17

Sepenggal Jalan di Hari Kemarin

Posted by Faril in
Vieta mendongakkan kepalanya yang berambut hitam-sepunggung. Mata lentiknya menerawang seisi dunia, menembus tebalnya kabut pagi. Ia tertegun pada setiap semilir angin yang menyentuh pipinya dan menggeraikan rambut lurusnya. Terkadang ia sedikit menggigil merasakan setiap tiupan angin.
Memang, saat itu kabut tebal seperti asap kendaraan perkotaan yang menutup semua pandangan orang; jarak pandang di dalam kabut hanya sekitar 8 langkah ke depan. Tapi Vieta memiliki mata sejernih embun yang mampu menembus apapun yang menghalangi, termasuk kabut dingin yang merisaukan.
Perlahan, ia melangkahkan kaki di jalanan yang sedikit menurun. Jalan itu menuju ke sebuah pasar tradisional yang ramai oleh pedagang jajanan. Basah terasa di telapak kakinya yang tak memakai alas kaki apapun. Benar, jalanan masih terasa lembab oleh embun pagi yang baru saja berselang. Meski bertelanjang kaki, tapi tubuhnya terbungkus 2 lapis jaket, lapisan yng melindunginya dari tusukan udara beku di sekitarnya.
Ia berjalan begitu lambat sampai udara pun tak menyadari kehadirannya. Tubuhnya terus menembus tebalnya kabut, kakinya yang telanjang tak pernah berhenti melangkah. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah pertigaan; satu arah menuju pasar dan arah lain menuju jalanan yang kabutnya lebih tebal. Di sana, ia terhenti begitu lama dan memandang kosong ke depan.

Di tengah persimpangan jalan, sebuah pohon tumbuh begitu tinggi dengan dedaunan yang memayungi apapun di bawahnya. Vieta tertegun mengapa ada sebatang pohon di tengah-tengah jalan beraspal. Ia mengamati pohon itu dengan sangat lekat. Mata beningnya hampir tak berkedip karena rasa penasaran yang tak terbendung.
Saat tertegun, sedikit-banyak Vieta mendengar suara tangisan; sebuah suara pilu yang terdengar lemah dan tak berdaya. Ia sibakkan rambut yang menutup sebagian daun kuping kirinya. Ia terus mendengarkan suara tangis itu dan menebak-nebak dari mana sumber tangis yang memilukan hati itu.
Sekian detik berlalu dan Vieta baru sadar kalau suara tangis itu berasal dari pohon di depannya. Ia langkahkan kaki mendekat dan merabakan jari mungilnya ke batang pohon-menangis. Dari dekat, suara tangis bercampur dengan suara pembicaraan. Lalu, ia menempelkan daun telinga kirinya untuk mendengar lebih jelas apa yang hendak diungkapkan oleh sang Pohon. Vieta memang dikenal oleh beberapa temannya bahwa ia memiliki panca-indera yang peka pada apapun di sekitarnya.

Ia mulai membisikkan suaranya pada batang pohon untuk bertanya mengapa kau menangis tersedu di pagi berkabut ini, apa karena cuaca yang sangat dingin atau karena tak bisa melihat apapun menembus kabut tebal.
Pohon-menangis pun menjelaskan kenapa menangis; bukan karena cuaca yang dingin, bukan pula karena tak bisa melihat apapun. Cuaca dingin, ia bisa bertahan; bahkan mampu melindungi siapapun yang bernaung di bawahnya. Tak bisa melihat apapun, ia memang tak punya mata yang bisa digunakan untuk melihat.
Sang Pemilik Daun pun melanjutkan jawabannya; ia menangis karena manusia tak peduli lagi padanya. Di hari kemarin, ada sekelompok orang yang menancapkan paku untuk menempelkan papan. Paku itu menembus hingga ke daging batang dan melukai pikirannnya. Kini, papan telah lapuk oleh kabut dan hanya meninggalkan beberapa paku yang mulai berkarat. Paku berkarat jauh lebih menyakitkan dari paku yang kemarin menembus batangnya. Tak seorang pun manusia yang mau mencabut paku-paku berkarat untuk mengurangi rasa perih dan pedih yang dideritanya.
Sang Pemilik Klorofil juga bercerita tentang beberapa teman lamanya yang memiliki nasib lebih parah. Mereka dipotong manusia dan dijadikan kayu bakar dimana masih terdengar tangis dan jeritannya saat dimasukkan ke dalam tungku dapur. Sebuah tangis dan jeritan yang hanya bisa didengar orang-orang yang memiliki telinga seperti telinga milik Vieta.
Vieta mulai tertunduk lesu dan menyeka ujung mata indahnya. Setitik air jernih menetes dari dalam mata yang tak seharunya menangis di hari sepagi ini. Ia mulai mengerti mengapa dunia tak seperti dulu lagi; tak penuh dengan keceriaan yang berwarna hijau. Saat ini, Vieta hanya melihat kesenduan kelabu tak berbatas waktu. 

Ia urungkan niat ke pasar membeli jajanan. Ia sadari kesalahan. Ia bulatkan tekad: tak akan lagi menyakiti dunia dan akan melindungi senyum dunia yang sudah mulai pudar.
The world is changed.. I feel it in the water.. I feel it in the earth.. I smell it in the air.. (dalam The Lord of the Rings - Fellowship of the Ring)
*  *  *  *  *  *  *

Setting tempat : di sebuah penggalan jalan
Terinspirasi dari : sebuah pohon yang berada di pertigaan Dukuh Ngaglik, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali 



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

17 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive