4

Secarik Kertas Untuk Ibu

Posted by Faril in
Jika kau telah membaca tulisanku ini, Ibu, maka aku telah meninggalkan rumah ini demi kebaikan kita. Aku melakukan ini bukan karena aku membencimu. Aku melakukan ini karena telah banyak dosa padamu.
Dosa itu terlalu banyak untuk kutuliskan di kertas yang kecil ini. Bahkan, jika seluruh kulit pohon di dunia ini dijadikan kertas dan seluruh air sungai dijadikan tintanya, mereka tetap tidak cukup untuk menuliskan kesalahanku padamu.
Aku selalu berbuat seenakku, tak pernah memperhatikan bagaimana perasaanmu. Aku selalu berkata dengan keras, tak pernah menyadari tangisan hatimu. Aku selalu memaksakan kehendak, tak pernah peduli pada pendapatmu yang ternyata lebih benar.
Bertahun-tahun aku melakukan itu; sebuah kesalahan yang sama dan tak pernah ku merubah kelakuanku padamu. Tapi, engkau tetap memeprhatikanku dan mencurahkan seluruh kasih sayangmu padaku.
Aku selalu ingin menang sendiri, tak pernah mau menghargai hak mu. Aku tak pernah melaksanakan tugasku sebagai anak dan menyuruhmu melakukan semua tugasku. Aku tak pernah membantumu dan membiarkanmu tertatih-tatih bekerja demi menafkahiku.
Hingga telah berusia dewasa seperti ini aku tetap tak menyadari kesalahanku ataupun berusaha merubah semua sifat dan sikapku padamu. Tapi kau tak pernah mengeluh akan kebengalanku dan malah tetap besar rasa sayangmu padaku. Rasa sayang yang kubalas dengan kenakalanku.
Hingga akhirnya aku mendengar tangismu pada suatu malam di dalam kamarmu. Tangis dan ceritamu kepada Bapak tentang rasa lelahmu, tentang kondisi kesehatanmu, tentang tubuhmu yang melemah karena usia. Tapi, kau tak pernah bercerita tentang kebengalanku, tentang pemberontakanku, tentang sikapku padamu. Kau terlalu sayang padaku sehingga tak pernah menyalahkanku ataupun sikapku.
Aku pun mulai sadar akan kesalahanku selama ini. Maafkan aku, Ibu, jika memang salahku masih bisa dimaafkan. Tapi, sepertinya kesalahanku sudah terlalu besar untuk bisa dimaafkan, bahkan kedalaman samudera Pasifik tak bisa mengubur semua dosaku padamu. Gunung Himalaya pun tak bisa menutupi kesalahanku padamu.
Untuk itu, aku akan melakukan sebuah dosa padamu satu kali lagi untuk yang terakhir kalinya. Semoga dengan dosa terakhir ini, aku dapat menghentikan semua dosa yang pernah kulakukan. Semoga dengan dosa terakhirku ini, Ibu dapat melupakan semua dosa dan salahku dahulu.
Maafkan aku untuk dosa terakhir ini. Aku akan pergi meninggalkan rumah agar tidak lagi menyusahkanmu, tidak lagi membentakmu, tidak lagi memaksakan kehendakku. Aku akan pergi membawa semua dosaku dan membuangnya di sebuah tempat yang akan kutemukan nanti, mungkin di kedalaman palung Mindanao, mungkin di bekunya Antartika, mungkin diuapkan di Gurun Sahara, atau mungkin disembunyikan di Kota Petra. Namun, itu semua tak akan terjadi, yang terjadi dan bisa kuusahakan adalah menjauhkan kebengalanku darimu.

Aku tak akan pulang ke rumah, Ibu, jadi jangan pernah menungguku atau menyediakan makan malam untukku. Jangan pernah menyiapkan minuman hangat untuk menyambut kepulanganku. Jangan pula membuatkan makanan kesukaanku karena aku tak akan memakannya lagi.
Jika bertemu denganku di hari nanti, jangan pernah Ibu memanggil namaku lagi. Aku tak akan menengokkan mukaku karena tak ingin melukai hati Ibu oleh pandangan mataku. Aku tak ingin membuat Ibu mengingat akan wajahku yang berlumuran getah dosa.
Jangan pernah mengingatku lagi, Ibu. Biarlah aku sendiri di dunia ini yang mengingat akan dosa-dosaku padamu. Jangan pernah menganggapku sebagai anakmu, sebelum aku bisa membawakan kebahagiaan untukmu. Jangan pernah memimpikanku sebelum aku bisa membelah bulan dengan jari tanganku.

Maafkan aku, Ibu, jika memang Tuhan masih mau memaafkan dosaku padamu.
*  *  *  *  *  *  *

Setting tempat: ruang keluarga sebuah rumah kecil



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

4 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive