6

Aku dan Mataku

Posted by Faril Lukman in
Apalah daya, pikiran tak akan mampu menggugat hati yang kadung menjadi keras karena himpunan, gumpalan, dan tumpukan kiasan dari orang lain ataupun dari kedengkian sendiri. Sepotong hati yang bedarah dan telah banyak muncul belatung karenanya.

Aku berjalan menikmati dunia di sekitar kerumunan orang; yang kukenal dan tak kukenal, yang kusapa dan tak (ingin) kusapa, yang kusering berbicara dengan dan tak ingin aku tersenyum padanya. Banyak tingkah dan aktivitas tersambar oleh mataku di mana selalu mencari detail yang diingini oleh hati, bukan pikiran. Sepotong perbuatan dan tindakan yang tampak di penglihatanku mengalirkan deru ke dalam hati. Menyampaikannya ke pikiran untuk diolah menjadi kata yang akan segera diungkapkan oleh lidah. Berharap akan kata yang bisa memuaskan hati segera terucap dan melayang di udara sebelum akhirnya disambut telinga teman dekatku.
Karena melalui hati, aku pun menafsirkannya berdasar apa yang ingin kutafsirkan tanpa menimbang alasan dan penyebab. Sebelum masuk ke pikiran, di hati lah "pandangan" ini diolah dan diramu menjadi apa yang kuingini. Setelah masuk ke otak pun tak banyak yang bisa dilakukannya, hanya mengubahnya menjadi barisan kata, bukan merubah makna yang telah diolah di hati; bahkan meski makna itu tak sebenarnya seperti yang diungkap mata.
Indah kubilang kurang, bagus kubilang rendah, cerdas kubilang kebetulan, mulia kubilang pencitraan. Sebagian terbentuk karena hati yang telah dipengaruhi, sebagian yang lain karena pengalaman tak menyenangkan terbentuk dan terpatri di dalam, lainnya lagi karena penyakit dengki. Apapun yang dilakukannya, tak ada yang baik menurut guratan yang terekam di hati. Apalah daya, pikiran tak akan mampu menggugat hati yang kadung menjadi keras karena himpunan, gumpalan, dan tumpukan kiasan dari orang lain ataupun dari kedengkian sendiri. Sepotong hati yang bedarah dan telah banyak muncul belatung karenanya.

Pikiran yang sudah seharusnya memenangkan pertengkaran pun tak mampu memerintah hati. Dengan strategi dan taktik lain menaklukan hati, pikiran pun harusnya memerintah kepadanya yang menyebabkan hati memiliki alasan menterjemahkan keburukan. Pikiran harus memerintahkan mata yang memandang agar tak memberi info kepada hati-kaku perihal perbuatan baik disangka buruk, telebih perbuatan buruk itu sendiri yang akan menjadi dianggap busuk.
Pikiran akan mengatur mata agar melihat apa yang boleh dilihat, memalingkannya dari apa yang tak boleh dipandang. Menyikapi setiap perbuatan mereka dengan sikap bola mata; berpaling dari keburukan, menghindarkan dari prasangka busuk. Tak bisa memerintah hati, tapi bisa minta pertolongan pada mata.

Katakanlah pada mata: "Sesungguhnya orang lain pun juga memiliki mata yang dapat melihat keburukan kita."


Terinspirasi oleh: Khotbah Jum'at 4 Januari 2013 


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive