10

K&D Learns Storytelling (5)

Posted by Pambayun Kendi in ,
Beberapa tahun belakangan, saya mulai merasa bahwa hidup saya selalu di penuhi dengan angka tiga dan satu. Mungkin karena saya memang terlahir pada tanggal 31 Januari, atau entahlah. Yang jelas, saya menjadi sedemikian terobsesi. Contoh yang paling gamblang adalah saya menamatkan SMP selama TIGA tahun, demikian juga dengan SMA, juga tiga tahun. Ajaib kan? Selain itu, saya juga memiliki SATU ekor kucing peliharaan dan SATU keping DVD film ‘Pursuit of Happyness’ meskipun bukan yang asli. Tidak berhenti sampai di situ, saya mencoba terus menggali dan menggali untuk kemudian menemukan sejumlah fakta: sholat maghrib TIGA rakaat dan naik haji wajib SATU kali seumur hidup.

Mengenai permainan angka, memang identik dengan perjudian. Jelas, saya tidak ingin terlalu jauh bersentuhan dengan yang namanya perjudian. Dulu memang, saya pernah mencoba mereka-reka nomor melalui mimpi. Tapi kok aneh, yang keluar angka 69 terus. Dan yang mampir dalam mimpi saya orangnya juga itu ke itu saja. Kalau nggak Maria Ozawa, ya Tora Sudiro (sekali-sekali Surya Saputra kalau Tora Sudiro berhalangan hadir). Alhasil, saya tidak jadi pasang nomor.

Ada satu perjudian yang (secara harfiah) pernah saya ikuti, dan saya yakin teman-teman juga pernah mengikutinya semasa SD dulu. Permainan ‘cabut nomor’. Sungguh bejat itu bandar judi yang mengemas perjudian sedemikian rupa menjadi permainan anak-anak. Rules-nya persis seperti arisan, kertas-kertas bertuliskan angka digulung atau dilipat, lalu dibeli dengan sejumlah uang (uang jajan pastinya). Jika kertas yang dicabut bertuliskan angka (karena memang tidak semua kertas bertuliskan angka), maka kita mendapatkan hadiah sesuai dengan angka yang tertulis. Misalnya: angka lima dapat robot-robotan, angka tujuh dapat pensil, angka dua belas dapat buku tulis, dsb. Biasanya, hadiah terbesar dan termahal terdapat pada angka satu, dan true story, pada waktu itu hadiah nomor satu adalah (Masyaallah) sebuah SAJADAH. Ini maksudnya apa? Apa harus bikin dosa dulu baru bertobat? Atau jangan-jangan perjudian ini juga menganut SISTEM BAGI HASIL? Cuma Tuhan dan ‘bandar judi’ yang tahu. 

Pasangan angka 31 menurut saya adalah 13, dan setiap perempuan yang lahir di tanggal 13 memiliki satu kewajiban: WAJIB CANTIK. Karena ia akan berpasangan dengan seorang lelaki dengan tanggal lahir 31, yaitu saya (wow KOMPOR). Kalau orang bilang angka 13 adalah angka sial, bisa jadi di situ letak kesialannya. Tapi saya yakin, bahwa kami akan menjadi pasangan yang selalu berada dalam Ridho Ilahi. Saya akan menjadi seorang ahli syukur karena dikaruniai pasangan yang cantik, dan dia akan semakin jauh dari siksa neraka karena akan sering-sering ber-ISTIGHFAR. Mudah-mudahan tiada sesal darinya, apalagi sampai guling-guling di tanah. Mamah, kotor dong bajunya… (dengan suara diberat-beratkan ala iklan permen pelega tenggorokan)

Sewaktu saya duduk di bangku kelas dua SMA, saya pernah dites menggambar pohon oleh guru BP. Teman-teman semua pasti sudah tahu tentang tes menggambar pohon ini, di mana psikolog dapat membaca seluk-beluk kepribadian kita dari gambar pohon yang kita gambar. Pohon yang digambar pun haruslah sedetail mungkin, pohon yang berkambium dan bukan pohon-pohon, seperti: pisang, jagung, padi, atau beringin. Setelah saya mengikuti tes tersebut, saya kemudian dipanggil oleh guru BP untuk berbicara empat mata. Awalnya biasa saja sewaktu saya mendatangi guru BP tersebut, tetapi setelah beliau dan saya berhadap-hadapan, beliau malah senyum-senyum sendiri. Karena penasaran, saya pun bertanya, dan sang guru BP memberikan sebuah jawaban penuh makna dengan efek seolah-olah saya disambar petir: besok-besok ONANI-nya dikurangi ya….

Saya semakin penasaran. Saya mohon izin untuk membawa pulang hasil gambar saya. Tiga hari tiga malam saya mencoba mencari petunjuk gambar yang membuka aib tersebut.  Pada hari ke-empat, saya mendapati, ternyata saya menggambar seekor BURUNG KENARI kecil pada sebuah ranting di pohon tersebut. Ya ampun, burung kenari. Ternyata awal terbukanya aib saya adalah karena gambar seekor burung kenari. Mulai hari itu saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Jika diminta menggambar pohon lagi, saya tidak akan berimprovisasi menggambar burung kenari. Tapi untungnya, saya hanya menggambar seekor burung kenari. Coba bayangkan kalau saya menggambar dua ekor burung kenari, atau bahkan tujuh. Saya yakin, sang guru BP tidak akan tersenyum-senyum kecil melainkan tertawa sambil guling-guling di lapangan upacara. Dikiranya saya onani BERSAMA TEMAN-TEMAN, persis acara anak-anak di TV.

Setelah saya lulus kuliah, saya berkesempatan mengikuti psikotes di salah satu perusahaan terkenal. Pucuk dicinta ulam tiba, salah satu sesi psikotes tersebut juga mengharuskan saya untuk menggambar pohon. Karena telah mengetahui kuncinya, saya tenang-tenang saja menghadapi tes ini. Ketika peserta lain sudah mulai kasak-kusuk menggambar, saya masih belum mulai. Saya malah asyik memperhatikan recruiter yang mulai mondar-mandir mengawasi peserta tes. Ada dua recruiter perempuan, yang menurut saya cukup cantik dengan dandanan ala office hour  yang cukup menggoda iman (Syahbandar mah, lewat), dan seorang recruiter laki-laki yang mengenakan kemeja slim fit warna biru tua. Sepertinya ia seorang ‘PRIA FITNESS’. Terbentuk jelas tubuh yang atletis di balik kemeja slim fit-nya. Ketika recruiter memberitahukan waktu yang tersisa tinggal 30 detik, dengan penuh kepercayaan diri saya menggambar pohon tersebut. Saya memang sudah sangat yakin lulus. Dan hasilnya, saya memang lulus pada hari itu.

Pertanyaannya, pohon macam apakah yang saya gambar? Hari itu saya menggambar pohon lengkap dengan seekor BURUNG GARUDA besar bertengger di dahannya. Jadi pesan moralnya, ketika anda akan bertanding, anda tidak cukup hanya mengenal lawan anda. Kenalilah juga WASIT-nya.

Singkat cerita, saya berhasil lanjut hingga tes kesehatan. Keadaan ini cukup membuat saya percaya diri untuk bisa diterima di perusahaan tersebut. Ternyata salah. Di sinilah terjadinya titik balik yang mengacak-acak paradigma saya. Buat teman-teman yang juga sedang mencari pekerjaan, saya berpesan untuk sekali-kali jangan meremehkan tes kesehatan. Tes kesehatan tidak hanya menguji FISIK saja, tetapi juga kesehatan JIWA. Tes darah, sukses. Tes mata, gampang. Tes fisik, oke. Rontgen, cincai. Tinggal satu tes terakhir, yaitu tes urin. Untuk tes urin ini, wajib dilakukan pendampingan ketika mengambil sampel di ruang toilet. Saya jadi tidak habis pikir, ini buat apa? Apakah saya akan benar-benar aman di dalam? Apakah orang yang mendampingi telah benar-benar mengantongi serifikat bebas homo? Apakah ada jaminan kalau sehabis keluar dari toliet, saya tidak akan mencintai laki-laki?

Saya beri tahu sekarang, perilaku homo itu menular seperti virus. Bahkan virus homo jauh lebih berbahaya daripada virus HIV. Virus HIV menular jika hanya terjadi pertukaran cairan tubuh, tidak melalui sentuhan. Sedangkan virus homo hanya dengan pandangan mata saja bisa menular, apalagi dengan sentuhan, jelas lebih cepat. Status laki-laki normal anda akan dengan cepat terdegradasi menjadi ODHO (Orang Dengan Perilaku Homo).  Makanya, saya jadi merasa khawatir ketika ada peserta tes yang keluar toilet sambil senyum-senyum. Kayanya tuh legaaaa banget.

Sekali waktu saya pernah ngobrol di sebuah angkringan, dengan beberapa orang yang telah bekerja di perusahaan-perusahaan terkenal. Buat saya, mereka adalah orang-orang hebat. Betapa tidak, mereka mengajarkan saya cara yang paling baik dan benar dalam memilih pekerjaan. Pekerjaan yang terbaik adalah pekerjaan yang sesuai dengan kesukaan dan minat masing-masing, karena sejatinya kita akan berkecimpung di pekerjaan tersebut dalam waktu yang cukup lama. Biar enjoy cyin. Orang-orang tersebut adalah Mas Andi, Mas Budi, Mas Ruri, Mas Panji, dan Mas Dani. Mereka dari panti asuhan mana? Kok nama belakangnya I semua?
PS: penyebutan nama perusahaan-perusahaan tidak dimaksudkan sebagai media promosi, melainkan hanya memperjelas isi cerita.
Mario mode: on.
Mario  : Mas Andi kerja di mana Mas?
Andi    : Saya kerja di PT HM Sampoerna.
Mario  : Ooo, memang dulunya Mas Andi hobinya apa?
Andi    : Kalau saya hobinya main musik, Mar. Dulu saya anak band. Saya paling suka sama Andra and The Backbone. Sempurnaaa….
Mario  : Bisa aja Mas Andi. Kalau Mas Budi?
Budi   : Kalau saya kerja di Agung Podomoro. Dulu saya suka hang out sama teman-teman. Tiap malam Minggu, saya pasti kongkow-kongkow.
Mario  : Lha, apa hubungannya hobi kongkow sama kerja di Agung Podomoro?
Budi    : Jelas ada, dong. Kalau kongkow, saya biasanya suka bakar-bakar agung. Kadang-kadang makan agung rebus, kalau sambil nonton sama pacar sambil makan berondong agung (plesetan cuy).
Mario  : Hahahaha…. Oke Mas, plesetannya. Kalau Mas Ruri pasti suka belajar ya?
Ruri     : Lho, kok tau?
Mario  : Soalnya ada lagunya. Ruri adalah abangku, rajin dan senang belajar….
Ruri     : Ah, bisa aja kamu Mar. Saya memang suka membaca. Koran, buku, majalah, semuanya saya baca. Selain itu saya juga suka diskusi, apalagi soal politik. Suka banget. Saya bahkan sampai nge-fans sama Gus Dur. Jujur, Gus Dur-lah yang menginspirasi saya sehingga saya bisa bekerja di perusahaan yang sekarang ini.
Mario  : Maksudnya?
Ruri     : Gitu aja kok Freeport. Hahahaha….
Mario  : Keren Mas, keren. Kalau Mas Panji?
Panji   : (Dengan logat jawa yang kental) Kalau saya ini, Mas Mario, suka nonton OVJ. Lha makane saya kerja di PT Sido Muncul. Podho-podho jowone gitu lho (sama-sama jawa-nya gitu lho).
Mario  : Terakhir nih, Mas Dani. Kerja di mana?
Dani    : Saya di Chevron.
Mario  : Wah, keren tuh. Hobinya apa Mas?
Dani    : Tidur.
Mario  : Tidur?
Dani    : Iya, tidur. Dan biasanya kalau habis tidur saya selalu menghabiskan waktu lama di kamar mandi. Itu  yang membuat saya ‘galau’ sampai sekarang.
Mario : Ah, biasa aja sih Mas. Normal. Saya kadang-kadang juga suka begitu. Habis mimpi sama siapa Mas? Angelina Jolie? Jessica Alba? Hot babes tuh dua-duanya.
Dani    : Nggak kok.
Mario  : Hmmm… Produk lokal barangkali. Domestik?
Dani    : Ah, nggak juga.
Mario  : Lha, terus siapa dong? Jadi penasaran.
Dani    : Juan Sebastian Chevron. PEMAIN BOLA.
Mario  : (!@#$%&*) Buk'e, saya pesan baygon anget satu. Gak pake lama ya….

Begitulah kira-kira gambaran situasi dunia kerja. Memang, idealisme masih dibutuhkan dalam bekerja dan mencari pekerjaan. Jangan sampai tujuan utama dalam bekerja adalah semata-mata uang. Money oriented. Jika demikian adanya, kita akan cenderung menghalalkan segala cara, atau minimal menjadi tolerir terhadap ketidakwajaran yang terjadi. Setelah dua-tiga bulan kemudian, kita mungkin bisa menjadi ‘pria fitness’ dengan kemeja slim fit atau penggemar (pemain) sepak bola. Oh ya, saya akhirnya tidak lulus tes kesehatan. Tidak perlu bersedih, saya cukup merasa beruntung. Karena belakangan saya mendapat informasi, ternyata perusahaan tersebut suka menelantarkan uang gaji karyawannya. Kadang sampai tanggal 32 belum gajian, malahan pernah sampai tanggal 33 juga belum gajian.
***
Seorang dosen saya pernah berkata: jangan pernah menggunakan kata MUNGKIN, baik ketika berbicara, apalagi bertindak. Harus pasti, terima resikonya belakangan.

Thanks for reading.
K&D: The Super January Boy yang ga boyband





:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

10 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive