14

K&D Learns Storytelling (7)

Posted by Pambayun Kendi in ,
Mendapatkan pekerjaan, mungkin itu yang terpatri alamiah dan indah di lipatan benak ratusan lulusan perguruan tinggi di Indonesia; setiap tahunnya. Semakin bertambah, seperti semut saja  jumlah lulusan perguruan tinggi ini (ingat, semut memang dilahirkan untuk bekerja). Tidak ada yang terlalu salah dan terlalu benar, tetapi kenyataannya persaingan mendapatkan pekerjaan memang berat. Apalagi mendapatkan pekerjaan impian, sebuah pekerjaan yang digadang-gadang akan mampu memberikan jaminan kemapanan hingga tua kelak, disamping memuaskan diri sendiri secara batiniah melalui job description yang memang diidamkan. Semuanya indah ketika dibayangkan, semuanya bagus ketika memulai, dan semoga dapat bertahan hingga perjuangan pencarian usai.

Bursa kerja atau jobfair  merupakan momentum yang sangat dinanti-nantikan oleh para lulusan (baru) perguruan tinggi. Betapa tidak, event ini mempertemukan mereka dengan bermacam-macam perusahaan yang membuka bermacam-macam lowongan, pada satu tempat, satu waktu, dan satu kondisi fisik dan psikologis. Setidaknya mereka tidak perlu berlelah-lelah berkeliling, menghadapi beban mental penolakan sekuriti, seperti yang seringkali tergambar pada cerita-cerita lama. Mimimal bisa menghemat uang transport-lah.

Layaknya kumpulan organisme yang dapat diklasifikasikan, para peserta jobfair juga dapat dibagi dalam kelompok-kelompok. Coba saja perhatikan, misalnya, ada yang LAKI-LAKI dan ada juga yang PEREMPUAN. Kalau anda tidak sempat memperhatikan, berarti anda ROCKER. Atau mungkin anda bukan rocker, hanya saja tidak punya atensi dan orientasi detail untuk memperhatikan. Kalau begitu, kemungkinan anda terjangkit GEJALA FLU BABI (sekarang tinggal pilih, mau rocker atau flu babi: judgement yang aneh). Dikarenakan saya bukan rocker atau suspect flu babi, maka biarkan kali ini saya melaporkan hasil pengamatan saya. Perlu diingat, bahwa setiap orang sangat berhak untuk memilih pada golongan mana ia akan menginjakkan kakinya, namun tetap saja ada golongan-golongan yang harus mendapat perhatian lebih (baca: dikasihani), karena memang mereka pantas mendapatkannya. Berdoalah untuk mereka karena mereka juga saudara kita. Baiklah, Begini pengklasifikasiannya:
PS: jangan sekali-kali menjadikan klasifikasi ini sebagai rujukan dalam penulisan karya ilmiah, apalagi sampai co-pas. Sekali-kali jangan.
Juga, jangan menggunakan materi ini sebagai salah satu sumber dalam penulisan tesis untuk pengambilan gelar Magister. Karena dijamin anda akan MASUK TV (terserah, kalau masih mau nekat sih).

1.      Job Hunter
Disebut job hunter (pemburu pekerjaan) karena golongan ini menganggap pekerjaan layaknya binatang buruan yang tersedia di hutan belantara, siap untuk untuk diburu (baca: idealis). Pada dasarnya, para job hunter selalu apply pada pekerjaan-pekerjaan yang hanya sesuai dengan jurusannya semasa kuliah dahulu. Pilih-pilih. Pilih-pilih senjata, pilih-pilih umpan, dan pilih-pilih buruan. Mereka meyakini, bahwa jerat untuk rusa hanya cocok untuk menangkap rusa, bukan babi hutan.

Jika anda berkesempatan untuk memperhatikan tingkah laku peserta jobfair dari pintu masuk gedung kegiatan, biasanya para job hunter relatif lebih singkat menghabiskan waktu di dalam ruangan. Tidak sampai seharian, biasanya para job hunter sudah keluar dari ruangan. Ada lagi yang lebih cepat, cuma 10 detik sudah ke luar ruangan. Yang ini bukan job hunter, melainkan peserta yang lupa membeli tiket pendaftaran alias diusir sekuriti.
Para job hunter biasanya senang mengenakan atribut-atribut yang mewakili profesi incaran mereka. Kalau mengenakan sepatu tracking dan kemeja flanel, biasanya akan apply di perusahaan pertambangan (biasanya dari jurusan Teknik Geologi, Teknik Perminykan, dsb). Kalau kemeja polos lengan panjang yang digulung sampai siku, jeans, sepatu kets, dan potongan rambut semi-gondrong agak acak-acakan, kemungkinan besar akan apply di perusahaan yang begerak di bidang arsitektur atau desain grafis. Kalau yang pakai helm proyek, pasti anak sipil yang mau apply di perusahaan konstruksi. Sama juga, kalau yang bawa kunci inggris, pasti anak mesin. Kalau yang pakai topi ‘gembala sapi’, tas pinggang,  dan berkalung handuk, pasti TUKANG MINUMAN DINGIN.

Kebiasaan lain para job hunter adalah selalu melihat list perusahaan yang ikut jobfair, untuk kemudian dicocokkan dengan jumlah berkas (CV, copy transkrip, ijazah, dll) yang akan dibawa. Karena menurut mereka, berkas mereka terlalu berharga untuk di drop pada sembarang tempat. Menjadi idealis memang baik, tetapi satu hal yang harus diperhatikan oleh para job hunter : jangan sombong! Tetaplah rendah hati. Karena hanya menunggu waktu saja para job hunter (sombong) ini akan terpuruk menjadi job beggar.

  1. Job seeker
Nama lain bagi para ‘pencari kerja’. Berbeda dengan job hunter, para job seeker cenderung terlihat memanfaatkan semua kesempatan yang ada. Selain apply di perusahaan yang memang membutuhkan lulusan dari jurusannya, para job seeker juga senang mencari lowongan for all majors. Lowongan dari perusahaan manapun, untuk job description apapun.

Para job seeker biasanya mempersiapkan berkas lamaran sebanyak-banyaknya, untuk kemudian di drop di setiap dropping box yang memungkinkan. Prinsip mereka, melempar selebar-lebarnya jaring untuk mendapat sebanyak-banyaknya ikan. Jika sudah mendapat banyak ikan, tinggal pilih mana yang paling berat bobotnya dan paling enak untuk dimakan. Keturunan kucing, mungkin. Jadi jangan heran kalau melihat job seeker keluar ruangan jobfair dalam keadaan lusuh seperti belum mandi, karena ‘kucing’ memang tidak mandi (apa itu istilah MANDI KUCING?).
Dalam mengikuti jobfair, para job seeker biasanya akan bertahan selama mungkin di dalam ruangan kegiatan (tentu saja demi menjaga peluang). Kalau perlu sampai tetes keringat sekuriti terakhir. Adapun rumus untuk menjadi job seeker yang berhasil adalah sebagai berikut:
x(c+f+k+t+i)=y
x: jumlah total perusahaan yang ikut jobfair
c: biaya print curicullum vitae
f: biaya cetak foto 4x6
k: biaya fotocopy KTP
             t: biaya fotocopy transkrip
             i: biaya fotocopy ijazah
            y: total biaya yang dikeluarkan

  1. ODP-pop
ODP atau Official Development Program merupakan istilah yang biasa digunakan oleh bank-bank dalam penerimaan karyawan. Biasanya peminat ODP adalah para pria dan wanita dengan penampilan menarik, karena memang itulah salah satu persyaratannya. YANG CEWEK CANTIK-CANTIK BANGET, BOSS (ehm, terutama Em).
Kalau dibanding-bandingkan, ganteng dan cantiknya mereka persis bintang-bintang K-pop, makanya disebut ODP-pop. Para peminat ODP tidak terbatas pada lulusan akuntansi dan manajemen saja, karena kabanyakan ODP terbuka untuk bachelor degree majoring from any discipline’.

Dalam kerumunan jobfair, peminat-peminat ODP cukup mudah untuk dikenali. Biasanya mereka tampil dengan pakaian office hour nan elegan ala drama Korea (lagi-lagi), termasuk juga potongan rambutnya, K-cut (baca: bukan kancut). Tidak terkecuali, laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, biasanya (bisa dibilang sebagian besar setidaknya menurut pengamatan saya) perempuan peminat ODP suka mengenakan behel alias kawat gigi. SENYUM SEJUTA RUPIAH.
Buat yang belum tahu seperti apa dandanan office hour ala drama Korea, mungkin bisa mengambil sampel pada serial drama MyGirl Friend is a Gumiho pada episode 16 (cukup tonton hanya bagian 10 menit menit menjelang tamat). Tolong, jangan ditonton semua! Apalagi dari episode 1. Karena akan berdampak buruk pada MANAJEMEN WAKTU anda (Shin Min Ahhhhh… cantik banget. Desahan ini bukan habis dari WC lho!)

Daya tarik terbesar dari ODP adalah salary yang cukup bagus jika dibandingkan dengan penerimaan oleh perusahaan lain dalam level fresh graduate. Tetapi, akan menjadi tantangan terberat ketika menghadapi kenyataan bahwa tidak sedikitpun ilmu (khususnya yang bersifat teoritis) yang didapat selama sekian tahun perkuliahan, teraplikasikan. Tidak akan ada yang perduli bahwa dimensi balok 1/10 hingga 1/12 bentang, misalnya, atau Hamid Shirvani dengan guideline delapan elemen perancangan kota. Sedikit banyak memang salary oriented tujuannya. Semua kembali kepada Anda, karena Anda-lah yang paling berhak menetukan arah dan sasaran karir Anda.

  1. Mining freaks
Sudah menjadi rahasia umum kalau bekerja di perusahaan pertambangan/perminyakan identik dengan uang banyak. Bahkan, satuan hitungan gaji tidak hanya bulan, melainkan jam. Ya, para pekerja tambang memang (ada) yang digaji per jam, dan jumlah gaji per jam ini mampu menyaingi gaji bulanan pada profesi lain, meskipun harus bekerja pada lokasi-lokasi yang jauh, terpencil, dan ekstrem. Menggiurkan, memang, terutama bagi seorang fresh graduate.

Sudah sering kita mendengar komentar-komentar negatif di televisi perihal perusahaan-perusahaan tambang milik asing yang disinyalir mengeruk kekayaan alam negara kita, sementara kita hanya (dinilai) sedikit menikmati ‘cipratan’ hasilnya. Belum lagi masalah kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya. Tetapi, coba perhatikan pada setiap bursa kerja. Justru pada perusahaan-perusahaan tambang asing itulah antrian mengular paling panjang. Mungkin ada satu-dua pemuda yang dahulu sengit ketika berdiskusi di selasar kampus perihal pemerasan oleh para kapitalis tambang asing ini, tetapi sekarang ikut berjejalan dalam antrian. Mungkin juga ada satu-dua pemudi yang dahulu memprotes pembukaan lapangan tambang baru pada hutan-hutan perawan, tetapi sekarang ikut serta mengisi formulir aplikasi. Jangan katakan ini bagian dari ironi. Karena pada masa sekarang, ironi merupakan kata lainnya reality (kata orang Bule: irony is the new reality).

Terlepas dari semua kontroversi yang terjadi, ada satu golongan lagi dari peserta bursa kerja alias jobfair yang disebut sebagai mining freaks. Disebut mining freaks karena mereka sangat bernafsu untuk apply di perusahaan pertambangan. Anehnya, mining freaks ini justru bukanlah lulusan dari jurusan yang jelas-jelas dibutuhkan oleh perusahaan pertambangan/perminyakan dalam jumlah besar, seperti: teknik geologi, teknik pertambangan, teknik perminyakan, dll. Anehnya lagi, mining freaks bahkan lebih mengutamakan apply di perusahaan pertambangan ketimbang di perusahaan yang (sangat) sesuai dengan jurusannya. Yeah, whatever….

Ciri lainnya dari mining freaks adalah mereka selalu menghimpun informasi dan memantau setiap perkembangan dari perusahaan-perusahaan tambang. Bahkan mereka lebih tahu banyak ketimbang anak-anak geologi, pertambangan, dan perminyakan sekalipun. Termasuk juga company profile dari masing-masing perusahaan, hafal di luar kepala sampai titik koma dan layout gambarnya (maunya sih, siap-siap interview). Usaha lainnya yaitu meng-improve kemampuan Bahasa Inggris atau menaikkan skor TOEFL hingga atap, karena hampir dipastikan ini merupakan syarat yang selalu dicantumkan (bukan berarti tulisan ini banyak bahasa inggrisnya, penulis adalah seorang mining freaks. Penulis cuma freak saja).

Sejujurnya, kesempatan itu tetap ada. Pada satu periode, perusahaan pertambangan biasanya tetap membuka lowongan for any majors atau any engineering majors, itupun tidak terjadi pada setiap kesempatan jobfair. Biasanya untuk mengisi posisi di bagian supply chain management atau mentok-mentok HRD. Tapi, come on… coba perhatikan saingannya. Berjibun. Persentase kemungkinan diterima juga sangat kecil. Optimis boleh saja, tapi nggak usah pakai antri paling depan juga kali... apalagi perusahaannya sedang tidak buka lowongan. Mbok ya kasih kesempatan dulu buat yang dari  geologi, pertambangan, dan perminyakan. Tolong juga, busa di mulutnya di lap dulu.

*  *  *  *  *

Suatu hari di siang yang terik, saya baru saja keluar dari ruangan jobfair. Merasa haus, saya langsung menuju ke sebuah gerobak yang menjual minuman dingin. Lelah juga rasanya mengunjungi stand demi stand hampir seharian. Saya perhatikan sebentar sekeliling, di sebuah bangku taman di bawah naungan pohon akasia, duduklah seorang laki-laki (sepertinya juga peserta jobfair) dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Nyaman juga agaknya di siang hari yang terik melepas penat di bawah rindangnya pohon. Langsung saya melangkah menuju bangku dan laki-laki tersebut. Dalam perjalanan, saya sempat memperhatikan bahwa laki-laki tersebut mengenakan sepatu tracking. Lumayan, dapat bahan obrolan.
P.S: obrolan selanjutnya, seperti biasa, akan diwakili oleh Mario. Meskipun dalam suasana jobfair, obrolan kali ini sama sekali tidak akan menyebut-nyebut nama perusahaan apapun. Bagaimana? Kecewa? Bukan Anda yang seharusnya kecewa, melainkan perusahaan-perusahaan itu.

Mario         : (Duduk di bangku, di sebelah kiri dari laki-laki tersebut) nge-drop banyak, Mas?
Laki-laki   : Nggak sih, beberapa aja
Mario         : Banyak ke tambang ya?
Laki-laki   : Iya
Mario         : Memangnya di tambang sekarang kisaran salary berapa? 
Laki-laki   : Kalau di Kalimantan, di batu bara, biasanya gaji pokok sekitar empat-limaan lah
Mario         : Wow, gede juga ya
Laki-laki   : Kalau di Papua lebih gede lagi, Mas. Bayarannya bisa per-jam. Di PT REPOT INDONESIA, bagian eksploitasi, bisa 700 ribu per-jamnya. Itu pun cuma di hitung uang makan dll. Belum gaji pokok
Mario         : Ampun, lebih tinggi dari gaji Arsitek berarti
Laki-laki   : Sekarang PT REPOT INDONESIA lagi buka GDP (Graduate Development Program), Mas. Lagi butuh banyak Geologist. Coba aja Mas apply
Mario         : Hmm… yah… yah… saya denger-denger BP juga buka lowongan (yang dimaksud BP oleh Mario jelas bukan BATAK PETROLEUM)
Laki-laki   : Oh, iya betul Mas. Terutama untuk procurement supply chain management. Buat any engineering majors kok. Geologi, geodesi, pertambangan, perminyakan, sipil, akuntansi, elektro, industri, matematika, fisika… semua bisa apply
Mario         : Kalau SUMBEREPILEPGER (baca: sumberepilepsi)?
Laki-laki   : SUMBEREPILEPGER malah lebih bagus lagi, Mas. Tadi saya juga masukin. Lagi butuh banyak orang. Sekitar 5000 orang dari Indonesia. 
Mario         : Banyak banget?
Laki-laki   : Penempatannya buat seluruh dunia sih , makanya banyak. Bagus tuh buat yang mau kerja ke luar negeri. PERTAMANAN sama SEMPRONG juga buka lowongan. Mas coba aja apply di bagian evergreen
Mario         : Apa tuh evergreen?
Laki-laki   : Evergreen itu semacam pengumpulan pelamar. Jadi, terbuka sepanjang tahun. Kalau mereka butuh, mereka tinggal ambil
Mario         : Menarik… menarik…. Makmur juga ya, kerja di tambang
Laki-laki   : Pastilah, Mas. Dunia akhirat. 9 turunan…
Mario         : Eh, ngomong-ngomong, Mas-nya jurusan apa nih? Geologi apa perminyakan?
Laki-laki   : Ah, nggak Mas
Mario         : Lha, maksudnya ‘nggak’?
L aki-laki  : Saya Arsitektur, Mas
Mario         : Mas, ke pojokan bentar yuk…
Laki-laki   : Ngapain Mas?
Mario         : RIBUT!

Demikian kira-kira pengklasifikasian para peserta jobfair menurut pengamatan saya. Sekali lagi, setiap orang bebas buat menentukan nasibnya sendiri (sorry buat mining freaks, anda tetap keterlaluan). Buat yang masih belum mendapat pekerjaan, tetap jaga api semangat. Masih ada jobfair di waktu lainnya, di kota lainnya, dan penjual minuman dingin lainnya. Semangat!

***

Jangan menunda hal baik yang bisa dilakukan hari ini, karena esok masih ada hal baik lainnya yang bisa dilakukan. Berbuat baiklah, karena perbuatan baik layaknya bumerang yang akan kembali ke diri masing-masing individu.

Terima Kasih
K&D






:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

14 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive