2

Kota Jingan Ba

Posted by Faril Lukman in
Namanya Jingan Ba. Tapi ia biasa dipanggil Jingan atau Ji. Sebagian teman-temannya ada yang iseng memanggilnya Gi, karena tabiat Jingan Ba memang mirip dengan tokoh pemuda itu. Aku sendiri lebih senang memanggilnya Ji; lebih sederhana.

Ji anak semata wayang, berasal dari keluarga yang biasa, ayahnya kuli bangunan sedangkan ibunya seorang tukang cuci. Ia lahir tepat ketika gempa besar meluluhlantakkan seisi kota. Para pemuka agama mengatakan, waktu itu, gempa besar yang meluluhlantakkan seisi kota adalah hukuman dari Tuhan kepada warga kota yang mengabaikan nilai-nilai keimanan dan enteng berbuat dosa. Tuhan tidak senang, makanya ia mengirimkan gempa. Dan waktu gempa itu terjadi adalah tepat sebelas bulan dari waktu kematian ayahnya karena terjatuh dari lantai enam tempat ia bekerja. Kau mestilah bisa menduga-duga apa yang dipikirkan orang-orang kepadanya, juga kepada ibunya.

Nama Jingan Ba diberikan oleh saudara laki-laki ibunya yang pemabuk. Sebetulnya ia punya nama lain. Arif Budiman, nama yang diberikan oleh Tuanku Hamid, seorang alim yang sangat disegani di lingkungan tempat tinggalnya, ketika ia berumur enam tahun. Dari kecil Ji sudah belajar membaca kitab dengan Tuanku Hamid. Ia cepat sekali pandai, makanya Tuanku Hamid sangat menyayanginya. Mungkin sudah seperti anaknya sendiri. Tuanku Hamid juga membiayai sekolah Ji dari hasil berkebunnya, mengingat pendapatan ibunya yang selalu kekurangan. Ji sangat menghormati Tuanku Hamid. Apapun yang keluar dari mulut orang tua itu pastilah ia simak dengan seksama: yang berupa perintah ia laksanakan segera, yang berupa larangan ia tinggalkan jauh-jauh. Tuanku Hamid selalu menasehatinya agar senantiasa taat kepada orang tua. Terlebih kepada ibunya. Kenapa? Karena, menurut Tuanku Hamid, Tuhan menciptakan manusia tidaklah dalam keadaan setara. Wanita lebih tinggi derajatnya tiga kali ketimbang laki-laki, makanya ia harus diperlakukan seperti ratu.

“Kau jangan pernah memegang tangan seorang wanita, sekali-kali jangan. Terkecuali ia adalah ibumu yang harus kau cium tangannya atau saudara-saudara perempuan dari ibumu. Kau juga sekali-kali jangan menengadahkan mukamu kepadanya. Ia lebih suci daripada malaikat.” 

Ketika Ji selesai dengan pendidikan formalnya, Tuanku Hamid mengirimnya kepada Pak Johan, seorang sahabatnya yang berada di seberang pulau. Pak Johan, yang seorang saudagar itu, setuju untuk menerimanya bekerja sambil meneruskan sekolah. Ji ingin sekali menjadi insinyur.

***

Ji kembali ke kota kelahirannya setelah beberapa tahun. Ji kembali bukan karena rindu atau memenuhi permintaan ibunya. Ibunya telah meninggal pada tahun kedua Ji menuntut ilmu tanpa sempat sekalipun memintanya kembali untuk sekedar melepas rindu. Tuanku Hamid juga telah berpulang dijemput usia. Ji kembali karena pekerjaannya mengharuskan demikian. Ji ikut serta dalam pembangunan gedung perkantoran berlantai dua puluh. Jika gedung itu selesai nanti, gedung itu akan menjadi gedung paling tinggi di kotanya.

Ji yang sekarang tetaplah Ji yang dahulu. Ia tetap memegang teguh nasihat Tuanku Hamid untuk senantiasa taat kepada orang tua dan berlaku hormat kepada wanita. Oleh karena kedua orang tuanya telah tiada, Ji kini hanya bisa berlaku hormat kepada wanita.

Sehari-hari Ji berada di tempat kerjanya. Dari pagi hingga petang, bahkan tak jarang hingga subuh. Jeda istirahat ia gunakan untuk mengunjungi tempat ibadah. Di sana Ji menemukan kesejukan: beribadah, berkumpul dengan orang-orang allim, membaca kitab, dan mendengar ceramah. Rupa-rupanya kegiatan ini membangkitkan kenangannya kepada sosok Tuanku Hamid.

“Hadirin yang terhormat. Coba kita perhatikan fenomena di sekeliling kita. Muda-mudi seperti sudah tidak malu lagi berduaan di tempat-tempat umum dan di jalan-jalan. Berpelukan di atas kendaraan roda dua sedangkan satu sama lain bukanlah pasangan suami isteri. Berpacaran. Tidakkah mereka sadar bahwa perbuatan tersebut sesungguhnya menghinakan diri mereka sendiri di hadapan Tuhan? Yang laki tidak bisa menahan nafsu. Yang perempuan begitu juga, berpakaian tetapi telanjang. Menistakan dirinya sendiri. Mau seperti apa generasi kota ini di masa mendatang? Kalau sudah begini tunggu saja hukuman Tuhan, pasti datang untuk kota ini…”

Sejak kedatangannya Ji belum sempat berkeliling kota. Tapi perasaannya memang menyiratkan adanya perbedaan dengan kota yang dikenalnya dahulu. Lebih ramai. Lebih banyak kendaraan roda dua. Ya, kendaraan roda dua. Mereka bertebaran kesana-kemari seperti laron-laron di musim hujan. Ji menyempatkan berjalan-jalan menyusuri pinggiran jalan raya pada suatu sore. Cukup takjub ia dengan segala pemandangan yang telah banyak berubah. Gedung-gedung bertambah jumlahnya dan semuanya bagus-bagus. Modern, dengan kaca-kaca yang lebar dan bentuk yang kotak. Jalan-jalan bertambah lebar dan halus. Dan sungai besar itu. Beberapa tahun silam sungai besar itu tampak sangat buruk. Sampah mengapung memenuhi permukaan sungai hingga tidak ketahuan warna airnya. Sekarang sungai itu sudah jernih airnya. Tidak ada lagi sampah. Di kiri-kanan sungai dibuat undak-undakan seperti pada stadion sepak bola. Pada sisi sebelah kiri dibuat semacam panggung. Di sungai ini akan diadakan festival perahu lintas negara. Hanya beberapa hari lagi sungai ini akan ramai dikunjungi oleh tamu-tamu dari negeri jiran.

Diputuskannya untuk menghabiskan sisa sore di sungai itu, duduk-duduk pada undak-undakan menunggu matahari terbenam. Riak-riak air mulai memerah, bergerak tenang menimbulkan gemericik yang halus. Dilihatnya sepasang pemuda-pemudi bercengkrama riang. Di sebelah sana masih ada lagi. Di sana satu lagi. Ada banyak pasangan pemuda-pemudi di pinggir sungai itu. Astaga, si pemuda berani sekali menatap wajah si pemudi. Tangannya juga tak sungkan menggenggam tangan si pemudi. Tersirap darah Ji menangkap pemandangan itu. Kepalanya pening. Ia tertunduk.

Dalam keadaannya tertunduk, Ji tidak menyadari sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Sepasang mata yang sangat ingin tahu siapakah gerangan pemuda yang bersendirian di pinggir sungai itu. Siapakah namanya? Di mana tinggalnya? Apa pekerjaannya?

***

“Ini tidak benar. Ini keliru. Laki-laki tidak seharusnya berani menatap ke arah perempuan. Apalagi sampai menggenggam tangannya. Menyentuhnya. Mereka makhluk terhormat. Lebih mulia daripada malaikat”

Ji mengejap-ngejapkan matanya mencoba memenuhi pandangannya yang kabur dengan sebanyak mungkin cahaya. Ia tidak mengenali sekelilingnya. Terasa asing. Meja, kursi, dinding papan dan ranjang besi dengan cat biru yang terkelupas. Kepalanya pening luar biasa seperti habis terkena pukulan benda keras. Dari luar terdengar gemericik air seperti aliran sungai. Bukan sungai yang digunakan untuk festival perahu, sepertinya sungai di kaki bukit. Gemericiknya nyaring karena terhalang bebatuan. Ia mencoba bangkit dan berjalan ke arah pintu dengan berpegangan pada kursi dan dinding papan. Baru saja ia hendak mencapai pintu, pintu itu terbuka dengan kasar bersamaan dengan kehadiran seorang pemuda berbadan kokoh yang memburu ke arahnya.

“Kurang ajar kau jalang. Berani kau hamili adikku…”pemuda itu langsung mencengkeram Ji kuat-kuat pada leher bajunya. Ji tidak bisa berkata apa-apa. Ia kesulitan bernafas.
“Kak, jangan kak” seorang gadis muncul dari balik pintu bersama seorang laki-laki yang kelihatan lebih muda.
“Kau membela binatang ini? Binatang yang mengambil kegadisanmu? Biar kuhabisi dia sekarang”. Si pemuda bersiap-siap hendak memukul Ji. Ji tidak mampu berbuat banyak. Ia masih lemas.
“Bukan dia yang menghamiliku, Kak. Aku berbohong”
“Maksudmu?” pemuda itu mulai mengendorkan cengkramannya. “Buat apa kau berbohong, ha...?”
“Aku menyayangi dia…”

Suasana hening untuk beberapa saat. Ji yang terduduk di lantai sedikit mulai agak bisa menguasai dirinya. Berkata ia dengan suara lirih yang bergetar, “wanita seharusnya dihormati. Kau menyalahi kodratmu. Kau merendahkan dirimu sendiri”

“Berani bicara kau bajingan. Kau tuduh adikku ini rendah? Kupatahkan tulang-tulangmu” pemuda itu kembali menarik Ji berdiri. Ji yang sudah pulih tenaganya berusaha menepis tangan pemuda itu. Namun sia-sia, ia terlalu kuat. Kedua tangannya yang berotot kekar itu menggantung Ji tinggi-tinggi. Ji megap-megap mencari udara. Si gadis diam saja di pinggir ruangan. Dalam satu gerakan ia hempaskan Ji ke dinding papan. Ji tercekat kemudian ambruk. Matanya terpejam bersamaan dengan tidak terasa lagi tarikan nafas dari hidungnya. Darah kental menetes dari sebatang paku yang tertancap di dinding.

***

Baru dua bulan lalu kotaku ditimpa musibah. Air bah di hulu sungai membawa serta material-material, batu-batu, dan batang-batang pohon, menerjang segala yang ada di sekeliling alirannya. Rumah-rumah hancur, ternak-ternak hanyut, jembatan putus, dan ada juga orang yang hilang. Sawah-sawah yang tadinya kehijauan, kini menguning tertutup lapisan lumpur. Anak-anak sekolah libur beberapa hari karena sekolahnya rusak. Kotaku kembali bersedih. Ini musibah yang kesekian kalinya.

Diantara orang-orang yang menjadi korban, beredar cerita-cerita tentang seorang penyelamat. Seorang laki-laki yang menarik orang-orang hanyut ke tepi. Banyak yang beranggapan bahwa ia bukanlah orang biasa. Mungkin ia orang sakti atau malaikat utusan Tuhan. Atau mungkin juga roh. Diceritakan ia berkali-kali berenang melawan kuatnya gulungan air dan sapuan batang-batang pohon hanyut, menolong orang-orang yang terjebak di tengah aliran sungai dan yang terbawa arus. Ia berenang ringan saja seperti terbang. Ketika orang-orang itu hendak mengucapkan terima kasih kepadanya, ia menghilang. Cerita lainnya adalah tentang seorang korban wanita muda yang selamat. Tidak tahu siapa yang menyelamatkannya, namun wanita muda ini seperti kehilangan akalnya semenjak musibah itu. Setiap harinya ia duduk di pinggir sungai seperti kebingungan, meracau: ia orang baik… ia orang baik… ia mati di bawa air… dibawa air….

Demikian aku ceritakan kepadamu, wahai orang yang baru datang ke kotaku. Kalau kau hendak berjalan kembali, berjalanlah. Kunjungilah tempat ibadah sekali waktu. Aku tetap di sini, setia memperdengarkan ceramah tentang hukuman Tuhan dari pengeras suara. Semoga ada yang mau mendengar. Semoga saudaraku, anak kesayangan bapakku, segera kembali.



Mess proyek, Oktober 2012

Oleh: Pambayun Kendi



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive