2

Aku dan Ibu

Posted by Faril Lukman in
“Wid, tangi.. Ibu dikancani. Ibu kok rasane sedih..” 
(“Wid, bangun.. Ibu ditemani. Ibu rasanya sedih..”) 
Aku dan Ibuku dekat sekali. Apapun yang kualami, selalu kuceritakan kepada Ibu. Begitu pula dengan Ibu, bahkan hal-hal kecil dan sepele seperti kelangkaan ikan pindang atau bawang Bombay di pasar juga tak luput diceritakan padaku. 

Kedekatanku dan ibu bukan berarti tanpa pertengkaran. Ada kalanya ibu marah padaku, begitu pula sebaliknya, Aku terkadang ngambek pada ibu. Hanya karena hal-hal simple sebenarnya. Bukan hal yang baik memang ngambek pada ibu, tapi begitulah, seperti pada sahabat, semakin kita dekat, maka pasti ada hal-hal kecil yang dipertengkarkan. Kalau tidak ada yang dipertengkarkan, maka persahabatan itu perlu dipertanyakan. 


Aku ingat, ketika lulus kuliah S1, IPK-ku tidak sampai cumlaude. Ibuku kecewa. Namun setelah menghadiri wisudaku di kampus Undip Tembalang, ibu berkata, “wah kampusmu adoh banget ya ternyata. Adohe koyo ngono mbok laju mben dino yo Wid. Ngono isih tak sengeni nek tekan omah, tak kon nyapu ngepel. Wes, mulai saiki kowe tak anggep cumlaude (wah, kampusmu jauh sekali ya ternyata. Jauhnya seperti itu kamu laju setiap hari ya Wid. Sudah begitu masih ibu marahin kalau sampai rumah, ibu suruh menyapu dan mengepel. Sudah, mulai sekarang, buat ibu, kamu cumlaude.)” 

Tahun 2013, Ibu memasuki usia 62 tahun, usia yang sudah terbilang senja. Kemampuan fisik pun sudah tidak seperti dulu. Menjadi anak bungsu, berarti menjadi yang paling akhir meninggalkan rumah, menemani orang tua. 

Entah mengapa, beberapa tahun kebelakang, ibuku menjadi sedikit ‘manja’. Selalu minta kutemani, dan akan ngambek kalau aku keluar rumah terlalu lama. Bahkan Ibu menahanku untuk bekerja di Ibukota. 

Jujur, aku pernah marah pada Ibu, karena menahanku ke ibukota, sementara hampir semua temanku hijrah kesana. Ibu sering berkata “Ibu ki sedih nek rak ono kowe ning omah, rak ono sing ngancani ibu (ibu itu sedih kalau kamu tidak di rumah, tidak ada yang menemani ibu)”. Dulu, aku menganggap kata-kata itu aneh, karena kakak-kakakku masih sering berkunjung setiap weekend. Tapi sekarang aku paham. Tidak secara harafiah, tapi aku mengerti bagaimana di usia senja, seseorang akan merasa kesepian. 

Permintaan ibu agar aku tetap menemani beliau adalah permintaan sederhana. Sungguh. Bukan hal yang muluk. 

Seumur hidupku, Ibu selalu ada menemaniku. Selalu ada saat aku membutuhkan, bahkan ketika aku tidak berkata apa-apa. Selalu mendengar keluh-kesahku dengan sabar. Maka, kini saatnya aku yang menemani ibu, sebisa mungkin ada saat ibu membutuhkan, dan mendengarkan keluh kesah beliau. Sungguh, meskipun begitu, yang kulakukan untuk ibu tidak akan pernah sebanding dengan yang ibu lakukan untukku. 

Keinginanku untuk ke ibukota sudah kuikhlaskan. Toh tanpa restu ibu, hidup di ibukota tak akan berkah. Aku senang, berada di tempat dimana aku dibutuhkan. Dibutuhkan oleh ibu. 

“Selagi ayah bundamu masih ada, jangan engkau pergi jauh” 
Agustinus Wibowo -- Titik Nol 

“Selamat ulang tahun Ibuku tersayang..” 
9 April 2013



  oleh:  Widuri K. Kusumowati



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive