20

K&D Learns Storytelling (1)

Posted by Pambayun Kendi in ,
Izinkan saya untuk memulai bercerita dengan menegaskan status saya sebagai ‘fresh graduate’. Pertanyaan yang paling menyebalkan bagi seorang fresh graduate adalah: habis kuliah mau ke mana? Atau sudah kerja di mana? Sumpah, benar-benar menyebalkan, dan kalau tidak mengigat batas-batas kepatutan dan statuta FIFA, pastilah saya akan jawab dengan berapi-api ala pidato Bung Tomo: ke Gambilangu (untuk pertanyaan 1) dan kerja jadi Germo (untuk pertanyaan 2)

PS: akan jadi lucu dan merasuk jika sebelumnya anda pernah menonton video dabingan DORAEMON GAMBILANGU.

Saya adalah seorang Sarjana Teknik (ST) lulusan dari Universitas Diponegoro (Undip), yang rangking nasionalnya tidak terlalu di atas jika dibandingkan dengan sebuah institut yang bermarkas di Kota Kembang dan sebuah universitas yang tergeletak dengan asrinya di Kota Depok. Tapi serius, zaman sekarang mencari pekerjaan bukanlah perkara gampang. Apalagi bagi seorang fresh graduate seperti saya, yang bermimpi untuk punya BMW dari gaji pertama. Suatu kali pikiran saya menerawang kepada suatu cerita yang ‘lumayan lucu’ yang diceritakan oleh teman saya semasa SMA dahulu (cerita ini sudah cukup umum, jadi silakan google-ing). Begini ceritanya versi teman saya itu:

Alkisah adalah seorang Sarjana Teknik baru lulus (sebut saja Thomas) dari Institut ternama Kota Bandung dengan inisial 3 huruf dimulai dengan I dan diakhiri dengan B *Mau bilang ITB takut sensitif*. Sudah 7 bulan ia menganggur saking susahnya mendapat pekerjaan; lalu frustasi  dan mencari lowongan dengan judul: GDP, TEBUKA BAGI SEMUA JURUSAN. Akhirnya, bekerjalah ia di sebuah kebun binatang dengan status MANAGEMENT TRAINEE sebagai  monyet-monyetan. Job description-nya adalah: pake baju monyet dan bergaya menjadi monyet untuk menghibur seluruh pengunjung kebun binatang.

Kerjaannya tiap hari: bergaya monyet … makan pisang… koprol… bergaya monyet … makan pisang… koprol… bergaya monyet … makan pisang… koprol… NGAJAR KALKULUS… bergaya monyet … makan pisang… koprol… NGAJAR KALKULUS (pokoknya begitulah).

Suatu hari karena saking bersemangatnya koprol sambil ngajar kalkulus, Thomas terpeleset kulit pisang dan jatuh ke kandang buaya, tepat di kolamnya. Sialnya, kakinya terkilir dan tidak sanggup untuk segera keluar dari kolam. Dalam hati Thomas mengadukan nasibnya ke Tuhan…
Thomas: (dalam hati) ya Tuhan… berat sekali kau timpakan cobaan kepadaku. Sudah bekerja begini hina,      sekarang jatuh pula ke kandang buaya. APA MAUMU YA TUHAN….!!!!! KENAPA KAU TIMPAKAN INI KEPADAKU!!!! KENAPA TUHAN!!! KENAPAAAAAAAA…
Sekitar 4-5 buaya mendekat dengan pasti ke arah Thomas. Pada jarak sekitar 2m, Thomas berdoa kepada Tuhan,
Thomas: Tuhaaaaann… kalau kau selamatkan aku kali ini, aku janji bakal menghapus koleksi bok#p Miyabi dari folder MEKANIKA TEKNIK dan Tera Patrick dari folder MEKANIKA FLUIDA… juga kompilasi lainnya di folder PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN… tolong aku Tuhan.. Tolong…
Buaya    : (semakin mendekat, sudah 1m)
Thomas  : Tolong Tuhan… Tolong…
Buaya    : (semakin mendekat, sudah 0,5m)
Thomas : Tolong Tuhan… Tolong… Tolong… Tolong… Tolong… (dalam hati karena mulutnya masih penuh pisang yang belum sempat ditelan)
Buaya    : (semakin mendekat, sudah 25cm)
Tanpa disangka-sangka, Thomas mendengar suara bisikan dari buaya-buaya tersebut. Setengah tidak percaya, dan dengan menngumpulkan segenap keberanian, Thomas  mendekatkan kepalanya ke arah buaya tersebut. Ternyata benar, buaya-buaya tersebut bisa bicara. Salah seekor buaya tersebut (sebagai perwakilan) menyampaikan sesuatu kepada Thomas…
Buaya    : Tenang Mas, KAMI DARI UI...
(asal kamu tahu, Thomas tidak diselamatkan oleh Tuhan, melainkan oleh Google. Karena Google-lah sang penyelamat sejati bagi mahasiswa)

Kalau lulusan ITB dan UI saja harus menjalani profesi yang mengenaskan di kebun binatang, lalu apa yang terjadi dengan dengan lulusan Undip yang peringkatnya di bawah mereka?

Tenang Sob, masih banyak lulusan Undip yang bekerja di Chevron, Slumberger, dan Freeport. Juga ada yang di Pertamina, BI, Mandiri, dll. Tapi tetap saja: LEBIH BANYAK LULUSAN ITB DAN UI YANG KERJA DI SANA…

Saya mencoba menulis tulisan ini sambil mendengar lagu ‘Mondo Bongo’, Theme song dari film Mr. & Mrs. Smith yang diperankan oleh pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie. Ceritanya saya baru saja potong rambut cepak ala Brad Pit (tujuan utamanya adalah: buang sial), dan membayangkan sedang berdansa sensual dengan Angelina Jolie di tengah guyuran hujan dan pengaruh sampanye, seperti adegan di film tersebut. Tapi ternyata susah, dan selalu gagal. Yang terbayang malah saya berdansa sensual dengan TORA SUDIRO

Orang bilang, pekerjaan yang paling baik adalah pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat kita. Saya selalu merasa punya bakat untuk menjadi seorang seniman; baik itu penulis, seni rupa ataupun sutradara. Dan ternyata, pekerjaan yang paling banyak mendatangkan rezeki di negeri ini adalah dengan menjadi artis. Entah itu menjadi pemain sinetron, penyanyi, atau anak band. Kalau saya bilang mah… mereka itu bukan artis (artist dalam bahasa Indonesia adalah seniman). Mereka hanya sebatas selebritis (dengan kata lain: orang terkenal). Punya apa mereka? Lihat Ayu Ting-Ting. Modal cantik dan suara bagus doang bisa jadi artis… Aneh.

Yang  merasa seniman/musisi  betulan, seringkali bergerak di jalur indie. Mereka mencoba bertahan dari godaan kipas-kipas rupiah produser Dahs#at dan Inb#x untuk bernyanyi lip sync tiap pagi. Mereka biasanya memiliki ciri khas dan keanehan tersendiri yang biasa mereka sebut sebagai kualitas. Dan mereka bangga akan itu. Padahal, tidak semua yang aneh itu berkualitas, tidak semua yang aneh itu indah. Baru-baru ini saya mendengar sebuah lagu dari band indie (saya lupa dengan nama band dan judul lagunya). Liriknya begini: KITA ADALAH SEPASANG KEKASIH YANG PERTAMA BERCINTA DI LUAR ANGKASA.

Lagunya enak, tapi tidak masuk akal. Ada yang bisa kasih tahu saya bagaimana caranya bercinta di luar angkasa? Teknik foreplay apa yang digunakan sehingga merasa enak bercinta di luar angkasa? Berdasarkan ilmu fisika (saya tidak bisa menurunkan rumusnya), gravitasi memegang peranan dalam menentukan kecepatan gerak benda. Jadi, ketika anda memegang sebuah batang, dan menggerakkannya naik dan turun, akan lebih terasa enak jika dilakuan di bumi daripada di bulan (kaitannya dengan pencapaian kecepatan maksimal). Saya jadi membayangkan sebuah dialog sepasang kekasih yang benar-benar melakukan itu
Cowok: sayang… aku boleh ga cium kamu?
Cewek: boleh dong sayang
Cowok: buka dong, helm kamu
Cewek: (membuka helm) hek… hekk… hekkk… hek…. AAAAaakkkk (suara kecekik kehabisan napas, lalu mati)
Cowok: mampus lo cewek matre, pake sok-soka an segala bercinta di luar angkasa. Mahal beg#...
Atau seperti ini:
Cowok: sayang, aku masuk ya… (sorry buat yang ga bisa bayangin, berarti imajinasi anda lemah)
Cewek: ah..ah.. ah..ah.. ah..ah.. ah..ah.. ah..ah.. Ooohh Yeesss (desahan bergairah ala artis bok#p yang DIPERLAMBAT 8 KALI karena ceritanya lagi di bulan).
Cowok: (menggerakkan pinggangnya naik turun dengan kecepatan 1/32. Mukanya mulai memerah, ga bisa mencapai kecepatan maksimal, cuma bisa pelan-pelan sehingga susah ‘nyampe’)
Cewek: (ala wayang orang kena diabetes) sendiko dawuh kang mas… mbok yang agak cepat. Ndak terasa ini…
Begitulah sodara-sodara. Menyusahkan bukan?

Untuk menjadi seorang artis, tidak hanya dibutuhkan bakat dan teknik, tetapi juga dibutuhkan aura. Aura ke-artisan seseorang akan muncul seiring berjalannya waktu selama ia tetap konsisten berkarya. Berbicara soal aura, saya memiliki seorang teman yang sangat kuat auranya (saya juga salut sama dia). Namanya Arie Budi Prakoso. Dengan auranya, dia mampu melakukan storytelling yang sangat memukau. Saya tidak heran kalau suatu hari dia menjadi seorang motivator seperti Mario Teguh atau Andrie Wongso. Sumpah, dia mampu menarik banyak orang untuk berlama-lama mendengarkan ceritanya, meskipun banyak orang tersebut SEMUANYA LAKI-LAKI.

Suatu hari Arie, saya, dan teman-teman berkumpul bersama, dan Arie pun memulai aksinya. Kali ini saya memilih untuk tidak memerankan diri sendiri (nanti kamu juga bakal tahu alasannya). Katakanlah saya sebagai Mario, dan Arie memulai kisahnya:
PS: cerita ini mungkin agak vulgar bagi sebagian orang… jadi, maafkanlah

Suatu hari ada seseorang pria datang ke suatu hutan dengan mengendarai sepeda. Di sana ia bertemu dengan suku pedalaman yang (ternyata) semua anggotanya perempuan. Mereka sangat heran melihat kendaraan yang dinaiki pria tersebut karena meraka belum pernah meliha itu sebelumnya. Mereka lalu bertanya kepada pria tersebut
Suku  : itu apa? Binatang apa yang kamu naiki, kok kakinya bulat dan ada dua?
Pria    : mau tahu?
Suku  : IYA
Pria    : sepong duluuuu….
Besoknya sang pria kembali dengan membawa motor. Para perempuan suku pedalaman yang tidak pernah meilhat mobil sebelumnya bertaya.
Suku  : itu apa? Yang ini kakinya dua, bulat juga. Tapi suaranya ribut. Ini binatang apa?
Pria    : mau tahu?
Suku  : IYA
Pria    : sepong duluuuu….
Besoknya sang pria kembali dengan membawa mobil. Para perempuan suku pedalaman yang tidak pernah meilhat mobil sebelumnya bertaya.
Suku  : itu apa? Binatang apa yang kakinya empat dan bulat?
Pria    : mau tahu?
Suku  : IYA
Pria    : sepong duluuuu….
Besoknya sang pria membawa kili-kili
(sampai di sini Arie menghentikan ceritanya dengan dramatis. Mario yang merasa digantung, dengan rasa keingintahuan yang membuncah, lalu bertaya)
Mario  : kili-kili itu apa?
Arie    : MAU TAHU? SEPONG DULUUUU…. (diiringi suara tawa dari teman-teman)
Dan besoknya Mario ke FIF buat kredit kili-kili.

Ok, sekian dulu. Silakan lanjutkan aktivitas anda. Thanks for reading. K&D signing off.





:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

20 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive