20

K&D Learns Storytelling (2)

Posted by Pambayun Kendi in ,
Kalau anda pernah melihat di adegan sinetron, FTV, atau bahkan film layar lebar sekalipun, ada mahasiswi yang memakai tank top, hot pants, lingerie, dan sebangsanya ke kampus, saya nyatakan itu adalah HOAX. Saya jadi bertanya-tanya: survey di mana sih, yang nulis cerita (Kok ga ngajak-ngajak)? Saya sudah pernah berkunjung ke beberapa kampus, bahkan ke pusat mahasiswi-mahasiswi cantik sekalipun: FK Unpad, tapi tidak menemukan hal-hal yang seperti itu. Setiap kampus pasti memiliki regulasi yang jelas perihal berpakaian ini. Jadi tolonglah… para pembuat film di Indonesia. Hal-hal detail semacam itu tolong di perhatikan. Seniman dihargai karena perhatiannya kepada hal-hal detail. Atau ‘kesengajaan’ ini ditujukan secara frontal untuk menarik konsumen seperti yang diajarkan teknik standar marketing paha-dada? Saya pikir sudah bukan zamannya lagi… Suzanna sudah wafat dan Eva Arnaz juga sudah pakai jilbab. Ya Allah, ampunilah Julia Perez…

Berbicara mengenai mahasiswi, tidak bisa dipungkiri, bahwa inilah salah satu yang menjadi daya tarik di dunia perkuliahan untuk mahasiswa yang bukan termasuk kategori ‘maho’. Karena pernah beredar data statistik yang cukup mengejutkan:  50% mahasiswa Fakultas Teknik adalah Maho… dan setelah saya konfirmasi lagi, ternyata 50% sisanya adalah pasangannya. Selasar ruang kelas, teristimewa buat jurusan arsitektur, bagaikan catwalk bagi para jomblo, termasuk saya, dan kami adalah dogrun-nya. Sudah biasa melihat para mahasiswa nongkrong di selasar dengan mulut menganga (meskipun mahasiswi yang lewat tak satupun yang mengenakan tank top, hot pants, atau lingerie seperti di film-film). Bahkan pernah teman di sebelah saya sampai menjulurkan lidah dan meneteskan air liur. Teman yang disebelahnya lagi sampai kejang-kejang dengan mulut berbusa. Bukan karena jomblo. Kemungkinan besar: EPILEPSI.

Satu hal yang saya sesali sekarang ini adalah bahwa saya terlalu cepat lulus, sehingga saya tidak berkesempatan lagi menikmati layanan eye laundry tersebut. Entah kenapa, mungkin karena bisikan setan yang sedang baik, saya jadi bernafsu untuk lulus dengan cepat. Bahkan, saya ‘push the limit’ sehingga ‘tanpa disengaja’ bisa lulus dengan predikat cumlaude (meskipun berada pada limit yang paling bawah). Setelah lulus, ternyata saya mendapati kenyataan yang sangat mengenaskan: PREDIKAT CUMLAUDE TIDAK BISA DIGUNAKAN SEBAGAI SYARAT PENGAJUAN KPR. Bahkan saya coba ke bank syariah tetap tidak bisa… jadi berpikirlah kembali jika datang godaan untuk lulus cepat-cepat, wahai mahasiswa. Dan jangan sekali-kali berfikir untuk lulus dengan predikat cumlaude.

Berbicara mengenai relationship antara mahasiswa-mahasiswi (relationship dalam artian umum, bukan seperti in relationship pada status FB), saya memiliki pengalaman. True story. Untuk itu, saya akan menyamarkan diri sebagai Mario, karena yang saya ceritakan adalah aib. Waktu itu, di semester satu (sekitar 2007), ketika saya (maksudnya Mario) masih menyandang status newbie, lengkap dengan kacamata besar dan behel. Saya merasa beruntung tidak mempertahankan itu hingga 2011, karena ternyata masih banyak yang demikian adanya. COME ON… WHAT’S WRONG WITH U GUYS…

Sehabis yudisium, biasanya diadakan semester sisipan bagi mahasiswa yang ingin memperbaiki nilai. Dari kos-kosan Mario sudah mempersiapkan sejumlah uang yang akan digunakan untuk membayar biaya administrasi semester sisipan. Dia sengaja menggunakan jatah bulanan karena (menurutnya) semester sisipan adalah resiko yang harus ditanggungnya karena tidak serius menjalani semester reguler. Sesampainya di kampus dan sehabis melihat daftar nilai, ternyata Mario tidak perlu mengikuti semester sisipan dalam jumlah SKS yang banyak. Dua SKS cukup (persis tagline KB). Artinya: jatah bulanan aman. Mario kemudian menuju ke Bagian Pengajaran untuk mendaftar dan membayar biaya administrasi. Antara pendaftaran dan pelaksanaan semester sisipan, biasanya ada rentang waktu sekitar satu bulan untuk proses birokrasinya.

Di depan bagian pengajaran, Mario ngantri tepat di belakang teman sekelasnya. Cewek. Cantik. Kalau boleh menilai secara objektif, dia sangat mirip dengan Aura Kasih. Aura Kasih yang INI, bukan yang INI. Karena antrian yang cukup panjang, si cewek (sebut saja Aura) dan Mario akhirnya terlibat dalam sebuah percakapan. Tentu saja yang berinisiatif duluan adalah Aura. Mario kan Maho.
Aura    : Mario, kamu ikut sisipan juga?
Mario  : (sambil menunduk 30 derajat) iya nih…
PS: Mario menunduk bukan karena ‘menjaga pandangan’, melainkan pemandangan yang di bawah justru lebih indah. Posisi ini awalnya tidak disengaja. Tetapi, karena pandangan pertama adalah rezeki dan pandangan kedua adalah dosa, maka Mario berusaha sekuat tenaga menjadikan momen ini supaya TETAP MENJADI PANDANGAN PERTAMA.
Aura    : berpa SKS?
Mario  : dua, kamu?
Aura    : dua belas (pembuktian Hukum Newton)
Mario  : ooooo….
Aura    : eh, nanti kamu ajarin aku ya… soalnya aku susah ngerti penjelasan dosen.
Mario  : ya, boleh (dalam hati: yess… akhirnya momen ini datang juga… terima kasih Tuhan, lalu sujud syukur)
Sesampainya di depan bagian pengajaran.
Aura    : ya ampun, aku lupa bawa uang lebih… (membalikkan badan sambil mengibaskan rambut dengan gerakan slow motion ala sinetron ke arah Mario)
Mario  : Hah? (bagai di sambar petir di hujan deras, Mario mengerti arah pembicaraan ini)
Aura    : Mariooooo (persis ustadz di TV yang punya tagline: jamaaaaahhhh)
Mario  : YA UDAH, KAMU PAKE UANG AKU DULU AJA…
Aura    : makasih ya Mario, nanti (maksudnya sebulan lagi) aku ganti
Dan mulai besoknya, selama satu bulan, Mario berhenti sarapan.

Sebenarnya, kita para cowok, telah terjebak pada suatu sistem yang tidak menguntungkan dalam waktu yang sangat lama. Bahkan telah ada semenjak manusia pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Kita seakan telah diprogram untuk ‘selalu’ mengikuti setiap perkataan cewek. Ladies first. Benar kata Soleh Solihun: kalau Adam tidak mengikuti apa kata Hawa, kita masih hidup di surga saudara-saudara… Maka dari itu, Mario dan juga anda saudara-saudara, kita harus mempersiapkan diri dan memikirkan benar-benar bagaimana caranya lepas dari sistem yang tidak menguntungkan tersebut. Hari ini Aura, Mario sudah kalang kabut. Bagaimana kalau harus menghadapi Malinda Dee? Bisa berbusa di tempat dia. Pulang-pulang ke Indomar#t, beli sabun.

Cerita cowok-cewek memang tidak ada habisnya. Orang bilang (jujur saya tidak kenal orangnya) kalau cowok berfikir dengan otaknya, sedangkan cewek dengan hatinya. Tapi saya kenal satu orang lagi, sebut saja De, yang berfikir dengan dengkulnya. Jadi, jika spesies manusia digolongkan berdasarkan organ berfikirnya, maka akan terdiri dari tiga golongan: cowok, cewek, dan De (De, dimanapun kamu berada sekarang, saya tetap salut sama kamu karena kamu lebih pintar dari saya. Meskipun kamu berfikir dari tempat yang tidak biasa). De jika di analogikan dengan karakter di film Jomblo, dia adalah MULADI. Pada suatu hari…
Mario : wah, cantik juga tuh cewek
De      : oh, yang itu. Nih DOMPET-nya ada di aku!
De selalu saja punya cara untuk bisa berdekatan dan ngobrol panjang lebar dengan cewek, meskipun kami semua  tahu, setelah ngobrol dengan De tuh cewek-cewek selalu ke toilet dan mengeluarkan suara-suara yang tidak mengenakkan. Entah kenapa, mungkin hamil. Pernah suatu kali, karena penasaran, kami memperhatikan De ketika ngobrol dengan cewek.
De       : semalam aku kirim malaikat buat jagaian kamu, tapi ternyata dia balik lagi
Cewek : oh ya? Kenapa?
De       : iya. Malaikatnya bilang, masa malaikat jagain malaikat?
Kami semua merasa heran dan geleng-geleng kepala berbarengan. Seakan tidak percaya dengan apa yang telah De ucapkan. 2011, dan De masih menggunakan kalimat-kalimat gombalan ala Firaun. Dan anehnya lagi, si cewek tidak segera pergi meninggalkan De. Ada apa dengan cewek itu? Apa dia tidak punya otak? Mikir pake apa sih? Berarti benar apa yang orang bilang kalau cewek adalah spesies yang tidak mengguanakan otaknya untuk berfikir. Saya (maksudnya Mario) melirik jam-tangan, penasaran berapa menit cewek tersebut mampu bertahan. Dua menit kemudian Arie, salah satu dari kami, mulai kasak-kusuk hendak meninggalkan lokasi.
Mario : mau ke mana Rie?
Arie    : toilet
Mario : (ya ampun, Arie hamil? Sakti bener si De. DEEE… JADIKAN AKU MURIDMUUU!!!!)

Terinspirasi oleh De, akhirnya Mario memutuskan  untuk mencoba peruntungannya. Ceritanya sudah tahun ke-4 dan Aura sudah lulus lebih dahulu (hukum Newton terbantahkan, diganti dengan teori relativitas Einstein). Mario memilih Em sebagai targetnya. Em adalah seorang cewek yang cantik, tinggi, dengan rambut panjang se-bahu. Makin cantik kalau dia mengenakan kaca mata, kemeja flanel dengan tank top di dalamnya, dan sepatu kets. Dikarenakan Mario zero experience dengan urusan semacam ini, maka ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan sahabat sejati mahasiswa: Prof. Google. Mungkin jika bukan karena Prof. Google, tidak satupun mahasiswa di Indonesia bisa mendapatkan gelar sarjana. Thanks Prof.

Mario akhirnya menemukan fakta bahwa, dalam suatu hubungan sosial, orang cenderung menyukai orang lain yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan bisa berupa hobi, cara berpakaian, benda koleksi, makanan kesukaan, dll. Dan Mario google-ing, mencari apa yang kira-kira disukai wanita. Setelah dirasa cukup, Mario memberanikan diri mengahampiri Em
Mario : lagi ngapain Em?
Em     : (terpana melihat Mario)
Mario : kenapa? Ada yang aneh?
Em     : ngik… ngik… ngik… ngik… ngik… ngik… (suara aneh ini adalah suara ketawa-nya Em)
Mario : kamu ketawa kenapa? Ada yang lucu?
Em     : kamu
Mario : aku? Apanya?
Em     : ngik… ngik… ngik… ngik… ngik… ngik…
Mario : aku pikir, karena kita sudah punya sedikit ‘kesamaan’, mungkin kita bisa ngobrol. Menurutku…
Em     : iya sih Mar, tapi ga pake tank top juga kalee… kancingin gih  kemejanya. Ya ampun! Itu pipi merah-merah pake blush on? Ya ampun Mario… ngik… ngik… ngik… ngik… ngik… ngik…

Peristiwa di atas bukanlah peristiwa yang paling memalukan yang pernah dialami Mario. Pernah suatu ketika Mario ngobrol dengan seorang cewek, yang ternyata freak sama drama Korea, sedangkan Mario sudah terang-terangan mem-proklamirkan dirinya sebagai K-pop hater di hadapan teman-teman cowok. Baginya, K-pop adalah semacam trojan yang harus dibasmi sebelum terlanjur merusak sistem yang sudah ada. Demi menjaga percakapan tetap berlangsung dan demi menjaga hubungan ‘kesamaan’, Mario basa-basi ngopy drama Korea yang judulnya My Girlfriend is a Gumiho (pacarku adalah seorang siluman babi) dari cewek itu. Ada 16 episode, dan Mario baru ngopy setengahnya (yaelah… buat  basa-basi doang).
Cewek : jangan lupa ditonton ya Mar… bagus lho ceritanya
Mario   : ay ay kapten (dalam hati Mario bersumpah untuk tidak menontonnya barang satu episode pun)
Sesampainya di kos, Mario memerikasa flash disk-nya untuk persiapan mengerjakan tugas buat lusa. Iseng, dia membuka folder drama korea yang barusan di copy. Makin iseng, dia play. Keesokan harinya…
Cewek : hey Mar, tugas buat besok gimana? Udah selesai?
Mario   : belum nih. AKU NGOPY DONG, SISA YANG KEMAREN…
Mario bertransformasi from hero to homo.

Lanjut ke cerita Mario dan Em. Mario kembali google-ing dan menemukan fakta bahwa cewek suka dengan cowok yang romantis, dan kebanyakan cowok romantis adalah musisi. Cewek suka dengan cowok yang membawakan lagu untuknya. Kali ini Mario tidak ambil resiko untuk gambling. Mario langsung meluncur ke profile FB-nya Em untuk mengetahui musik kesukaan Em. Dapat. Ternyata Em suka dengan band Efek Rumah Kaca (ERK). Mario google-ing, dan men-download semua lagu dari ERK. Siang malam Mario latihan dan bertekad suatu hari akan membawakan lagu ERK di hadapan Em.

Hari yang dinantikan pun tiba. Mario siap lahir-batin. Di ruang studio yang sepi, hanya ada Mario, Em, dan sebuah gitar berdiri di pojok ruangan (entah bagaimana ceritanya, pokoknya sudah ada gitar di situ). Mario bergerak tenang menuju gitar, mengambilnya dengan anggun dan berjalan perlahan ke depan Em. Em yang sedang menggambar di kertasnya berhenti sejenak karena merasakan kehadiran Mario. Dia perhatikan Mario sebentar, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mukanya mulai pucat, karena takut akan diperkosa Mario (lho?). Mario tersenyum sembari memainkan jarinya pada senar-senar gitar, menyayikan lirik demi lirik lagu dari ERK. Em tegang, kali ini mukanya benar-benar pucat. Ia berdiri, lalu tergesa-gesa meninggalkan ruangan sambil menutupi mulutnya. Apa yang terjadi? Apa Em terharu dengan lagu yang dimaikan Mario? Apa usaha Mario kali ini berhasil? Kalau berhasil, kenapa Em jadi pucat? Kenapa Jupe belum juga berdamai dengan Dewi Persik? Kenapa DPR meminta renovasi toilet? Pertanyaan beruntun mulai menjejali kepala Mario. Sepuluh menit kemudian, seorang mahasiswi masuk ke studio. Mario menanyainya perihal Em.
Mario        : Em kenapa?
Mahasiswi : ga tau, katanya kepalanya pusing. Dia muntah-muntah di toilet…
Mario        : hah? Hamil? Masa gara-gara lagu bisa hamil? (salut saya sama kamu Mr. Cholil, bisa meggubah lirik-lirik yang dalam dan menyentuh).
Belakangan Mario baru menyadari kalau dia menyanyikan lagu ERK yang salah: BUKAN LAWAN JENIS

Aaaakuu taakuut kamuu… sukaa padaa dirikuuu…
karnaaa meemangg aku bukan lawan jenismuuu… uuu


Mario tidak menyerah, Mario google-ing lagi. Kali ini dia Mario mendapat pencerahan (yang benar-benar cerah) dari Prof. Google: cewek suka dengan cowok pintar. Mario bertekad untuk lulus tahun ini dengan predikat cumlaude. Tamat.

PS: ikuti link-nya (download kalau perlu), biar makin maut ceritanya…





:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

20 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive