3

Surat Kepada Ibu (oleh Pambayun Kendi Pratolo)

Posted by Faril in ,
Ibu, ini adalah surat pertamaku sejak aku meninggalkan rumah dua tahun yang lalu. Kutulis surat ini karena terlalu banyak yang harus kuceritakan, tidak cukup dengan pesan singkat seperti yang sudah-sudah.
            Ibu, ingat dulu waktu waktu pertama kali Ibu melepasku di bandar udara. Ibu berpesan: kau pergi sekarang, kau pulang telah jadi orang. Aku juga masih ingat pepatah yang Ibu senandungkan berulang-ulang ketika menjahitkan kemeja untukku. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.1 Aku ingat, Bu. Setidaknya di permulaan.
            Ingat dulu, ketika awal-awal perkuliahanku. Aku menerima Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) sebagai tanda absah aku menjadi mahasiswa. Aku belajar sungguh-sungguh. Aku rajin membaca. Tugas-tugas aku selesaikan dengan baik dan cepat. Indeks Prestasi (IP) yang ku dapat sangat bagus. Aku sudah menceritakannya ke Ibu dulu, via telepon. Aku tahu waktu itu Ibu sangat senang dan bangganya. Tapi itu dulu, Bu. Dulu, sebelum aku melakukan hal-hal yang menjadi rutinitasku sekarang. Ini yang ingin sekali kuceritakan pada Ibu.
            Pulang dari kampus aku tidak langsung pulang atau ke perpustakaan. Aku biasanya ke bioskop, Warung Internet (Warnet), atau sekedar nongkrong-nongkrong di pinggir jalan. Aku pikir ini adalah media aktualisasi diri. Setidaknya, aku punya banyak teman. Warnet sudah menjadi seperti tempat ibadah baru bagiku, untuk agama ‘informasi’ yang juga baru. Dunia maya sudah seperti malaikat (yang dengan baik hati) mengabulkan setiap keinginanku. Semua bisa kudapatkan disini. Aku bisa membuat tugas kuliahku dengan cepat dan mudah, tidak perlu berlama-lama membaca bermacam-macam buku. Tinggal copy lalu paste. Oh ya, mungkin Ibu bingung dengan istilah-istilah ini. Sederhananya begini: aku mengambil bagian-bagian dari baju bagus yang sudah dibuat orang sebelumnya (lengan, kantong, kerah, kancing, dll), aku gabung-gabungkan, lalu aku mengakuinya sebagai buatanku dan kuserahkan ke dosen. Di internet sebenarnya banyak juga berita-berita tentang negara dan masalah sosial, seperti yang sering Mamak tanyakan kepadaku kalau ia menelpon (dan cerita-ceritanya tentang Hatta yang rajin berserikat).Tapi, aku tidak tertarik. Aku lebih suka berlama-lama di situs-situs pertemanan dan jejaring sosial, dan membahas banyak hal yang kurang penting. Itu belum terlalu buruk, Bu. Aku pernah melakukan yang lebih buruk (aku tidak berani menceritakannya di sini, takut kalau-kalau Mamak turut membaca suratku). Demikian yang aku lakukan. Aku dan sebagian teman mahasiswa-ku.
            Baju-baju kemeja yang Ibu jahitkan dahulu, kini sudah tidak lagi aku pakai. Aku malu, Bu. Teman-temanku semua memakai baju bagus lagi mahal. Semua dari merek-merek terkenal. Beberapa malah dari luar negeri. Sesekali aku pergi juga ke mall atau distribution outlet. Aku beli beberapa potong baju, jeans, sekalian sepatunya. Agak mahal memang, tapi aku mendapatkan sesuatu yang bisa membuatku bertahan: pengakuan. Aku jadi tidak merasa rikuh kalau berjalan di boulevard kampus, duduk di kelas atau  kantin. Karena kini, aku sudah sama dengan mereka: budak-budak hedonisme.
            Bila sore datang, yang selanjutnya disusul cepat oleh malam, sebenarnya adalah waktu yang tepat untuk mengulang kembali materi yang didapat di ruang kelas. Idealnya  2 SKS adalah dua jam di ruang kelas dan dua jam belajar mandiri. Aku tidak demikian, Bu. Aku ikut teman-teman mahasiswa-ku ke warung kopi, sesekali ke kafe. Ke diskotek pun aku pernah. Di sana kami bisa mengobrol berjam-jam, bahkan sampai pagi. Kami biasanya membicarakan tentang perempuan, futsal, main musik, dan semua hal yang bisa membuat bersenang-senang. Hampir mustahil pembicaraan kami menyentuh akademik ataupun fenomena sosial-kemasyarakatan. Yang mahasiswi juga demikian. Kalau Ibu mau tahu, obrolan mereka mudah ditebak  (seperti yang tertera di kaos-kaos mereka): boys, shoes, and bags. Laki-laki, sepatu, dan tas.
            Yang tidak datang ke coffe shop atau warung kopi dapat ditemui sedang berduaan dengan kekasih mereka: bercengkerama dan berlama-lama. Yang ini aku juga pernah melakukannya, Bu. Syukurnya tidak kelewat batas. Kalau Ibu pernah dengar tentang angka statistik aktivitas seksual terlarang di kalangan mahasiswa yang begitu tinggi, begitulah keadaannya. Hubungan seksual pra-nikah: diawali oleh kurangnya kemampuan menahan diri (diperparah dengan kejiwaan yang labil, konon bertambah labil sejak meninggalkan bangku sekolah dan mengantongi paspor kebebasan berperilaku). Mempunyai kekasih memang mahal, Bu. Setidaknya seperti yang diberitakan di salah satu media massa online: “Mahasiswa Yogya Lebih Suka Beli Pulsa daripada Buku”. Tidak hanya untuk tetap bisa berhubungan, memiliki kekasih berarti memberi makan satu mulut lagi. Lebih miris lagi, seperti yang diberitakan di Suara Merdeka Cyber News tertanggal 12 September 2009: “rata-rata mahasiswa membelanjakan uang Rp 1,6 juta/bulan”. Terdengar seperti liburan mewah.
            Kalau Sabtu datang, aku bertambah sibuk. Entahlah, Bu. Untuk mencuci baju saja aku tidak sempat. Baju-baju kotor aku masukkan ke laundry. Keluar langsung bersih.
            Jika Ibu bertanya, dimana tempat yang paling sepi di kampus? Jawabannya adalah perpustakaan. Sedikit sekali, Bu, mahasiswa yang berkunjung ke sana. Kalau pun ada, biasanya kami menjuluki mahasiswa itu sebagai mahasiswa K3: Kampus, Kantin, Kos-kosan (atau KKW jika “W” adalah warteg). Kalau boleh perasaanku jujur, sebenarnya inilah sejatinya domain kegiatan mahasiswa. Membaca (seharusnya) sangat penting untuk mempertajam daya analisis seorang intelektual. Dari barisan rak-rak buku di perpustakaan akan muncul topik-topik yang akan menjadi bahan di ruang-ruang diskursus, yang menjadi kegelisahan jika tidak digulirkan. Sadar, bahwa sesungguhnya kehidupan rakyat Indonesia jauh dari ideal. Huh… Aku, dan sebagian teman mahasiswa-ku, malas membaca.
            Perkuliahan monoton tanpa tanya-jawab. Ruang senat, BEM, dan PKM sepi dari suara-suara perdebatan (untuk menuju kesatuan cita-cita dan pandangan). Jika datang kewajiban kaum intelektual untuk berekasi membela rakyat dari penindasan, yang ada hanya pertunjukkan kekerasan (yang muncul dari dangkalnya analisa terhadap problematika). Maklum, dasar tindakan kami terkadang hanya berasal dari diskusi warung kopi yang dihembuskan oleh orang-orang berkepentingan. Sebenarnya, aku lebih suka ‘mempertunjukkan kekerasan’ kalau menyangkut masalah perempuan. Mahasiswi jurusan-ku, fakultas-ku, universitas-ku digoda oleh mahasiswa jurusan, fakultas, atau universitas lain. Tidak jarang karena masalah “senggolan” saja kami turun ke jalan, perang dengan kampus lain. Mahasiswa, terkadang bisa menjadi Mahadewa yang tak pernah salah.
            Dari ceritaku tadi, akhirnya Ibu mengerti: mengapa aku sering-sering mengirim pesan meminta tambahan kiriman. Aku pikir, aku lebih seperti menodong Ibu dengan senjata semi-otomatis bermerek “kuliah”. Aku (sejenak) lupa, betapa kerasnya Ibu siang dan malam mencari uang untuk membiayai kuliahku. Aku terlalu kalap memaknai kehidupan perkotaan yang ternyata penuh dengan kepura-puraan.
            Ibu, akhir-akhir ini aku ingat lagi lagu itu. “Basabalah Mande mananti, di batu tagak nantikan denai”3 demikian selalu terngiang-ngiang di otak kecilku. Aku rindu pada Ibu. Aku rindu kampung halaman. Tapi, rasanya tidak juga. Tidak sebesar itu. Rindu berarti memiliki keinginan yang kuat. Rindu berarti rela berkorban dan menjadi pesakitan. Energi rindu semestinya bekerja dua arah, seperti orang main bulu tangkis. Saling memberi agar permainan berlangsung menyenangkan. Itu yang aku tidak lakukan. Aku terlalu ber-asyik masyuk dengan semua hal yang berbau pengkhianatan: aku mengkhianati cita-cita Ibu, Mamak, juga orang-orang di kampung. Apa aku masih pantas berucap “rindu”? Rasanya kurang.
            Ibu, aku mohon Ibu bisa bertahan sebentar lagi. Kalau perlu Ibu lawan waktu. Aku sudah selesai dengan semua ini. Aku ingin berubah. Aku mau menjadi anak yang pantas berucap rindu pada Ibu. Tak ingin seperti Malin Kundang.

1Merantau bujang (pemuda) dahulu, di rumah belum berguna (pepatah adat Minangkabau)
2Saudara laki-laki Ibu, yang secara adat ditugasi membimbing kemenakan (keponakan)
Bersabarlah Ibu menanti, berdiri di atas batu nantikan aku (lagu Minangkabau)


Disusun oleh:
Pambayun Kendi Pratolo
Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro



:: Berapa bintang yang kau beri? ::.

3 Comments

Posting Komentar

Copyright © sedetik di bulan All rights reserved. Black Sakura | Faril Lukman | Nurul Rizki | Pambayun Kendi.
Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive