanita menjadi aib yang tak ingin diterimanaya. Tak seharusnya wanita menggugurkan janin yang ada di dalam rahimnya. Bagaimanapun juga, mereka adalah makhluk hidup yang dititipkan Tuhan. Kecuali Tuhan, tak ada yang tahu peran apa yang akan diberikan janin saat kelak dia dewasa.
Semoga tak ada lagi wanita yang tega menggugurkan janin dalam kandungannya. Semoga para pria juga menjadi Imam yang akan melindungi janin dalam kandungan wanitanya. Jika saja janin dapat berbicara...

*****
@Segara_13: Dear mom. Aku sayang bunda, meskipun aku hanya tercipta dari nafsu belaka. Sincerely, janin..
@tinussinulingga: Mama dulu bolos ya waktu guru SMP jelasin ttg kelahiran bayi? 9 bulan, Ma, bukan 9 minggu. Sinc, Janin



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6

Kenapa?

Posted by Faril Lukman in
Kenapa baru kusadari di akhir perjalanan?
Kenapa tak kuhindari saja dari awal?
Kenapa?

P.S Penulis tak dapat melanjutkan tulisan ini karena tak mampu menuangkan pikirannya dalam kata-kata.


Setting tempat: Meja berombakkan kertas jernih
Terinspirasi oleh: Seorang teman sekantor di kontraktor telekomunikasi


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Kota Jingan Ba

Posted by Faril Lukman in
Namanya Jingan Ba. Tapi ia biasa dipanggil Jingan atau Ji. Sebagian teman-temannya ada yang iseng memanggilnya Gi, karena tabiat Jingan Ba memang mirip dengan tokoh pemuda itu. Aku sendiri lebih senang memanggilnya Ji; lebih sederhana.

Ji anak semata wayang, berasal dari keluarga yang biasa, ayahnya kuli bangunan sedangkan ibunya seorang tukang cuci. Ia lahir tepat ketika gempa besar meluluhlantakkan seisi kota. Para pemuka agama mengatakan, waktu itu, gempa besar yang meluluhlantakkan seisi kota adalah hukuman dari Tuhan kepada warga kota yang mengabaikan nilai-nilai keimanan dan enteng berbuat dosa. Tuhan tidak senang, makanya ia mengirimkan gempa. Dan waktu gempa itu terjadi adalah tepat sebelas bulan dari waktu kematian ayahnya karena terjatuh dari lantai enam tempat ia bekerja. Kau mestilah bisa menduga-duga apa yang dipikirkan orang-orang kepadanya, juga kepada ibunya.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6

A Question of Honesty

Posted by Black Sakura in
That evening, I was so hungry that I couldn't stand on my own feet. With these trembling feet, I tried to walk searching for something to eat. What a lucky day, I saw an old broken pipe that I thought would worth some cents. I picked it and imagining that i would get at least a small piece of bread. I just smelled the bread... Suddenly, a big group of guards ran after me and yelling "THIEF...THIEF". My trembling feet didn't allow me to move even just a foot. They drugged me to the jail... In this cold humid jail, I stayed for months, couldn't do anything. I was ignored, no trial, but the guards were always around. I thought, I should do something to get out of this jail.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

Jurnal Rahasia Boromir of Gondor

Posted by Faril Lukman in ,
Jurnal ini adalah milikku, Boromir putra Denethor dari Kerajaan Gondor di selatan. Berisi perjalananku mulai dari Rivendell hingga tugas yang diberikan Master Elrond selesai.

Hari ke-1
Persaudaraan Cincin sudah dibentuk, kami berangkat dipandu oleh Gandalf. Tapi kenapa Gandalf bilang "Kami menunggu perintah Pembawa cincin" ? Huh, kenapa juga kita mau diperintah oleh Frodo yang lemah itu? Persaudaraan yang aneh, cincin sialan, dan misi yang mnyebalkan.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

7

Minoritas Dalam Dunia Ini

Posted by Faril in
Pernah di dalam perjalanan berangkat ke kampus, aku menemukan sebuah frame yang menakjubkan. Mungkin bagi sebagian orang zaman sekarang, hal ini terbilang ganjil untuk dilakukan. Hal ganjil bagi sebagian orang, bukan semua orang di dunia. Tapi sebagian besar orang yang sekarang hidup di dunia (yang katanya) modern ini.
Ada seorang remaja berjalan tepat di depanku dengan tas yang kukira sangat berat terkait di punggungnya. Sebuah buku ada di genggaman tangan kanannya; ia membaca sambil berjalan. Sepertinya dia sedang menghapal karena kulihat dia menunduk melihat bukunya, lalu menengadah, menunduk melihat buku lagi, melihat sekitar.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

1

Bersih Pangkal Berbudi

Posted by Black Sakura in
Sabtu pagi yang cerah ini mood ku sudah dirusak oleh hal yang sungguh menjengkelkan. Ini dia yang sebenarnya menjadi salah satu helaian dari sepokok akar serabut penyusun penghalang Indonesia menjadi lebih baik. Salah satu dari wujud penghargaan diri sebagai manusia yang berbudi, yang membedakan dirinya dengan hewan. "Kesadaran" akan hak dan kewajibannya sebagai manusia. Hak dan kewajiban yang bahkan tanpa ditulis dimanapun telah melekat pada diri kita. Aku bingung, sebenarnya dinding seperti apa yang menutupi kepekaannya terhadap hal yang sangat sangat kasat mata dan sensitif seperti ini.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

4

Sudut Kontras Ibukota

Posted by Black Sakura in
Sungguh pagi yang sibuk di ibukota. Semua orang berlomba dengan waktu untuk memulai kehidupan. Motor, mobil dan angkot padat merayap di jalan raya. Aku berada di tengah-tengah antrian panjang di lampu merah.70 detik tak cukup untuk mencapai lampu hijau setelahnya. Aku berhenti di tengah bisingnya ibukota, memperhatikan lalu lalang berbagai macam kendaraan dengan berbagai macam keperluan.

Di trotoar pambatas jalan, kulihat seorang anak lelaki kecil sedang mengambil tumpukan koran yang ia letakkan di beton pembatas jalan, yang ia tindih dengan batu supaya tidak terbang tertiup angin, lalu menjajakannya kepada mobil-mobil yang berhenti di lampu merah. Kupikir umurnya masih 7 atau 8 tahun. Tubuhnya kurus dan basah terkena embun lembap bulan November yang basah. Mungkin ia telah disana sejak beberapa jam yang lalu. Bajunya lusuh tertutup cipratan lumpur dan debu yang pekat melekat.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

11

Pelukis Kemurnian Kehidupan

Posted by Black Sakura in
Seminggu berada di tengah tengah makhluk makhluk kecil itu membuat hatiku bergetar. Seperti meraba-raba kain halus yang kian lama kian membuai. Tawanya yang renyah begitu menggambarkan betapa tiada cela dalam hatinya. Kejujuran selalu terpancar dari matanya yang berbinar-binar.

"Miss...miss, ini bacanya apa?"
Ya Allah, begitu polosnya dia memintaku membacakan soal ulangan karena dia belum bisa membaca. Aku tersenyum geli. Aku gemes pada tubuhnya yang mungil, bibirnya yang manis, ingin kupeluk mereka satu per satu. :)



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

A Tale of 1000 Part 4

Posted by Black Sakura in
Aku terdiam di ruang gelap ini bersama kawan kawan sebangsaku menanti fajar. Warung ini telah ditinggalkan pemiliknya untuk beristirahat. Tak sabar kunanti petualangan apa yang menantiku esok hari.

Ternyata kegelisahanku mengusik teman sebelahku. Lembaran merah bergambar pahlawan berwajah tirus. “Hei, kenapa kamu terlihat gusar, kawan?” Tanyanya. “Ah, aku hanya sedang mengira-ira, apa yang akan kualami esok hari.” Jawabku jujur.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

9

Seberapa manusiakah kita?

Posted by Black Sakura in
Seberapa manusiakah kita?

Pagi ini aku sadar, bahwa setiap saat kita diuji, seberapa manusiakah kita. Hati kecilku mendefinisikan bahwa menjadi manusia yang manusiawi adalah menyadari nilai kita sebagai seorang manusia. Entah apa itu manusia, aku tak bisa mengungkapkannya, namun yang ku tahu manusia seharusnya bukanlah kolektor harta, bukanlah tugu kehormatan, bukan pula patung yang mampu untuk tidak mengacuhkan sekitarnya. Kadang kita serta merta berbangga menjadi manusia, menggunakan kekuasaan kita untuk semakin menjauh dari menjadi manusia, akhirnya ternyata kita melupakan bagaimana seharusnya kita menjadi manusia.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6

A Tale of 1000 part 3

Posted by Black Sakura in
Hmmmph.... bau tanah basah dan embun perlahan menyusup di kantong ini. Ah, mungkin sudah fajar. Aku mendengar suara gemericik air. Aku bisa membayangkan bahwa seseorang di rumah ini sedang berwudhu di 'padasan'. Mungkin azan subuh baru saja berkumandang beberapa menit yang lalu ketika aku masih terlelap. Sungguh, mereka orang orang yang siap menyambut dunia ...

Yang tadi hening, kini mulai gaduh. Gaduh sang ibu di dapur, bapak yang mengelap becaknya dan, "Mak, mangke wonten upacara, adek jadi petugas." eh... suara siapa itu? Anak kecil? Anak mereka, atau mungkin cucu mereka. Sepertinya dia bocah laki-laki kecil usia 7,8 atau 9 tahun. "Yo wes le, ati ati ning ndalan yo! Kosek le." suara ibu itu menjawab diikuti derap langkah tergesa ke arahku...



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive