10

K&D Learns Storytelling (4)

Posted by Pambayun Kendi in ,
COGITO ERGO SUM, aku berfikir maka aku ada. 
Demikian eksistensi manusia dijelaskan oleh Descartes. Sebagai manusia dengan kondisi pemikiran yang normal (dan selalu eksis), saya mencoba untuk mengetengahkan suatu wacana tentang mengapa peringkat pendidikan Indonesia masih saja berada pada posisi yang belum membanggakan. Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia masih segan, jika harus disandingkan dengan universitas-universitas di Eropa, Amerika, Jepang, atau bahkan Singapura dan Malaysia. Apa ya, kira-kira penyebabnya? Mari kita cermati percakapan berikut:
Mahasiswa A : mau ke mana Sob?
Mahasiswa B : makan
Mahasiswa A : di mana?
Mahasiswa B : KUCINGAN
Kualitas akademik mahasiswa, sebagai elemen mendasar perguruan tinggi, jelas sangat mempengaruhi peringkat dari sebuah universitas/institut. Bagaimana kualitas akademik mahasiswa Indonesia bisa meningkat kalau mahasiswa-mahasiswa ini tidak makan makanan yang layak? Bayangkan, mereka makan nasi kucing. MAKANAN HEWAN. Bisa malu dunia pendidikan kita kalau aib ini sampai tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ada lagi yang suka ke Burjo (bubur kacang ijo) tengah malam, makan nasi telur atau Naster, nasi dengan telur goreng. Kalau punya uang lebih makan nasi Padang, nasi dengan Padang goreng. Bisa jadi nasi kucing, nasi dengan kucing goreng…. Descartes, berhati-hatilah anda ketika mengeluarkan fatwa.

Beberapa minggu belakangan kita seakan dihipnotis oleh penampilan memukau dua anak kecil pada iklan biskuit rasa jeruk. Afiiikaaaaa…. Iyaaaa…. Demikian bunyi iklannya. Semenjak itu, para perempuan yang menjadi friend saya di FB, serempak mengganti Profile Picture (PP) mereka dengan foto Afika. Yang lebih mengeherankan, seorang teman saya laki-laki, sebut saja A, juga mengganti PP-nya dengan foto Afika. A adalah teman saya semasa gondrong dulu (saya pernah beberapa tahun merasakan jadi seniman risau. Tolong…. Risau. Bukan galau). Kalau saya gondrong, auranya aura ‘kegelisahan akan kemapanan’ (ehm…). Sedangkan dia, aura penjara seumur hidup. Dia seakan bermetamorfosis dari 340 (pasal perampokan) menjadi fedofilia. 

Kesamaan lain antara saya dan A adalah, kami sama-sama makhluk pencinta toilet. A bahkan pernah memberitahu saya bahwa ia ingin menikahi toilet, di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Semarang, karena toilet tersebut ternyata sudah hamil duluan (bejat sekali dia). Buat saya, toilet adalah tempat mencari inspirasi. Saya begitu terobsesi dengan karya-karya arsitektur kelas dunia, yang ternyata, lahir dari goresan-goresan sketsa di atas tissue toilet. Agaknya hal yang demikian disadari pula oleh anggota DPR kita. Mereka kemudian ngotot untuk merenovasi toilet di gedung kesayangan mereka. Menurut saya, hal ini wajar-wajar saja, mengingat efek psikologis dari toilet yang begitu luar biasa. Dengan toilet yang bagus, para anggota dewan berharap mampu mengeluarkan ide-ide cemerlang guna memecahkan permasalahan bangsa ini. Pertanyaannya adalah: mengapa segala hal yang berkaitan dengan DPR selalu menghasilkan angka milyaran? Ini yang membuat saya tidak habis pikir, bahkan kesal hingga ke ubun-ubun. Memangnya duit tinggal gunting? Toh, saya tetap bisa mendapat inspirasi dari toilet/kamar mandi kos yang sederhana sekalipun. Cuma terkadang, selain ruang toilet, saya juga membutuhkan trigger lain agar inspirasi cepat keluar: sabun, dengan aroma terapi. Kalau sabunnya habis, pergilah ke Indom#ret. Kalau ada yang melihat saya keluar dari Indom#ret sambil senyum-senyum bahagia bawa sabun, sama-sama tahu sajalah. Jadi, daripada memboroskan anggaran negara milyaran rupiah untuk merenovasi toilet, bangun saja gerai Indom#ret persis di depan toilet gedung DPR. Habis perkara.

PS: untuk ibu-ibu anggota DPR, mohon maaf, saya belum memikirkan solusinya. Untuk sementara, pakailah toilet pria. 

Saya dan A sangat suka travelling, dan kami menganggap bahwa diri kami adalah traveller sejati. Ketika kami singgah di suatu kota, sedapat mungkin kami menikmati setiap sudut kota hingga ke detail-detailnya. Terang saja, kami bukan tipe koper yang mengandalkan hotel dan pesawat terbang ketika berpergian, karena buat makan dua kali sehari saja sudah alhamdulillah. Kami adalah tipe ransel yang mengandalkan bus ekonomi dan masjid.

Buat kami, mengeksplorasi suatu kota seakan tidak ada habis-habisnya. Kota Semarang, kota di mana kami menetap dan belajar, seakan belum puas kami jelajahi. Dahulu, sewaktu masih awal-awal di Semarang, saya bingung dengan suatu tempat yang bernama Gombel. Gombel adalah sebuah tempat di bagian Semarang atas, di mana kita dapat menikmati suasana Kota Semarang bawah pada malam hari. Dari tempat ini kita dapat menikmati kelap-kelip lampu yang bertabur seperti bintang di selingi sayup-sayup suara klakson kendaraan yang syahdu dari kejauhan. Sangat romantis. Makanya tidak heran jika tempat ini menjadi lokasi favorit bagi mereka yang menjalani hubungan percintaan: sejenis maupun tidak.

Seorang teman pernah memberi tahu saya bahwa tempat tersebut dinamakan Gombel karena dulu disitu banyak wewe gombelnya. Lalu saya berfikir, ternyata ada lokalisasi khusus hantu. Ternyata ada suatu tempat di Semarang, di mana semua hantu wanita dikumpulkan. Hantu tuna susila rupanya. Lalu siapa yang mau making love sama hantu. Dukun? Mahasiswa?

Saya juga bertanya-tanya, kenapa hantu wanita suka dengan sate? Mungkin karena sudah jadi hantu, para wanita ini bebas dari masalah obesitas. Sudah tidak perlu lagi naik angkot dan menyiksa orang-orang di sebelahnya. Kalau di film-film pasti ada adegan di mana hantu wanita, kuntilanak misalnya, beli sate. Dan anehnya lagi, ketika si penjual sate terkejut melihat si kuntilanak, ia malah berteriak memanggil nama si Kuntilanak. Apa fungsinya coba? Toh sudah sama-sama tahu ada kuntilanak. Jadi buat apa? Absen? KUNTILANAAAK…. HADIIIR… 

EXT. GOMBEL – SEBUAH TEMPAT DI SEMARANG ATAS DI MANA PARA HANTU-HANTU WANITA DILOKALISASI-KAN (MALAM)
Cast: Tukang Sate, Kuntilanak
Tukang sate melewati jalan yang sepi hendak pulang ke rumah. Hari ini dagangannya belum laku barang satu tusuk pun. Ia mendorong gerobaknya dengan raut muka lesu. Tiba-tiba di ujung jalan ada seorang gadis melambaikan tangan, hendak membeli sate.
Gadis
Satenya Mas
Tukang Sate
(berhenti)
Oh ya, mbak. Mau berapa tusuk?
Gadis 
Seratus tusuk, Mas.
Tukang Sate
Baunyak buanget, mbak. Mau ada sukuran keluarga?
Gadis
Gak, Mas. Buat makan sendiri?
Tukang Sate
(mulai membakar dan mengipas-ngipas sate)
Ah, mbaknya bisa aja bercandanya.
Gadis
Gak, Mas. Aku gak bercanda. Buat aku sendiri oq… 
(P.S:Semarang’s exclusive accent)
Tukang Sate
(merasa heran. Tiba-tiba suasana dan udara menjadi dingin, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tukang sate mulai merinding, ia menoleh ke arah gadis tersebut)
Kun…. Kkun….kuntilANAAAAAAAKKKKKK….
(Tukang Sate berlari dan berteriak katakutan)

(P.S: apa saya bilang? Bener kan?)

Gadis a.k.a kuntilanak
Yeeeeee….biarin, daripada situ. TUKANG SATE…

Satu hal lagi yang menarik dari Gombel adalah pada bagian sisi bukit dekat POM bensin, terdapat tulisan yang mengabadikan nama GOMBEL tersebut. Kurang lebih mirip papan nama Hollywood, hanya saja ukurannya lebih kecil. Saya yakin, ini dimaksudkan sebagai penghargaan bagi para hantu yang telah berjasa membangkitkan kembali perfilman Indonesia dari mati suri. Kalau tidak ada hantu, pastilah perfilman Indonesia tidak akan mampu bangkit kembali. 100% yakin. Jadi, buat teman-teman semua yang sudah putus asa ikut casting, tapi tidak pernah dapat panggilan main film, cobalah untuk menjadi hantu. Caranya sederhana: MATI AJA DULU. Dijamin langsung dapat tawaran.

Belakangan ternyata tanda nama GOMBEL tidak mampu bertahan dari kekuasaan para kapitalis. Para pemegang modal ini, dengan segenap arogansinya, medirikan sebuah booth ATM dengan warna ‘biru’ di situ, dan menghilangkan sebagian huruf dari kata GOMBEL. Musnahlah sudah penghargaan tertinggi bagi para ‘wewe gombel’ dan rekan-rekannya (lho, kaya papan nama pengacara: Albert Simatupang, SH dan rekan). Para hantu dipastikan ‘kesal setengah hidup’. Jadi ketika anda melakukan transaksi perbankan di ATM tersebut, misalnya melakukan penarikan tunai 100 ribu rupiah, jangan harap uang anda tetap utuh 100 ribu. Pasti tinggal 90.000. 10% buat Pajak Pertambahan Nilai (PPN) para hantu. Coba kalau ATM-nya BANK SYARIAH… 

Ada satu tempat lagi yang masih membuat saya bingung dengan penamaannya: Sunan Kuning a.k.a eSKa. Tempat ini merupakan ‘etalase syahwat’ paling komplit dan high recommended. Mulai dari yang tipe BMW mulus sampai bemo korengan, ada. Mulai bayaran flat per menit sampai cicilan KPB (Kredit Pemilikan Bodi) bersubsidi 15 tahun, ada. Hanya saja tidak ada yang syariah…. Kenapa tempat ini dinamakan Sunan Kuning? Padahal, setahu saya, Sunan adalah gelar yang disematkan bagi para pemuka agama dari tanah Jawa, betul? Mungkin jumlah sunan di tanah Jawa ini dahulunya ada sepuluh. Dikarenakan ada perbedaan VISI DAN MISI, salah satu dari sunan ini memutuskan hengkang untuk kemudian BERSOLO KARIR. Alhasil, maka jadilah Sunan Kuning a.k.a SK, seperti halnya Indah Dewi Pertiwi a.k.a IDP. Kapan ya, Sunan Kuning berkolaborasi dengan Cherrybelle? 

Jalan-jalan ke Kota Semarang kurang lengkap rasanya kalau belum menyambangi Kawasan Kota Lama. Kawasan Kota Lama merupakan bagian kota, dimana terdapat bagunan-bangunan dengan style arsitektur ala Eropa. Paling asyik buat hunting foto. Kombinasi dari dinding dengan plester yang terkelupas, diselingi lumut-lumut yang tumbuh secara alami, seakan menyajikan atraksi VISUAL yang memukau. Gereja Blenduk, berdiri gagah di pinggir jalan dengan taman di sisinya, merupakan icon dari kawasan ini. Sudah terkenal hingga DEMAK, BREBES, SALATIGA, dan KENDAL. Cuma sayangnya, ke-syahdu-an kota lama bukannya tanpa cela. Beberapa tahun lalu waktu saya dan A berjalan-jalan santai di Kota Lama, kami sempat ditawari untuk ber-kimpoi alias jasa prostitusi oleh ibu-ibu gendut dengan lengan lebar, yang kalau ditato gambar gajah Sumatra lengkap dengan poop-nya, pasti masih sisa (kenapa ya, muka saya selalu menarik bagi ibu-ibu gendut? Uzbek-nya kapan?). Kalau di Bandung saya pernah ditawari setengah harga (mungkin karena masih 19 tahun | lihat cerita), di sini lebih kreatif lagi: HARGA MAHASISWA! Memangnya koran, ada harga mahasiswa segala.
Ibu-ibu : Mas, mampir dulu Mas. Harga mahasiswa. Tinggal tunjukin KTM bisa langsung…
Saya  : wah, saya gak bawa e Buk. Hmmm…. Pakai kartu member rental DVD bisa? Kalau ‘gesek’   bisa?

P.S: saya sungguh berharap kejadian ini tidak akan terulang di tahun-tahun mendatang. 

Sekitar 2005, kawasan Kota Lama pernah dipakai untuk pembuatan film Gie, meskipun nama lokasi ini disamarkan menjadi Kebon Jeruk. Nicholas Saputra sebagai Gie. Kota Lama sebagai Kebon Jeruk. Saya suka berkontemplasi dan membayangkan diri saya sendiri sebagai Gie, dengan kata lain Nicholas Saputra, meski muka ra nyandak. Agar suasana lebih mendukung, saya mengajak A untuk memerankan Herman Lantang. Dikarenakan A bukanlah orang yang memiliki sense of art yang cukup, maka ia cuma bisa KOPROL. Saya tidak perduli, yang penting ada temannya, seperti Si Buta dari Goa Hantu dan monyetnya. Duduk pada sore hari yang kering di taman samping Gereja Blenduk, dengan mata yang disipit-sipitkan (biar mirip Cina cuy), menghayati kalimat: lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan, membiarkan angin mengibarkan rambut yang belum keramas bulanan, kutu-kutu pada main layangan. Meretas memori. Hal terbaik yang bisa dilakukan di sini. Kami seakan BERDISKUSI DENGAN ALAM YANG LIRIH. Membicarakan segala hal yang mungkin terjadi nanti.
Seperti biasa, dalam percakapan ini saya memerankan Mario.
A        : Pernah mikir ga sih Mar, apa yang kita lakuin ada gunanya? 
Mario : maksudnya? 
A        : Aku capek, berkelana tanpa makna. Tujuan menjadi bias (puitis sekali dia).
Mario : Ini pasti ujung-ujungnya cewek. Iya kan?
A        : Ho oh (ternyata A sudah sadar dari perilaku seksualnya yang menyimpang, mencintai toilet)
Mario : Hmmm…. Perempuan memang seperti koran pagi. Semalaman di nanti, terkadang beritanya    mengecewakan.
A     : Seperti serabi. PUTIH, HARUM, dan EMPUK (maaf, otaknya memang tidak pernah jauh dari makanan dan toilet)
Mario : Seperti matahari pagi. Menghangatkan sebentar, lalu menghilang bersama putaran waktu. Tidak pernah menjadi abadi.
A        : Seperti gorengan. Berminyak (ini kalau facial foam-nya kehabisan).

Tiga orang perempuan melintas di depan Mario dan A. Mario memasang senyum simpul se-Nicholas Saputra mungkin. Seperti biasa, tujuh langkah kemudian tiga orang perempuan tersebut muntah-muntah.

Mario : Kata orang, cewek itu suka dengan lagu. Tapi menurutku, mereka tidak mengerti lagu (ingat tragedi Mario dengan Em di studio? Em muntah-muntah setelah Mario menyanyikan lagu Efek Rumah Kaca yang ‘Bukan Lawan Jenis’ di depannya). Mungkin mereka suka puisi.
A        : Justru mereka gak ngerti puisi.
Mario : Oh ya? Pernah nyoba?
A        : Pernah, aku bacakan sekali di depan seorang gadis, dan dia lari menjauh seketika.
Mario : Puisi apa?
A        : Karawang-Bekasi. Chairil Anwar. Aku bahkan bawa BAMBU RUNCING.
Mario : Hmmm… (saya yakin, perempuan itu pasti perempuan waras dan baik-baik).
A        : Sebenarnya aku dulu pernah suka sama cewek. Rambutnya panjang, senyumnya manis. Aku suka  bawakan dia cokelat. Setiap sore kita main ayunan sama-sama. Udah deket sih…
Mario : Lha, terus? Nunggu apa lagi?
A        : Dia masih 4 tahun, Mar… (tak sedikit pun ada raut penyesalan di mukanya. Ya ampun, Afiiikaaa...)
Mario : Hmmm…. Menarik…. Menarik
A        : Kamu gimana? Cerita dong.
Mario : Hmmm…. Ya, ada. Dulu aku sempat pengen banget punya pacar. Gambling aja, aku SMS  nomor CP yang ada di pamflet acara seminar anak jurusan sebelah. Namanya Angel. Awalnya cuma basa-basi nanyain seminar, meskipun sama sekali ga ada niat buat ikut seminar. Eh, ternyata Angel kasih respon terus. Mulailah aku SMS-an sama Angel ala-ala pantun di TV.
P.S: untuk sementara cerita dialihkan menjadi cerita Mario-Angel. Jadi, subjek yang digunakan adalah  subjek orang ketiga tunggal.
Hari pertama…  
Mario : Angel, papah kamu kerjanya sebagai Site Engineer, ya?
Angel : Koq kamu tau?
Mario : Karena kamu telah meng-site-site hatiku. (Maksunya menyayat-nyayat, plesetan cuy…)
Angel : ? _?
Hari kedua…
Mario : Angel, papah kamu dosen bahasa Inggris, ya?
Angel : Koq kamu tau?
Mario : Karena kamu telah maksa aku bilang no smoking.... Eh, maksudnya I LOVE U.
Angel : ? _?
Hari ketiga…
Mario : Angel, papah kamu pejabat negara ya?
Angel : Koq kamu tau?
Mario : Oh, tadi siang aku lihat di TV lagi diperiksa KPK.
Angel : (ga dibalas)
Hari keempat…
Mario : Sorry ? _?V
Angel : Kamu gitu sih, papaku pejabat negara beneran tauk
Mario : Iya, maaf. Sabtu free? Mau nonton?
Angel : Boleh
Mario : Ok. See U next Saturday
Angel : ? _?
 Mario : Nah, gitu dong…
Hari yang dinantikan untuk pertemuan pertama pun tiba. Mario telah mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Segala sesuatu tentang Angel, telah dihafalnya luar kepala: Angel anak semata wayang dari 12 bersaudara, anak dari seorang pejabat negara, ibunya telah lama tiada, hobi berkebun, dan gemar mengoleksi pernak-pernik ethnic Indonesia. Lima belas menit kemudian, Mario telah sampai di alamat yang diberikan Angel. Sebuah rumah megah, dengan Mercedes Benz dan bajaj merah terparkir rapi di carport-nya. Mario menoleh ke kiri dan ke kanan. Terlihat seorang gadis dengan kostum terusan berbahan batik (alias daster) sedang menyiram tanaman. Hobi berkebun, suka benda-benda etnik. Ini pasti Angel. Mario mendekati gadis tersebut, menatapnya sebentar. Gadis itu juga balas menatap. Seperti sinetron, mereka tatap-tatapan. Masih seperti sinetron, Mario berkata dalam hati: ya ampun…. Nama ANGEL, tapi muka MARKONAH. Papanya pasti korban iklan. Ah, biarlah. Pengalaman pertama ini. Lumayan anak pejabat. C’mon tiger, go get her….  

Tanpa babibu, Mario langsung mengenggam tangan Angel, mengajaknya nonton film dan dilanjutkan dengan makan di restoran (habis 500 ribu). Semuanya dilakukan dalam 7 menit saja. Karena, menurut buku yang dibaca Mario, secara psikologis seseorang cenderung berkata ‘iya’ ketika adrenalinnya memuncak, dan saat-saat adrenalin memuncak adalah ketika orang tersebut sedang terburu-buru, tegang, atau ketakutan (tips buat kamu yang jomblo). Itulah kenapa trik ‘halilintar di Dufan’ masih menjadi peringkat nomor 1. 

Untuk grand final, Mario menyanyikan sebuah lagu untuk Angel. Karena Mario adalah ‘ANAK PUISI’, ia menyanyikan lagu Tentang Seseorang-nya Anda. Di depan kerumunan, Mario menyanyikan lagu tersebut sambil terus menatap dalam ke mata Angel. Angel tersenyum. Manis sekali. Biarlah muka Markonah, tapi senyum Asmirandah. Mario baru menyadari, ada sebuah tanda lahir di bawah mata kiri Angel yang: LUMAYAAAAN…. MARIO FALLIN’ IN LOVE. Daun-daun berguguran, angin bertiup semilir, ada anak kecil di sebelahnya tertabrak mobil. Kasihan. 

Malamnya, Mario SMS-an lagi sama Angel
Mario : Suka jalan-jalannya?
Angel : Jalan-jalan yang mana ya? Aku seharian nunggu kamu di kamar. Kamu ke mana aja?
Mario : Hadeehh…. Kura-kura dalam perahu. Oh ya, aku suka tanda lahir kamu di bawah mata kiri. CANTIK.
Angel : Tanda lahir? Aku ga punya tanda lahir apa-apa.
Mario : Ah, yang beneeeer. Boong dosa lho.
Angel : Ya ampun Marioooo. Jadi seharian kamu ngajak jalan PEMBANTU aku?
Mario : Ha? Pembantu?
Angel : Iya, namanya Mbak MARKONAH…
TAMAT

A        : Jiaahahahahaah…. Pramuwisma cuy. Pramuwismaaaa...
Mario : Ah, sudahlah. Setidaknya dia sudah akil baligh. Yuk, capcus.

Begitulah kisah kami dua sahabat mengarungi Kota Semarang demi mengejar cita-cita. Sebuah kota yang menyajikan seribu kisah dan tuah pembelajaran. Semilir angin mulai dingin ketika sebuah bus melintas di depan kami. Dengan sekali gerakan cepat, kami telah berada di dalam bus. Berkontemplasi di Kota Lama, menghadirkan sensasi yang tidak biasa. Di dalam bus kami saling memandang sekilas, seakan memahami pikiran masing-masing. Kami berjanji dalam hati, ketika telah bekerja dan mendapat penghasilan kelak, kami akan KREDIT MOTOR. 
***
Teman-teman semua, jangan pernah berhenti mengharapkan sesuatu yang indah. Karena ada Tuhan di sana yang tidak pernah tidur.

K&D. Matur nuwun.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

10 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive