2

Pelangiku Satu Warna

Posted by Faril Lukman in ,
"Kak, kog pelangi itu warna-warni ya?"
"Kalau cuma satu warna kan keliatan jelek. Kalau banyak warna gini kan keliatan lebih indah. Indah nggak pelangi itu?"
"Indah banget, kak. Warna-warni."

Penggalan canda dengan sepupuku yang masih 5 tahun semakin lekat di pikiranku. Apalagi di sini duduk sendiri di kursi paling ujung teras cafe. Ya, teras cafe dengan suasana ruang teras rumah tinggal, dengan kolam kecilnya, dengan tanaman merambatnya, dengan lantai marmer yang terkesan kuno, dengan rajutan bambu yang membayang, dengan jendela kayu tanpa cat, dengan gemericik air santunkan suasana. Tempat yang akhir-akhir ini selalu kukunjungi setiap Rabu sore sepulang lelah mencari uang. Rabu yang selalu sepi tak seperti hari lain. Rabu yang pengunjungnya hanya beberapa orang saja. Kenapa aku memilih Rabu yang sepi untuk ke cafe ini? Karena aku memang suka suasana sepi begini, lebih tenang untuk merenung, lebih senyap untuk berpikir, dan tentu saja sajian yang dipesan lebih cepat tiba di meja.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

3

Salam Untuk Calon Ibu

Posted by Faril Lukman in ,
Janin adalah salah satu anugerah Tuhan yang hanya akan diberikan kepada wanita. Anugerah yang seharusnya menjadi indah, tapi dianggap sebagian wanita menjadi aib yang tak ingin diterimanaya. Tak seharusnya wanita menggugurkan janin yang ada di dalam rahimnya. Bagaimanapun juga, mereka adalah makhluk hidup yang dititipkan Tuhan. Kecuali Tuhan, tak ada yang tahu peran apa yang akan diberikan janin saat kelak dia dewasa.
Semoga tak ada lagi wanita yang tega menggugurkan janin dalam kandungannya. Semoga para pria juga menjadi Imam yang akan melindungi janin dalam kandungan wanitanya. Jika saja janin dapat berbicara...

*****
@Segara_13: Dear mom. Aku sayang bunda, meskipun aku hanya tercipta dari nafsu belaka. Sincerely, janin..
@tinussinulingga: Mama dulu bolos ya waktu guru SMP jelasin ttg kelahiran bayi? 9 bulan, Ma, bukan 9 minggu. Sinc, Janin



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

6

Kenapa?

Posted by Faril Lukman in
Kenapa baru kusadari di akhir perjalanan?
Kenapa tak kuhindari saja dari awal?
Kenapa?

P.S Penulis tak dapat melanjutkan tulisan ini karena tak mampu menuangkan pikirannya dalam kata-kata.


Setting tempat: Meja berombakkan kertas jernih
Terinspirasi oleh: Seorang teman sekantor di kontraktor telekomunikasi


:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Kota Jingan Ba

Posted by Faril Lukman in
Namanya Jingan Ba. Tapi ia biasa dipanggil Jingan atau Ji. Sebagian teman-temannya ada yang iseng memanggilnya Gi, karena tabiat Jingan Ba memang mirip dengan tokoh pemuda itu. Aku sendiri lebih senang memanggilnya Ji; lebih sederhana.

Ji anak semata wayang, berasal dari keluarga yang biasa, ayahnya kuli bangunan sedangkan ibunya seorang tukang cuci. Ia lahir tepat ketika gempa besar meluluhlantakkan seisi kota. Para pemuka agama mengatakan, waktu itu, gempa besar yang meluluhlantakkan seisi kota adalah hukuman dari Tuhan kepada warga kota yang mengabaikan nilai-nilai keimanan dan enteng berbuat dosa. Tuhan tidak senang, makanya ia mengirimkan gempa. Dan waktu gempa itu terjadi adalah tepat sebelas bulan dari waktu kematian ayahnya karena terjatuh dari lantai enam tempat ia bekerja. Kau mestilah bisa menduga-duga apa yang dipikirkan orang-orang kepadanya, juga kepada ibunya.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

2

Nyata Mimpiku

Posted by Faril Lukman in
Lelahku bukan karena menyerah, bukan karena jalanku yang terbelah.
Lelahku takkan muncul meski langit pecah.
Semangatku seperti berjalan di atas padang pasir. Melihat oase yang sejuk, membuat fatamorgana nyata.
Tubuhku tegap berdiri, menikmati khayal dibias semilir pagi.
Akalku semakin kuat, seluruh isinya tertumpah di bumi.
Pikiranku merajalela, menjadikan dunia di bawah kendali.
Kakiku menancap kokoh, dunia jadi pijakan yang nyaman.
Auraku menyebar menyelimuti udara, sebarkan racunku yang menginfeksi dunia.
Kelamku terhapus sudah, bintang terjauh meredup berganti bintang terdekat.
Kabutku sirna tertembus, memudar, menghilang, lenyap diusir cahaya.
Dinginku terserap, menguap, dikalahkan oleh hangatnya fajar.



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive