3

K&D Learns Storytelling (11)

Posted by Pambayun Kendi in ,
Tugas ke luar kota. Ya, itu yang sedang saya lakukan sekarang. Memuluskan niat seorang pemodal akan sebuah properti investasi berkualitas. Menancapkan tiang-tiang kapitalisme yang, entahlah, hanya menguntungkan bagi segelintir orang. Sinisme? Apapun itu namanya. Toh, perasaan itu langsung hilang sewaktu sang investor menyorongkan amplop cokelat-marun. Maklum, turunan tuyul rambut panjang (jenglot dong?!). Tapi yang jelas, It’s kinda cool, tugas ke luar kota.
Sebuah kota yang bergerak menuju metropolitan di tepian barat Pulau Sumatera. Baru beberapa minggu, saya berharap akan ada perubahan nasib. Atau minimal perubahan karakter. Atau mungkin saja semua tinggal harapan.

Suatu subuh yang dingin, saya berjalan-jalan menyusuri trotoar di pinggiran jalan protokol kota tersebut. Di pertigaan depan, sekitar seratus meter, saya melihat seorang perempuan dengan busana yang menggoda iman ala aktris FTV yang hendak ngampus, mengendarai skuter matic. Putih, seksi, rambutnya panjang di hi-lite sebahu, dan karena jaraknya cukup jauh, saya tidak bisa menangkap gambaran wajah dari perempuan tersebut. Wow, mungkin ini adalah sisa-sisa kehidupan malam yang belum tuntas sepenuhnya di kota ini. Penasaran, besoknya saya mencoba berdiri pada tempat yang sama, dan mengalami kejadian yang serupa pula. Eyes laundry in the morning. Gratis pula. Kalaulah boleh membandingkan, seksinya perempuan ini (dari kejauhan) hampir setara dengan mantan Puteri Indonesia, Nadine Chandrawinata, atau model Catherine Wilson. Yakin, nggak salah lihat. Hari ketiga, saya bertekad untuk bisa menangkap gambaran wajah dari perempuan tersebut. Saya sengaja berdiri lebih pagi langsung di pertigaan tersebut, menunggu dengan tidak sabaran sambil bersenandung: kamuuu… telihat paling cantik, dengan skuter matic yang menarik, dengan gaya klasik zaman sekarang. Perlahan, suara skuter matic mulai mengalun. Makin lama makin dekat. Yes, sebentar lagi papasan. 10 meter… 5 meter … 2 meter… dan akhirnya papasan. Saya berhasil menangkap gambaran wajahnya. Catherine Wilson? Oh, bukan. Lebih mirip aktor AGUS KUNCORO.

Kesal dengan kejadian tersebut, saya tidak lagi melanjutkan aktivitas jalan-jalan subuh. Mending tidur atau nonton Spongebob saja. Hingga pada suatu hari saya kehabisan uang dan kebutuhan akan sabun semakin mendesak. Saya menguat-nguatkan tekad untuk keluar dari zona nyaman. Mengambil langkah pertama di subuh yang, masih saja, dingin menuju booth ATM terdekat. Sialnya, booth ATM terdekat berada di pinggir jalan protokol, dekat pertigaan ‘terkutuk’ itu. Saya menunggu hingga terang lalu kemudian menyusuri pinggiran jalan protokol, santai, hingga mendekati pertigaan. Meskipun sudah terang, pertigaan tersebut masih sepi dari aktivitas publik. Seorang pria 30-an tahun bertubuh tambun menyapa saya ketika saya melintasi pertigaan tersebut.

Pria 30-an : Mau ke mana, Mas?
P.S.: laki-laki ini menyapa Mario dengan panggilan ‘mas’, panggilan yang biasa digunakan di Pulau Jawa. Bukan ‘bang’ dan sejenisnya, panggilan yang umum bagi orang Sumatera.
Mario         : Mau ke ATM, Pak
Pria 30-an  : Jawa-nya di mana?
(sekali lagi, kalimat to the point on the head ini mendukung kalimat pertama, seakan Si Pria 30-an sudah tahu kalau Mario bukan asli dari daerah ini. Mario mulai beranggapan bahwa pria 30-an ini mungkin adalah salah satu dari tukang atau mandor di proyek tempat ia bekerja. Soalnya, hanya orang-orang di lingkungan proyek saja yang tahu kalau Mario beserta tim-nya bukan asli Sumatera).
Mario         : Semarang, Pak
Pria 30-an  : Oo… Simpang lima, ya? (sambil mengambil posisi melipat tangannya di dada. Cool)
Mario         : Iya Pak
Perbincangan berlangsung normal seputar proyek, kuliner, dan objek wisata. Si pria 30-an makin lama makin berani sambil ngobrol sambil nepuk pundak Mario. Mario sih, nyantai aja sonder curiga. Makin lama, kok ya makin aneh. Pria 30-an mulai beraksi mengusap-usap pundak Mario. Dan akhirnya kejadian itu datang juga.
Pria 30-an  : (Dengan suara gemulai) gini Mas, saya lagi nunggu temen. Mas mau nggak dipijit?
Mario         : Appaaaaaa?! Diippingiiiiit?!
Seketika adegan jump-to seorang pria berlari-lari kecil dengan rambut terurai di pinggir jalan raya seraya tersenyum riang pada malam yang temaram oleh lampu-lampu jalan, speed video diperlambat hingga 60%, dipadu padan dengan backsound kontroversial: MENGAAPAAA JADI BEGINIII… JANGAN KAAAU MEMPERTANYAKAAN….

Beberapa minggu di Sumatera dan Mario tetap mengalami kejadian yang itu ke itu saja. Mungkin beberapa hari lagi dirinya akan bertemu dengan SALES MOBIL yang notabene sangat suka sekali banget nanyain PIN BB. Itulah kenapa Mario agak menjaga jarak dengan sales mobil (baca kisah Mario dan sales mobil).

Sales mobil  : yang ini murah Mas, 2500 DOHC. Angsurannya juga murah
Mario          : maaf Mas, saya belum tertarik punya mobil
Sales mobil  : kalau gitu saya minta PIN BB mas-nya aja deh
Mario          : maaf Mas, saya nggak pake BB
Sales mobil  : lah, terus pakenya apa dong?
Mario          : maaf Mas, saya pakenya mesin fax
Sales mobil  : hareee… geneeee… mesin fax? Muke pecel…
(P.S: ungkapan muke lele sudah jamak digunakan. Apalagi ikan piranha. Muke pecel masih jarang. Biar beda. Hidup beda!).
Mario          : maaf Mas, saya muke mangki…. APA-APAAN LO? LO NGAJAK RIBUT? LO NGGAK SENENG AMA GUE? LO KIRA GUE TAKUT? LO KIRA GUE TAKUT!
Sales mobil  : (gemeteran) memang mas-nya berani?
Mario          : maaf Mas, saya nggak berani….

Sempat terfikirkan oleh Mario untuk merubah penampilannya menjadi lebih sangar agar tidak mengalami kejadian serupa untuk ke sekian kalinya. Terfikir olehnya untuk membuat tato atau body piercing a.k.a tindik. Ia teringat seorang temannya yang interior designer. Lengannya penuh tato persis batik ‘parang rusak’ plus tindik di telinga kiri. Gentleman, sama sekali nggak kelihatan seperti preman. Ketika Mario dan temannya tersebut berdiri berjejer, para gadis akan melempar senyum kepada temannya dan recehan kepada Mario. Kadang-kadang malah nasi bungkus.

Pergi ke tempat fitness? Nggak lah. Takutnya, semakin macho body, semakin tinggi tingkat ketertarikan kepada laki-laki. Hal terakhir yang dipikirkan Mario adalah menjadi gondrong seperti dahulu. Ya, dahulu. Kegondrongannya telah dimanfaatkan oleh kecoa dan tikus untuk membuat sarang, dan kutu-kutu pada main layangan. Malahan ada ular sanca kembang yang mau ikut-ikutan bikin sarang di situ. Apalagi sekarang Mario sudah kerja, jadi tidak boleh gondrong lagi biar kelihatan berwibawa. Pencarian terhadap masculinity tidak berhenti, hanya di-pending dulu. KALAU ADA SUMUR DI LADANG, BOLEH KITA MENUMPANG MANDI. KALAU ADA UMUR PANJANG, BOLEH KITA MASKULIN LAGI.

Langsung saja, berikut beberapa keunikan yang saya temui di kota ini, antara lain:
1. Angkot.
Sepengalaman saya berpetualang di beberapa kota di Indonesia (cie sombong…) angkot di kota inilah yang paling oke punya. Agaknya para supir angkot di sini korban 2 Fast 2 Furious. Lihat saja, angkot-angkot itu dimodifikasi sedemikian rupa dengan stiker, velg 9”, dan lampu neon di kolong. Kalau masuk ke dalamnya, kita akan disuguhi audio system yang paling oke punya dengan speaker full bass KREDIT. Belum lagi interiornya, dilengkapi: DVD, LCD TV, home theatre, sampai Jacuzzi juga ada.
 

Muke pecel… ini dia kota yang supir angkotnya niat banget. Pasti lulusan S1 semua. Persaingan antar angkot untuk mendapatkan penumpang di kota ini lebih seru ketimbang persaingan harga saham di pasar modal. Lebih seru ketimbang persaingan MU dan City dalam jualan semen dan tiket pesawat. Para calon penumpang pasti akan memilih angkot yang paling full modif. Pernah sekali waktu saya memperhatikan seorang siswi SMP yang menunggu angkot. Sudah sepuluh angkot yang lewat digelengi-nya. Sampai angkot ke sebelas baru dia naik. Memang sih, ini angkot lebih oke dari sebelum-sebelumnya. Tapi, setelah jalan 100m tu siswi SMP turun lagi. Bener-bener…. Racun, mana racun….

2. Alay
Entah dari mana asal-usulnya, tapi di kota ini kata alay bukan barang baru. Di sini terdapat sebuah pasar yang bernama Pasar Alay (tapatnya Pasar Alai), tempat para alai-ers bertransaksi, mulai dari panci aluminium, sayur-mayur, daging, sampai ganja (he… he… yang ini nggak, cius). Hampir sama dengan pasar-pasar biasa dan MEMANG TIDAK ADA KEISTIMEWAANNYA DARIPADA PASAR BIASA. Para pribadi GALAU yang mayoritas ibu-ibu isterinya bapak-bapak ini bermunculan dari berbagai lokasi sekitar pasar, saling berinteraksi dengan cara yang baik, mencoba mengindahkan pribadi masing-masing yang tujuan paripurnanya adalah kehidupan yang kaya dan mengkayakan sesama. ITU (sambil tersenyum dan berpose menunjuk audiens). Sedetik kemudian para audiens bertepuk tangan riuh rendah lalu dilanjutkan oleh seorang MC dandy yang menyambut dengan jargon: ‘bemper sekali pak’.

Kota yang GALAU. Sangat turut perkembangan jaman. Sekali waktu saya terlibat percakapan dengan seorang pemuda lokal.
Mario    : kalau ungkapan ‘cius miapah’ (sambil menirukan ekspresi wajah seperti yang di iklan-iklan dengan kadar total) juga berasal dari daerah sini juga ya bang?
Pemuda  : hmmm… mas, ke pojokan bentar yuk!
Mario     : ngapain bang?
Pemuda  : udah… ikut sebentar
(dan kami pun berjalan ke pojokan)
Pemuda  : MAS… RIBUT YUK!!!

3. Christine Hakim
Christine Hakim adalah nama seorang aktris senior Indonesia. Di kota ini, Christine Hakim adalah seorang perempuan pengusaha masakan dan penganan ringan khas daerah. Dua-duanya sama-sama ramah dan murah senyum. Entah siapa yang meniru atau di tiru. Tapi yang jelas dua-duanya sama-sama sudah tua.

4. CPS-J
Berdasarkan pengamatan saya, CPS-J atau Cewek Pengguna Skinny-Jeans sangat mudah untuk ditemui di kota ini. Hampir di setiap sudut jalan dan taman kota, di bawah pepohonan dan halte, di taman dan di rumah masing-masing. Di kota-kota lain juga demikian, namun di kota ini perempuan pengguna kerudung juga sangat banyak jumlahnya. Mayoritas. 98,21% berdasarkan survey ngasal. Jadilah mereka itu CPS-JDK a.k.a Cewek Pengguna Skinny-Jeans Dengan Kerudung. Hal ini (menurut saya) membuat CPK-DRP a.k.a Cewek Pengguna Kerudung-Dengan Rok Panjang menjadi semakin istimewa cantiknya. Karena beda. Ya, beda. Hidup beda!
Seorang CPK-DRP terlihat duduk sendirian membaca buku di halte biru pada suatu siang. Aku (lho… kok aku?) terpikir untuk mendekatinya, berkenalan dengannya, lalu menjadi bagian memorinya. Maka, belajar-lah aku berkata-kata seperti: khaifahaaluk? (apa kabar?), man ismuki?(siapa namamu?), afwan (maaf), Syukron (bapaknya Hamid). Lalu kemudian bertransformasi se-Fachri mungkin dan berjalan menujunya. Hanya 2m lagi dan azan Dzuhur berkumandang. Ia beranjak, menuju Masjid. Bergegas. Tuhan, bidadarikah yang Engkau tunjukkan padaku?
Seketika adegan jump-to seorang pria berlari-lari kecil dengan rambut terurai di pinggir jalan raya seraya tersenyum riang pada malam yang temaram oleh lampu-lampu jalan, speed video diperlambat hingga 60%, dipadu padan dengan backsound kontroversial: MENGAAPAAA JADI BEGINIII… JANGAN KAAAU MEMPERTANYAKAAN…. (WOOOIIIII…. JANGAN ASAL NYELIP ADEGAN DOOOONGGG!!!)

5. RM Sederhana
Sama seperti RM Sederhana di kota-kota lainnya. BAGIAN MANANYA YA YANG SEDERHANA?

6. Dragon Boat
Dragon Boat atau perahu naga adalah event internasional tahunan yang diselenggarakan oleh Pemkot kota ini. Beruntung tahun ini saya bisa menyaksikannya. Berlokasi di banjir-kanal tepat di samping RM Sederhana.
Perahu naga merupakan sebuah perahu panjang berbahan fiber yang dihiasi kepala naga pada anjungannya. Sewaktu perlombaan, perahu naga ditumpangi oleh satu regu pendayung yang juga dilengkapi seorang penabuh genderang di anjungan dan pemegang kemudi di buritan. Perlombaan perahu naga bukanlah sekedar kekuatan tangan-tangan pendayung, strategi matang juga dibutuhkan di sini. Mari kita perhatikan dengan seksama:
Saya memperhatikan tim dari negara C, negara yang berjuluk negeri tirai bambu. Satu tim pendayung yang terdiri dari lelaki-lelaki kekar berikut pengemudinya. Perhatikan penabuh genderangnya, seorang perempuan berkulit putih, berambut ekor kuda, tidak terlalu besar, bahkan lebih mirip model ketimbang atlet. Mungkin coach-nya memiliki konsepsi pemikiran bahwa seorang wanita cantik akan menjadi rebutan dan dikejar-kejar pria-pria kekar itu. Rasanya ada yang kurang tepat dari konsepsi sang coach. Perhatikan, pria-pria kekar itu hanya duduk dan mendayung. Sekuat apapun ia mendayung, ia tidak akan bisa mendekati gadis tersebut. Ia hanya duduk saja dan mendayung. Makin kuat ia mendayung, makin jauh posisi gadis cantik itu di depan, apalagi bagi pendayung yang duduk di belakang. Menurut saya ini adalah strategi yang mubazir.

Di suatu sesi perlombaan, tim negara C berlomba dengan tim dari negara kita. Tim negara C masih menggunakan strategi yang sama. Tim negara kita tidak menggunakan strategi yang sama, semua anggota tim adalah pria termasuk penabuh genderangnya. Begitu pistol di tembakkan, setiap tim mendayung sekuat tenaga, termasuk tim dari negara kita yang penabuh genderangnya adalah seorang PRIA. Tim negara kita melesat meninggalkan tim-tim lainnya termasuk tim negara C, tim negara kita penabuh genderangnya benar-benar PRIA. Sudah setengah lintasan terlewati, dan masih memimpin, sementara penabuh genderangnya adalah seorang PRIA. Tiga perempat lintasan, tim-tim lain tertinggal jauh dan penabuh genderangnya masih saja PRIA. Akhirnya tim negara kita berhasil memenangkan sesi tersebut dengan penabuh genderang dari awal hingga akhir adalah seorang PRIA.

MENGAAPAAA JADI BEGINIII… JANGAN KAAAU MEMPERTANYAKAAN…. (TIDAK JERA… BENAR-BENAR TIDAK JERA. MAS, TOLONG YA, JANGAN NYELIP ADEGAN!)

7. Payung setengah tiang
Kalau ada satu tempat yang paling menarik di kota ini, mungkin adalah pantai. Ya, pantai. Pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, terbentang luas, tidak terlihat ujungnya. Konon, belum ada yang benar-benar sanggup untuk berenang dari bibir pantai kota ini, lurus hingga India.
Sebuah pantai, dengan jalan aspal lebar-memanjang menemani di sisinya. Jalanan itu tidak terlalu ramai oleh lalu-lalang kendaraan, sehingga warga masyarakat bisa memanfaatkannya untuk beraktifitas pagi dan sore hari: jogging, bersepeda, berjualan, ataupun hanya sekedar berjalan-jalan. Di sisi jalan yang berdekatan dengan pantai banyak ditemui warung-warung/café-café yang menjajakan beraneka makanan dan minuman. Uniknya, warung-warung ini dilengkapi payung besar yang tidak dibuka tingi-tingi, alias hanya setengah dari tiangnya. Orang dewasa normal tidak akan bisa berdiri di bawah payung itu. Harus merunduk untuk dapat berada di bawah payung. Saya mulai berfikir logika matematis guna menjawab fenomena ini.
Ibaratnya sebuah bangunan, ada gaya vertikal dan horizontal yang bekerja pada bangunan tersebut. Salah satu gaya horizontal yang diperhitungkan dalam perencanaan struktur bangunan adalah beban angin. Semakin tinggi bangunan, semakin besar angka beban angin yang diterimanya. Apalagi pada posisi geografis tertentu, semisal bangunan yang berada di pinggir pantai. Ia harus mampu bertahan terhadap terpaan angin laut. Persis seperti bangunan, payung-payung itu juga demikian. Dikarenakan harga yang harus dibayarkan relatif mahal untuk treatment struktur, maka jadilah payung itu dibuat setengah tiang. Rendah saja, agar beban angin yang diterima semakin kecil. Penjelasan yang logis. Ketika saya mencoba mengamati payung-payung tersebut lebih dekat lagi… hmmph… lagi-lagi… hmmph… ckckckckck, second reason should be fun. Tapi bener ya, alasan pertama lebih masuk akal. Yang memanfaatkan payung untuk alasan kedua sedikit kok, hanya satu-dua saja. Paling banyak sepuluh. Beneran, paling banyak sepuluh. Sumpah.
Begitulah, dan matahari terbenam tetap saja indah dimanapun ia berada. Termasuk di pantai kota ini. Seindah harapan Mario untuk dapat bertemu Em suatu hari nanti. Mario sudah punya penghasilan. Ia tidak lagi memikirkan hanya soal kredit motor. Mario ingin kredit rumah. Untuknya dan Em.

***

Beton mutu K-400 maksudnya adalah setiap 1 cm3 beton yang telah mencapai umurnya, yakni 28 hari, akan mampu menahan beban hingga 400kg. Aku ingin setangguh beton itu. Aku yakin mampu setangguh beton itu.


Best regards,
K&D





:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

3 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive