2

Pelangiku Satu Warna

Posted by Faril Lukman in ,
"Kak, kog pelangi itu warna-warni ya?"
"Kalau cuma satu warna kan keliatan jelek. Kalau banyak warna gini kan keliatan lebih indah. Indah nggak pelangi itu?"
"Indah banget, kak. Warna-warni."

Penggalan canda dengan sepupuku yang masih 5 tahun semakin lekat di pikiranku. Apalagi di sini duduk sendiri di kursi paling ujung teras cafe. Ya, teras cafe dengan suasana ruang teras rumah tinggal, dengan kolam kecilnya, dengan tanaman merambatnya, dengan lantai marmer yang terkesan kuno, dengan rajutan bambu yang membayang, dengan jendela kayu tanpa cat, dengan gemericik air santunkan suasana. Tempat yang akhir-akhir ini selalu kukunjungi setiap Rabu sore sepulang lelah mencari uang. Rabu yang selalu sepi tak seperti hari lain. Rabu yang pengunjungnya hanya beberapa orang saja. Kenapa aku memilih Rabu yang sepi untuk ke cafe ini? Karena aku memang suka suasana sepi begini, lebih tenang untuk merenung, lebih senyap untuk berpikir, dan tentu saja sajian yang dipesan lebih cepat tiba di meja.

Karena sepinya, aku hampir hapal siapa saja yang datang di Rabu sore; seorang kakek berusia 60-an tahun duduk di bangku terdekatku, sepasang kekasih yang bersama dalam diam dekat kolam, seorang wanita yang menunggui kedatangan anaknya yang tak kunjung datang (aku baru tahu ketika seorang pelayan membisikannya di telingaku), dan 2 pria berpakaian kantor dengan gadget dan muka lelah di meja tengah. Keluarga yang tak saling mengenal berada dalam satu ruang-keluarga-semu, begitu aku menyebutnya.

"Sedang melamun apa, mas? Setiap kakek perhatikan, mas-nya sering membisu menyapa lamunan."
Kesendirianku yang tenang pecah ketika tiba-tiba kakek yang duduk dekat mengajakku bicara untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya. Seperti teori bigbang yang menghancurkan dan membuyarkan alam semesta, pikiranku buyar dan larut dalam udara yang tak bergerak. Akhirnya ada pembicaraan kecil di sunyiku pada Rabu sore.
"Eh, anu.. Eeee... sedang ingat keponakan saya yang masih 5 tahun, Kek"
"Pasti ingat tanyanya yang ingin tahu ya?"
"Eh, iya. Ingat saat dia tanya tentang warna pelangi"
Kakek menghembuskan napas layaknya orang-orang bijak hendak menyampaikan petuahnya. Beliau merapatkan duduknya agar terjangkau oleh pendengaran telinga kananku. Melepas kaca-berbingkai yang menempel di dekat mata-sayunya.
"Kamu tahu, pelangi menjadi indah karena apa?"
"Tentu karena pelangi penuh warna di setiap garis lengkungnya yang mendekati sempurna dibias warna biru langit yang mulai cerah setelah mendung tercerai berai."
"Kamu tahu, pelangi ada berapa warna?"
"Eee, kalo menurut pelajaran di sekolah ada tujuh warna primer yang terurai menjadi jutaan warna dalam balutan yang tujuh"
"Kehidupan juga seperti pelangi"
"Eh??"
"Jika pelangi menjadi indah karena warnanya dan juga jumlahnya yang serasi satu sama lain, hubungan pertemanan pun begitu adanya. Jika kamu memiliki banyak teman, tentu saja itu akan membantu dalam banyak hal. Jika kamu memiliki berbagai tipe teman, kamu akan semakin mudah menggenggam dunia karena ilmu dari banyak tipe teman itu bisa kau ketahui saat bersama mereka. Jika kamu memiliki banyak teman yang berbeda tipe dan kamu merasa cocok dengan mereka, maka kamu tak perlu lagi mengenal dunia luar karena mereka lah yang menciptakan dunia untukmu."
Aku masih menatap kaget kakek yang berkerut lembut di bawah matanya, tak bisa aku berpikir seperti itu. Apa benar dengan memiliki banyak teman dari berbagai jenis tipe dan aku merasa cocok dengan mereka, maka aku tak perlu lagi susah mencari dunia yang kuharap. Teman-teman ku lah yang akan membantuku menciptakan duniaku sendiri, merapatkan atmosfer agar aku bisa bernafas tenang, menyejukkan udara agar aku tak mengumpat berkeringat, membuka jalan agar aku tak terjepit dalam lorong, mengenalkanku pada dunia yang lebih cemerlang dari duniaku saat ini. Apa benar begitu adanya. Apa pelangi benar-benar menjadi indah karena keserasian jutaan warnanya, apa pelangi takkan indah jika hanya memiliki satu warna.

"Pelangiku hanya satu warna saja, Kek." bisikku pelan ketika hanya ada cangkir setengah kosong di meja sebelahku yang telah ditinggalkan.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive