2

Ceritaku di Minggu Sore

Posted by Faril Lukman in
"Goooolll!!!"
Penonton di tribun bersorak ramai menyambut gol dari tendangan bebas yang baru saja terjadi, termasuk aku yg berada di bangku kedua dari depan..
"Wow, gol yang hebat." terdengar suara wanita di sebelah kananku.
"Tentu saja, dia anakku." kataku bangga tanpa menoleh tanpa melirik.
"Benarkah?"
"Iya. Si kapten dengan nomor punggung 10 adalah anak pertamaku." jelasku.
"Wow. Jika anaknya sehebat dan setangguh itu, pasti ayahnya juga."
"Tentu. Aku seorang pekerja keras, anakku meniru sifatku itu."
"Bekerja di mana Anda?" tanyanya tak serius dan terdengar asal-asalan.
"Aku bekerja di perpustakaan. Perpustakaan milikku sendiri. Dan aku juga pengarang buku."
"Wow, pasti Anda sibuk sekali. Buku apa saja yang Anda tulis?"
"Sudah banyak novel yg kubuat dan terjual laris di dunia. Bahkan jadi best-seller. Sering ke luar negeri untuk acara bedah buku"
"Wow, pasti Anda sukses banget. Sesibuk itu tapi masih sempat menonton pertandingan bola anak Anda ya."
"Tentu saja, anak itu sangat penting. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan anak."
"Wow, Anda sangat bijak. Lalu, di mana istri Anda?"
Aku semakin penasaran dengan raut wajah wanita yang daritadi banyak bertanya padaku: apa mungkin dia tertarik padaku. Kutengok ke kanan, seorang wanita beralis tebal duduk dengan anggun di sampingku. Cantik, menurut pandanganku. Merasa diperhatikan dan pertanyaannya belum kujawab, dia menoleh ke arahku. Dia seperti menunggu jawabanku.
"Kamu terlalu banyak bertanya, sayang." jawabku sekenanya.
"Dan kamu terlalu banyak mengkhayal, sayang." bisiknya.
"Hahaha, apa kamu nggak suka punya..... "
Goooolll. Pertanyaanku dipotong suara tribun menyambut gol yang barusan tercipta.
"Wow, anak kita benar-benar hebat. Dia mencetak gol lagi," teriaknya.
Gol tadi menyudahi pertandingan bola antar-SD. Penonton pun beringsut meninggalkan bangku mereka. Aku segera menggandeng gadis di sebelah kananku tadi untuk mengajaknya pulang. Sesampai di gerbang, aku menghentikan langkah kami.
"Tidak menunggu anak kita?" tanyaku mengingatkannya. Dia hanya tersenyum.
"Jangan mengkhayal lagi deh."
"Ibuuuu...."
Kami menoleh bebarengan, si kapten tim berlari ke arah kami. Kaget, aku saling pandang dengannya dan menyunggingkan senyum. Mata kami teralih lagi ke arah si bocah kecil yg makin dekat berlari ke arah kami. Tiba-tiba, dia menerobos di tengah kami dan masuk ke pelukan ibunya yang ada di belakang kami.
"Semoga anak-kita-nanti seperti dia." bisiknya.
"Semoga." jawabku.
"Semoga kamu juga punya perpustakaan sendiri." bisiknya lagi.
"Iya, semoga. Dan semoga kita juga segera menikah." ujarku.
Kami saling senyum dan mengerti, lalu berjalan menjauhi stadion bola yang sering kudatangi untuk menonton pertandingan anak-anak.

Semoga.


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive