0

EmonAlisa

Posted by Black Sakura in

Awalnya mungkin kita tidak pernah menyadari betapa banyak kekurangan kita sebelum seseorang atau mungkin banyak orang mengingatkan kita betapa kita banyak memiliki kekurangan. Hal itu pula yang dialami oleh Emon. Pada awalnya dia sangatlah percaya diri akan apapun yang dimilikinya. Bukannya saya ingin bilang kalau percaya diri buruk sih, saya cuma ingin menyampaikan bahwa kepercayaan diri pun harus diimbangi dengan kesadaran akan kenyataan hidup. Kenyataan bahwa anda memang bokek, misalnya. Atau kenyataan bahwa anda tidak cukup ganteng untuk melamar menjadi foto model. Terkadang orang yang terlampau percaya diri membawanya pada ‘kebutaan’ akan ketidaksempurnaan diri begitu pula sebaliknya, terlalu rendah diri pun akan menimbulkan ‘kebutaan’ akan kemampuan diri sehingga kita pun lupa untuk bersyukur. Di mana-mana memang keseimbanganlah yang paling baik.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Ceritaku di Minggu Sore

Posted by Faril Lukman in
"Goooolll!!!"
Penonton di tribun bersorak ramai menyambut gol dari tendangan bebas yang baru saja terjadi, termasuk aku yg berada di bangku kedua dari depan..
"Wow, gol yang hebat." terdengar suara wanita di sebelah kananku.
"Tentu saja, dia anakku." kataku bangga tanpa menoleh tanpa melirik.
"Benarkah?"
"Iya. Si kapten dengan nomor punggung 10 adalah anak pertamaku." jelasku.
"Wow. Jika anaknya sehebat dan setangguh itu, pasti ayahnya juga."
"Tentu. Aku seorang pekerja keras, anakku meniru sifatku itu."
"Bekerja di mana Anda?" tanyanya tak serius dan terdengar asal-asalan.
"Aku bekerja di perpustakaan. Perpustakaan milikku sendiri. Dan aku juga pengarang buku."
"Wow, pasti Anda sibuk sekali. Buku apa saja yang Anda tulis?"
"Sudah banyak novel yg kubuat dan terjual laris di dunia. Bahkan jadi best-seller. Sering ke luar negeri untuk acara bedah buku"
"Wow, pasti Anda sukses banget. Sesibuk itu tapi masih sempat menonton pertandingan bola anak Anda ya."
"Tentu saja, anak itu sangat penting. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan anak."
"Wow, Anda sangat bijak. Lalu, di mana istri Anda?"
Aku semakin penasaran dengan raut wajah wanita yang daritadi banyak bertanya padaku: apa mungkin dia tertarik padaku. Kutengok ke kanan, seorang wanita beralis tebal duduk dengan anggun di sampingku. Cantik, menurut pandanganku. Merasa diperhatikan dan pertanyaannya belum kujawab, dia menoleh ke arahku. Dia seperti menunggu jawabanku.
"Kamu terlalu banyak bertanya, sayang." jawabku sekenanya.
"Dan kamu terlalu banyak mengkhayal, sayang." bisiknya.
"Hahaha, apa kamu nggak suka punya..... "
Goooolll. Pertanyaanku dipotong suara tribun menyambut gol yang barusan tercipta.
"Wow, anak kita benar-benar hebat. Dia mencetak gol lagi," teriaknya.
Gol tadi menyudahi pertandingan bola antar-SD. Penonton pun beringsut meninggalkan bangku mereka. Aku segera menggandeng gadis di sebelah kananku tadi untuk mengajaknya pulang. Sesampai di gerbang, aku menghentikan langkah kami.
"Tidak menunggu anak kita?" tanyaku mengingatkannya. Dia hanya tersenyum.
"Jangan mengkhayal lagi deh."
"Ibuuuu...."
Kami menoleh bebarengan, si kapten tim berlari ke arah kami. Kaget, aku saling pandang dengannya dan menyunggingkan senyum. Mata kami teralih lagi ke arah si bocah kecil yg makin dekat berlari ke arah kami. Tiba-tiba, dia menerobos di tengah kami dan masuk ke pelukan ibunya yang ada di belakang kami.
"Semoga anak-kita-nanti seperti dia." bisiknya.
"Semoga." jawabku.
"Semoga kamu juga punya perpustakaan sendiri." bisiknya lagi.
"Iya, semoga. Dan semoga kita juga segera menikah." ujarku.
Kami saling senyum dan mengerti, lalu berjalan menjauhi stadion bola yang sering kudatangi untuk menonton pertandingan anak-anak.

Semoga.


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

Salah

Posted by Unknown in
Salah.
Aku salah.
Aku mencintai orang yang salah, disaat yang salah.

“halo?”
“halo, selamat siang. Benar ini A-offset?” jawab suara di seberang.
“benar”
“begini mas, saya mau bikin undangan. Saya tahu nomer mas dari teman.”
“ohh, baik, silakan langsung datang saja untuk milih desain.”
“oke, mas. Besok saya datang. Terima kasih ya.”

Begitulah awal kami berkenalan. Aku membuka usaha percetakan undangan. Dan dia datang untuk memesan undangan. Undangan pernikahan.

Dia wanita biasa. Tidak terlalu cantik, namun berkesan. Parasnya cukup manis, cara berpakaian dan pembawaannya sopan, sedikit ceriwis tapi menyenangkan.

Menyenangkan. Satu alasan itu yang membuatku jatuh hati padanya.
Aku bukan orang yang mudah jatuh hati. Dan tidak berniat jatuh hati sebenarnya. Tapi sungguh yang kurasakan terhadapnya benar-benar di luar kuasaku.

Satu bulan intens bertemu dengannya (dan terkadang dengan calon suaminya) membuatku gila. Aku mencintai wanita yang tak bisa kumiliki. Cih, betapa beruntung pria yang akan mempersuntingnya.
Kuharap selesai urusan pesanan undangannya, kami tak perlu bertemu lagi. Agar aku bisa melupakannya sambil melanjutkan hidupku.

“mas Adi, bisa minta waktu sebentar?”
“ya, ada apa?”
“ini mas, mau ngasih undangan.”
“…”
“terima kasih atas bantuannya bikin undangan, bagus banget. Kami ngundang mas sebagai ucapan terima kasih. Mas datang ya.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Aku tak begitu memperhatikan apa yang dia ucapankan selanjutnya. Yang bisa kurasakan hanya ngilu di dada.


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

0

K&D Learns Storytelling 12

Posted by Faril Lukman in ,
Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit diangkasa, lalu berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menggapainya. Ungkapan tersebut tidak ada hubungannya dengan tulisan di bawah ini.

Kalau orang bilang proyek itu adalah sumber uang masuk, mungkin ada benarnya. Terutama pada waktu proyek akan dimulai dan ketika selesai atau mendekati serah terima. Pada kedua tipe waktu tersebut uang berseliweran seperti sinyal wi-fi. Yang demikian itu sama sekali bukan indikasi korupsi. Cuma perilaku kolusi biasa. Tidak lebih. Dan percayalah, saya tidak pernah meminta-minta uang seperti itu. Hanya saja biasanya mereka memberi dengan ikhlas. Itupun setelah saya mengancam akan lompat dari puncak gedung.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

1

Sebelum Aku Ikhlas

Posted by Faril Lukman in
Aku melanggarmu dua kali
Karena mereka mengikatkan tali
Bukan, sebenarnya karena diriku sendiri
Karena diriku sendiri

Aku meninggalkanmu di pagi hari
Karena mereka terlalu malam menemani
Bukan, sebenarnya karena kelakuanku sendiri
Tak mau bangun dan memilih berselimut lagi



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive