2

Filosofi Lilin

Posted by Faril in ,
Ketegangan akibat demo penurunan kepala sekolah telah mereda. Para siswa telah kembali belajar di kelas, tak lagi berkeliaran di lingkungan sekolah untuk meneriakkan yel-yel pencopotan kepala sekolah. Beberapa guru yang mendukung aksi para siswa, merasa berhasil melaksanakan misi mereka untuk menurunkan Kepala Sekolah yang korup. Sebagi gantinya, diangkatlah seorang kepala sekolah yang baru dari SMA lain. Warga sekolah pun menyambut gembira kedatangan kepala-sekolah yang baru.

Karena kehebatannya dalam memprakarsai insiden itu, sekelompok guru tadi mendapat sebutan baru: Dewan Guru, sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa guru dengan kualitas tinggi. Nama ini diambil dari nama sebuah dewan yang juga sangat berkuasa pada masa akhir pemerintahan Bung Karno; Dewan Jenderal. Anggota Dewan Guru ini adalah seorang guru fisika, guru komputer, guru biologi, guru matematika, dan beberapa guru lain yang semuanya telah meloloskan murid didiknya ke olimpiade internasional.

Beberapa hari telah berlalu, suasana sekolah kembali kondusif. Tetapi, ada beberapa suara yang mengatakan bahwa "Dewan Guru" harus dipecah dan diasingkan satu sama lain agar tidak terulang insiden demo seperti sebelumnya. Mereka akan dipindah-tugaskan di sekolah lain yang semuanya tidak akan saling bertemu dalam satu sekolahan. Hal ini bertujuan untuk menghindari para guru dapat mengumpulkan kekuatan dan mampu menggulingkan sistem pemerintahan sekolah.

Dalam pelajaran terakhir di kelas, Pak Tar -salah satu anggota Dewan Guru- memberikan sebuah ucapan perpisahan dengan sedikit embun di matanya yang keras. Beliau tak kuasa menahan sedih karena perjuangannya demi kemajuan sekolah tak dianggap. Terlihat tangannya mengepal di atas meja meski hanya beberapa siswa yang menyadarinya. Lalu, Pak Tar bercerita tentang perjalanan hidup sebuah lilin, dimana ada kemiripan dengan jalan hidupnya.
Lilin yang menyala akan memberikan terang pada lingkungan sekitarnya yang gelap. Nyala itu akan menjadi petunjuk agar manusia bisa melihat. Dengan nyala itu juga, manusia akan dapat beraktifitas dan merasa tertolong. Tapi, perjuangan lilin untuk memberikan pelita bagi manusia telah mengorbankan dirinya sendiri. Dengan menyala terus-menerus, maka tubuhnya akan dilalap api hingga habis menjadi cairan.
Begitu juga dengan perjuangan Pak Tar yang telah membimbing muridnya menjadi manusia yang sukses, membersihkan struktur pemerintahan-sekolah menjadi lebih baik dan terbebas dari tindak korupsi, memotivasi siswa agar berani mngajukan pendapat menentang ketidak-adilan. Tapi, perjuangannya tak dibalas dengan jasa, melainkan dibalas dengan penghancuran karirnya secara halus.
Karirnya yang cemerlang dengan berhasil membimbing muridnya di sekolah ini untuk menjuarai lomba internasional harus sirna karena beliau dipindah-tugaskan ke sekolah pinggiran. Beliau harus berjuang kembali dari nol untuk membawa murid-barunya nanti menjadi kampiun juara seperti yang telah dilakukannya pada siswa sekolah ini.

Seperti filosofi hidup lilin: rela tubuhnya hancur demi kemajuan siapapun yang ada di sekitarnya.
Semoga Pak Tar dapat terus menyebarkan semangat pada siapapun di dunia ini dan menjadi "senter" -yang tak akan mencair dan hancur meski telah menerangi siapapun di sekitarnya.
*  *  *  *  *  *  *

Setting tempat : sebuah sekolahan
Terinspirasi dari : insiden mutasi beberapa guru



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive