8

K&D Learns Storytelling (9)

Posted by Faril Lukman in ,
Saya (kembali) diingatkan tentang betapa kuatnya efek dari kata-kata terhadap kehidupan manusia. Setidaknya ‘Sang Pemimpi’ dan ‘Negeri 5 Menara’ telah membuktikannya, film dan novel yang belakangan saya putar dan baca kembali. Jika kita melontarkan satu kata, depresi misalnya, maka perihal itulah yang akan terjadi pada diri kita, diharapkan atau tidak, sepanjang kita tidak merubahnya dengan kata yang lain. Akan semakin bertambah buruk (atau justru semakin baik) jika kata-kata tersebut berulang-ulang, berputar-putar di dalam kepala kita waktu demi waktu. Jadi, mulai saat ini berhati-hatilah ketika melontarkan kata-kata dari mulut kita, terutama yang berefek dua arah: bagi diri sendiri dan orang lain. Beruntung sahabat kita Mario menyadari hal ini lebih awal sebelum ia menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahun-tahun di perantauan menyadarkan saya akan semangat ke-Indonesiaan yang sebenarnya. Bahwasannya bangsa kita adalah bangsa yang pandai bersyukur, sedangkan syukur merupakan bagian dari kata-kata yang baik. MAS UNTUNG, MAS BEJO, DAN MAS SLAMET memberi contoh kecil-luar biasa (dan luar biasa kecil) tentang itu semua. Seringkali kita mendengar lontaran kalimat seperti berikut:
· Sewaktu kecelakaan: “Untung yang patah tangan yang kiri, masih bisa nulis” (khusus buat yang tidak kidal).
· Sewaktu pulang dari Masjid: “Untung yang hilang sandal yang kiri, masih bisa engklek (lompat-lompat satu kaki-red) pulangnya”
· Sewaktu pesawat mau landing,
Pramugari : Kapten, sayap bagian kiri patah terbawa badai!
Pilot : Untung yang patah sayap yang kiri, masih bisa… masih bisa… masih bisa opo yo? Halo, mide… mide… mide…mide… halo… halo… mide
P.S: yang menjadi pilot kebetulan asli Purwokerto, sehingga tidak bisa melafalkan lafal –ay (mide maksudnya mayday). Memang, setiap etnis di Indonesia mengalami kesulitan yang berbeda-beda dalam pelafalan tertentu. Unik bukan?

Ada hal-hal yang masih bisa disyukuri, bahkan ‘diuntungi’, dari setiap musibah dan kemalangan adalah pelajaran berharga yang saya peroleh dari Mas Untung.
Masih tentang bersyukur, Mas Bejo memberikan contoh dengan situasi berbeda. Mas Bejo, seorang pria gagah perkasa adidaya, dengan theme song hidupnya: abang biru lampune disko… awak kuru Mas, mikir BEJO loro… (yang belum tahu artiinya, silakan di-‘blangkon’ translete sendiri. Punya inisiatif, dong!). Mas Bejo senantiasa mengajarkan perihal rejeki yang semakin bertambah jika semakin disyukuri. Hari ini dapat 500 ribu, ucapkanlah Alhamdulillah, besok bisa dapat satu juta. Hari ini punya sepeda satu, ucapkanlah Alhamdulillah, besok punya pangkalan ojek. Hari ini punya isteri satu, ucapkanlah Alhamdulillah, besok punya isteri…. (titik-titik bisa diisi sendiri sesuai kebutuhan dan KEBERANIAN).

Mas Slamet, seorang tukang pecel lele-entrepreneur, yang berhati berlian. Perkenalan kami berawal dari satu peristiwa yang sebetulnya kurang mengenakkan. Saya hampir ribut sama Mas Slamet sewaktu membeli pecel lelenya. Kesal setengah mati saya sewaktu beli pecel lele nggak dikasih kuah kacang. “Darimana pecel lelenya kalo nggak dikasih kuah kacang? Ente nyari gara-gara sama ane? (tiba-tiba jadi arab karena keseringan ngaskus) Ane pesen dua kalo gitu!”
Pelajaran apa yang diberikan oleh Mas Slamet? Begini ceritanya, dahulu Mas Slamet adalah seorang anak desa yang miskin. Kedua orang tuanya meninggal tanpa mewariskan secuil harta bendapun. Arus nasib membawanya ke kota. Di kota, Mas Slamet hidup terlunta-lunta, dari satu emperan toko ke emperan lain, dari satu pasar ke pasar lain, dan dari satu perempatan ke perempatan lain. Kerap kali ia harus makan sisa-sisa makanan di tempat sampah. Namun, ia tidak pernah menyalahkan Tuhan atas nasibnya tersebut. Ia selalu tersenyum. Tuhan memang menganugerahkan hati berlian kepada Mas Slamet. Hingga pada suatu hari, Mas Slamet menemukan cara agar nasibnya berubah: MAS SLAMET MENJUAL GINJALNYA. Ternyata bukan hatinya saja yang berlian, ginjalnya pun emas 24 karat. Pesan Mas Slamet: kalau tidak punya uang, maka juallah ginjal.

Di suatu kesempatan yang lain, Mario dengan seorang gadis
Gadis : Mario, makan di situ yuk! Di restoran Korea. Aku pengin nyobain tak galbi, bulgogi, bimbimbap, kimbab, soon dubu (nggak pake ER), sama kimchi
Mario : Iya, tapi kamu tunggu bentar di sini ya…
Gadis : Kamu mau ke mana, Mar?
Mario : Mau jual ginjal!
Harga makanan di restoran Korea memang sangat mahal. Saya pernah apes masuk ke situ.

Dibalik pribadi yang pandai bersyukur, ada satu hal yang sebenarnya agak ‘nggak asyik’ pada pola pikir masyarakat kita. Masyarakat kita masih memandang bagus, hebat, dan keren secara kurang proporsioal segala hal yag berasal dari luar negeri, terutama dari benua Amerika dan Eropa. Pokoknya, yang dari barat pasti oke punya. ‘Asal British’ kalau Jamrud bilang. Belakangan beberapa Negara Asia seperti Jepang dan Korea juga turut menyedot animo masyarakat, terutama kalangan muda, perihal ‘sesuatu yang keren’ ini. Paling kentara adalah soal standardisasi pria tampan dan gadis cantik. Standar umum yang berlaku yakni mancung, tinggi, dan putih. Itulah kenapa banyak orang bule yang betah berlama-lama di Indonesia karena mereka diperlakukan seperti dewa. Yang tidak mancung, tidak tinggi, dan tidak putih, ikhlaskanlah diri menjadi tersisih atau pilihan terakhir di lapangan persaingan percintaan.

Saya pernah bertanya kepada Bunda (ha? Bunda? Sejak kapan manggil Bunda?) apakah Bunda tidak salah mengandung? Memang ‘bukan salah bunda mengandung’, tetapi bunda salah ngidam. Bukannya ngidam susu, tapi malah ngidam kopi pahit. Parahnya lagi, si Bapak malah sekalian di ajak main catur. Sungguhpun saya sebenarnya tahu, meskipun bunda ngidam susu paus bongkok sekalipun, nggak akan ada yang berubah dengan warna kulit saya. Tapi, toh sekali-sekali saya mengkhayalkan Bunda ngidam body lotion, lebih mending daripada ngidam lem AIBON (jangan Bunda, haram…), dan berharap ada perubahan keadaan. Tentang catur, pada akhirnya ini menjadi pesan terakhir dari Bapak ketika saya hendak berangkat merantau. ‘Kuasailah permainan catur, maka kau akan kuasai orang lain’. Pesan yang sangat BERMAKNA dalam. Sungguhpun demikian, saya tidak pernah mengerti dengan maksud pesan ini. Tidak heran, sekarang saya tidak ‘menguasai’ satu pun orang lain.

Ada yang bilang kalau kebiasaan orang Indonesia ‘memandang ke atas’ ini disebabkan oleh pengaruh dari masa penjajahan Kolonial Belanda yang begitu lama. 350 tahun, dan Belanda telah berhasil mencuci otak nenek moyang kita, lalu menurunkan ke generasi selanjutnya. Menjadikan dirinya dewa, minimal malaikat, yang harus dipuja, disembah, dikagumi dan dihormati dari sisi manapun. Sungguh terbakar semangat ketika saya membaca artikel karangan Suwardi Suryaningrat sewaktu mempelajari Sejarah di bangku SMA. ‘Andai Aku Seorang Belanda’, judulnya. Tidak mau terprovokasi Belanda, saya bersikeras berpendapat bahwa perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit tidak terlalu putih alias, sawo matang, bahkan cenderung gelap dan berhidung tidak terlalu mancung. Tinggi menyesuaikan alias tidak terlalu tinggi. Hasilnya? Ketika saya dan teman-teman ngobrol ringan di kantin, biasanya ada teman yang suka melemparkan pertanyaan pilihan, seperti: Anne Hathway atau Nadine Chandrawinata? Emma Watson atau Laudya Chintya Bella? Angelina Jolie atau Marsha Timothy? Nah, kalau buat saya: OPRAH WINFREY atau ADE JUWITA? Bumerang, benar-benar bumerang.

Dalam sebuah buku tentang bagaimana mendapatkan teman kencan (yah, ketahuan pernah baca), di situ dituliskan sebuah tips tentang mengelola percakapan. Cewek suka dengan cowok pintar. Maka, dalam percakapan, cobalah untuk menyelipkan kata-kata dalam Bahasa Inggris agar terdengar smart. Ini adalah tips paling WHATEVER yang pernah saya baca, tapi belakangan malah populer, terutama di kalangan ‘generasi muda harapan bangsa Indonesia’masa kini. Sebenarnya juga sudah mulai populer ketika saya duduk di bangku SMA, beberapa tahun yang lalu. Menurut saya, kalau mau pakai bahasa Inggris, ya sekalian bahasa inggris full. Jangan mencampuri bahasa Indonesia yang sudah indah dengan bahasa Inggris yang dipaksakan. Nggak comfortable, gitu (meminjam kalimat dalam sebuah iklan odol). Degradasi. Eh, ntar kita lunch di… bla.. bla… bla… abis itu kita hang out di... bla.. bla… bla… curious lo, aku sama cowok itu… eh, aku fall ke got nih! Help… help… helblep… blep… blep…. Mampus kelelep.

Persis seperi kondisi awal yang tidak mau terbawa arus provokasi Belanda, saya bersikeras untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kapanpun dan dimanapun. Tidak hanya sonder bahasa Inggris, tetapi juga senantiasa menggunakan bahasa dengan kata-kata baku. Kata-kata yang tertulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hasilnya? Sewaktu saya membantu seorang teman laki-laki yang matanya kelilipan, sebelum meniup matanya, saya berkata”coba kulihat sebentar ke dalam matamu, menurutku ada sesuatu di situ”. Tidak sampai 24 jam setelah kejadian tersebut, teman-teman laki-laki mulai menepuki pundak saya satu per satu dan teman-teman perempuan tanpa ragu memegang tangan saya bersahabat.
Apa? HOMO? Nggak sama si RUSTAM KABIR juga kali…

Ya, teman yang saya bantu meniup matanya sewaktu kelilipan adalah Si Rustam Kabir, Rusak Tampang Karena Bibir, dan ini UNTUK PERTAMA KALINYA Mario dicurigai sebagai penyuka sesama jenis. Nggak tega kalau harus mendeskripsikan bibirnya. Sebagai pembelaan terakhir, seperti jargonnya para Maho: biar Maho juga pilih-pilih….

Selain Rustam Kabir, ada dua Rustam lagi, yaitu: RUSTAM KABUT dan RUSTAM KARIM. Rustam Kabut, seorang pemuda berambut tipis di bagian depan (bahasa yang lebih halus untuk: botak) sehingga wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya. Rustam Kabut, Rusak Tampang Karena Rambut. Sebenarnya ia cukup tampan, sebelas-dua ratus sama aktor laga Jason Statham. Menurut saya, Rustam Kabut adalah tipikal pemuda bermasa depan cerah, karena dia hanya punya dua pilihan profesi. Kalau tidak jadi profesor, pastilah jadi pemain sinetron stripping memerankan tokoh pengusaha kaya berjas-dasi yang memiliki banyak perusahaan. Tapi sayangnya, ia malah bercita-cita menjadi seorang hair stylist seperti Rudi Hadisuwarno dan Jhonny Andrean. Rustam Kabut hobi mengoleksi pernak-pernik Hello Kitty dan segala hal beraliran pinky. Selain itu, ia juga tahu berbagai merek tas wanita mahal dan ahli membedakan mana yang original dan mana yang bukan. Harusnya dia yang jadi tersangka utama Maho!

Kenapa dipanggil Rustam Karim? Baiknya saya ceritakan dulu ciri-ciri dari salah seorang sahabat saya ini. Rustam Karim selalu tampil ke sekolah dengan rambut klimis, disisir rapi ke belakang, agak meninggi. Kalau dilihat-lihat, persis seperti ibu-ibu istri pejabat yang rambutnya disasak. Seragam sekolah selalu masuk ke dalam celana dengan lengan yang digulung, kurang lebih dua-tiga gulungan. Sesekali ia mengenakan kacamata hitam. Kancingnya selalu dibuka dua di bagian atas dan kerahnya dinaikkan. Potongan celana abu-abunya pun cutbray. Kalau sedang berdiri di koridor, lutut dan kepalanya selalu bergoyang ke kiri dan ke kanan, seolah-olah sedang menikmati alunan musik rock n roll sambil nge-lem. Memperhatikan penampilannya secara keseluruhan, pastilah akan segera ketahuan kalau ia adalah penggemar berat SIMPLE PLAN.

Diantara kancing seragamnya yang selalu dibuka dua di bagian atas, tersembullah beberapa helai bulu dada menghitam, dan keriting dari balik kaos singletnya. Tolong, jangan paksa ia untuk membuka semua baju, simpanse pun akan minder dibuatnya. Bisa jadi ia memang satu-satunya Homo Erectus yang tersisa. Itulah kenapa ia dipanggil Rustam Karim. Rusak Tampang Karena Rimbun.

Rustam Karim sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia dan penggemar sastra kelas berat. Itulah hal yang membuat saya akrab dengannya. Lisannya dengan mudah selalu melontarkan puisi dan pantun seolah-olah tidak dipikirkannya terlebih dahulu. Agaknya memang sesuai dengan penampilan visualnya yang seakan ‘terjebak masa lalu’. Ketika lewat di depan seorang siswi adik kelas yang sedang piket, spontan ia berkata:
Bunga anyelir bunga lili
Bertiga dengan bunga dahlia
Sepintas tadi kucium aroma wangi
Ternyata adik di sebelah jendela
Atau ketika sedang mendapati seorang gadis di taman:
Mentari senja merah lembayung
Serempak terbang burung ke utara
Gadis dara sendiri bermenung
Siapa gerangan ia punya nama?
Rustam Karim… benar-benar pujangga yang seharusnya telah wafat bertahun-tahun lalu. Sungguh, saat ini bukan lagi masanya.

Suatu kali ia bercerita ketika ia melintas di sebuah taman di depan sebuah kompleks bangunan. Sebelumnya ia memang belum pernah lewat di situ. Di taman tersebut, di bangku yang membelakangi sebuah papan nama yang mungkin saja papan nama lokasi kompleks tersebut, ada seorang gadis cantik duduk sendirian mengenakan seragam putih abu-abu. Bak alarm tanda bahaya, langkahnya menuntunnya mendekati sang gadis guna melempar sepatah dua patah pantun. Didekatinya, dipantuninya, gadis tersebut tersenyum manis sekali. Beberapa jurus kemudian ia berdiri sejenak lalu berlari-lari kecil malu-malu. Pucuk dicinta ulam tiba, dunia seakan berubah menjadi televisi hitam-putih untuk Rustam Karim. Dikejarnya pelan-pelan slowmotion gadis tersebut seperti adegan di film-film A. Rafik. Sumpah, saat itu dunia seperti menyediakan masa-masanya. Pandangan pertama, awal aku berjumpa… (backsound mengalun di udara, MP3)
Mario : Lalu kau mendekatinya? Menggenggam tangannya?
R.K. : Tidak sampai, aku terlalu terkejut ketika melewati papan nama di situ
Mario : Mengapa? Apa gerangan yang tertulis di sana?
R.K : ‘Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cepat Sembuh’. Mana ada nomor telepon-nya segala… ya, aku simpan saja nomornya daripada aku tidak menyimpan apa-apa?

Sewaktu liburan sekolah, Rustam Karim mengunjungi pamannya yang berdagang kain di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Ia bercerita bahwa orang-orang Jakarta sangat pandai berpidato. Di Jakarta, mengamen tidak lagi hanya sekedar bernyanyi sambil bergitar, berpidato pun bisa. Ditirukannya gaya orang Jakarta itu berpidato dalam sebuah bus
Selamat siang saudara-saudara…
Kami jauh datang dari (menyebutkan nama sebuah kota)
Kedatangan kami di sini tidak memaksa, hanya meminta belas kasihan dari saudara-saudara
Untuk makan sehari-hari
Daripada kami harus MASUK PENJARA lagi
Lebih baik kami begini…
Merasa bisa melakukan hal serupa, Rustam Karim menjajal kemampuannya. Setelah lampu lalu lintas kedua, Rustam Karim berdiri lalu menghaturkan sembah ala orator melayu klasik. Dengan sedikit improvisasi, ia mengubah sedikit teks pidato lamanya yang menceritakan kisah perjuangan Bung Hatta di penjara.

Kami berusaha untuk menjadi merdeka
Meski darah kami sendiri harus menjadi tinta pena

Kami memang manusia yang pernah merasakan dinginnya jeruji
Dan kami tak nak kembali

Dan sewaktu ia menyorongkan saputangannya, pecahan-pecahan lima sepuluh-ribu berhasil dikumpulkannya dari para penumpang. Bahagia sekali Rustam Karim, ternyata orang Jakarta sangat menghargai sastra. Ia bercerita bahkan sampai ada yang menggigil saking menghayati pidatonya. Sebagian lagi pucat pasi, mungkin terbayang penderitaan Bung Hatta yang kedinginan di balik jeruji. Tepat ketika lampu lalu lintas sedang menyala merah, di depan masjid terbesar di Indonesia, para penumpang bus semuanya turun tergesa-gesa. Semakin berlipat kekaguman Rustam Karim terhadap orang Jakarta. Tidak hanya menghargai sastra, orang Jakarta ternyata taat beribadah. Cuma sang kondektur yang bereaksi ‘ampun mas… ampun mas…’ ketika berpapasan dengannya di pintu bus yang sempit. Ini pasti masalah bulu dadanya.

Ada satu peristiwa yang entah saya harus berekasi seperti apa. Waktu itu jam istirahat dan saya sedang tugas Patroli Keamanan Sekolah (PKS). Di sudut sekolah dekat gudang, saya mendapati seorang teman sedang menikmati sajian film porno via handphone alias nge-bokep. Gelagapan ia menyembunyikan barang bukti sewaktu saya mendekatinya. Saya tidak ingin memperkarakannya, makanya saya coba untuk memberikan pemahaman persuasif kepadanya. Daripada menghabiskan waktu dengan perbuatan yang tidak baik, lebih baik memanfaatkannya dengan kegiatan yang lebih produktif. Hobi menulis misalnya. Menulis puisi, cerpen, artikel, pantun, atau apa saja. Contohlah Rustam Karim. Demi mendengar saran saya, beberapa detik kemudian ia membalikkan badan, mengetuk pintu gudang yang terbuka sedikit sambil berkata” Rim, keluar, Rim. Kita ketahuan!”
Ada-ada saja si Rustam Karim, sahabat saya itu. Dan cerita masa SMA adalah cerita indah yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Rasanya baru kemarin saya dan Rustam Karim berencana mengejar beasiswa ke Australia. Ya, ke Australia. Kami akan belajar Sastra Indonesia di sana.

***

Mempercayai orang lain memang baik. Tetapi mepercayai diri sendiri akan jauh lebih bermakna.
K&D





:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

8 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive